Jika ada pepatah mengatakan bahwa tak ada pesta yang tak selesai itu betul. Mirna merasakannya. Mirna tidak menduga harus merasakan bersimpuh di kaki kakak perempuannya yang selama ini diremehkan dan dihina nya karena parasnya biasa dan tak secantik wajahnya. tidak menyangka kalau air matanya harus luruh dan jatuh hanya untuk menghiba agar dia bisa masuk ke rumah Miranti. Rumah yang dulu sempat dihina nya karena tak sebagus dan tak seluas rumah yang dimilikinya. "Miranti, aku mohon. Izinkan aku pulang ke rumahmu. Aku tidak tahu harus pulang ke mana." Mirna tersedu. Jurus pamungkas agar Miranti luluh. Mirna belum lupa, dulu Miranti adalah sosok penyayang dan penuh kasih. Semoga rasa itu masih tersisa walau sedikit, meski hanya setitik bagi Mirna, Itu cukup untuk membuat dirinya bisa m

