Sudah tiba di café. Langkahnya terhenti kala melihat Yara yang tengah berbincang dengan lelaki itu membuat senyum yang sedari merekah di bibirnya lantas luntur. Ia melangkahkan kakinya dengan pelan seraya mendengarkan semua obrolan itu dengan intens. “Dokumennya sudah oke, sudah lengkap. Terima kasih, Mbak Yara. Sudah menyempatkan waktunya untuk berbincang.” Yara kemudian menerbitkan senyumnya. “Sama-sama, Pak Samuel. Semoga projeknya goal ya, Pak.” “Aamiin. Eum! Saya boleh minta kontak Anda? Jaga-jaga nanti kalau Pak Marcel tidak bisa dihubungi, bisa langsung kabari Anda saja.” Yara kemudian menarik napasnya lalu meringis pelan. ‘Duh! Kira-kira Reiner bakal nyusul ke sini nggak, yaa? Kalau dia nggak nyusul, aku gak mau pulang dulu. Ya udahlah, kasih aja. Ngarep banget Reiner jemput k

