"Tar, aku pengen deh kayak kamu. Bisa dilihat Bara, diajak ngobrol sama Bara kayak yang aku lihat akhir-akhir ini. Sekalinya aku bisa ngobrol sama Bara, pasti dia nanyain kamu. Nanyain gimana kamu—"
"Hel, bisa nggak sih, sehari aja kamu nggak bahas Bara?"
Helmi menggeleng cepat. "Nggak bisa dong, Tar. Kamu tuh harus tahu kalau Bara itu mirip sama aktor Korea. Terus, ya, dia juga youtuber. Dan kamu tahu nggak, Tar?" Helmi memukul-mukul meja, seolah-olah apa yang akan dikatakan selanjutnya adalah berita paling menarik. "Dia sekarang jadi barista di salah satu kedai kopi jalan Braga. Pokoknya sehabis ini aku mau ke sana, kamu mau ikut nggak. Tar?"
Mentari ingat pertemuannya dengan Bara saat malam Minggu di kedai kopi jalan Braga. Dia mengangkat alis menatap Helmi yang sudah berdiri dan selesai memakai sepatunya.
"Sampai segitunya kamu tahu. Ngefans atau gimana?" tanya Mentari yang masih mengikat tali sepatunya. Mereka baru saja melakukan praktikum di laboratorium Kimia. Dan selama di laboratorium, telinga Mentari rasanya panas mendengar Helmi terus bercerita mengenai Bara padahal sudah tertangkap basah oleh Bara yang mendengarkannya. Respons Bara tidak terkejut sama sekali, justru dia hanya tersenyum membuat Helmi semakin tidak keruan.
"Tar, aku ini selalu cerita sama kamu, lho. Masa kamu nggak pernah dengarkan. Jelaslah aku ngefans, aku suka sama dia. Kan udah kubilang kalau dia mirip aktor Korea."
Mentari sudah menyelesaikan ikatan tali pada sepatunya. Dia berdiri dan menemukan Bara ternyata baru saja keluar dari laboratorium bersama Taryo. Mentari melirik Helmi yang hanya tersenyum lebar kepada Bara.
"Masih belum selesai juga ngomongin Bara?" Taryo geleng-geleng kepala melihat Helmi yang menggaruk kepalanya. "Sekali-kali ngomongin kekaguman kamu sama aku dong, Hel."
Helmi berlagak ingin muntah membuat Bara tertawa. Bara melihat Mentari yang sudah selesai mengikat tali sepatunya. "Hai," ucap Bara, tapi tidak dihiraukan oleh Mentari.
Tanpa mengatakan apa-apa, Mentari berlalu begitu saja meninggalkan Helmi yang menggerutu kesal karena ditinggalkan. Helmi mengejar Mentari dengan wajah masam. Bibirnya maju beberapa senti.
"Tuh, kan, aku bilang juga apa kalau aku pengen jadi kamu, Tar. Disapa hai sama Bara 'kan mau juga."
"Bilang langsung aja ke orangnya." balas Mentari acuh tak acuh.
"Kamu yang disapa hai, aku yang baper tahu!" Helmi masih menggerutu sepanjang jalan menuju kelas. Sedangkan Mentari memilih untuk tidak menanggapinya lagi. Percuma saja menanggapi Helmi tidak akan pernah ada habisnya.
Mereka sudah sampai di kelas dan sekarang Helmi diam. Mungkin dia lelah karena dua jam pelajaran tadi dihabiskan dengan banyak bercerita tentang Bara.
"Tari, kamu dipanggil Pak Didi." Norman—ketua kelas Mentari menghampirinya ketika Mentari baru saja duduk.
"Ada apa?" tanya Mentari, tapi Norman menggeleng tidak tahu dan berlalu pergi.
"Pak Didi?" tanya Helmi memastikan pendengarannya. "Kamu dipanggil Pak Didi? Ngapain?" Mentari hanya menggeleng karena dia juga tidak tahu. "Mau aku temenin ke ruang guru?" tawar Helmi membuat Mentari menggeleng lagi.
Mentari memang selalu menolak Helmi untuk mengantarnya ke toilet atau ke ruang guru. Namun, Helmi tetap saja menawarkan jasa antarnya pada Mentari. Meski Mentari banyak mendiamkan Helmi dan tidak memedulikannya, tapi Helmi tetap saja ingin berteman dengan Mentari. Mentari juga heran, seperti apa Helmi sebenarnya?
***
"Bapak panggil saya?" Mentari sudah sampai di meja Pak Didi. Ada beberapa murid yang berdiri di meja guru senior itu entah sedang ada urusan apa. Sebenarnya Mentari juga tidak tahu mengapa Pak Didi memanggilnya, padahal Mentari tidak diajar oleh beliau. Mentari juga yakin Pak Didi tidak akan mengenali wajahnya. Sebenarnya Mentari sedang malas, apalagi ketika dia membuka pintu, Mentari mendapati Pandu yang baru saja keluar dari ruang guru. Tatapan mereka bertemu dan Pandu hanya mengangkat alis ketika Mentari menatapnya.
Melihat Pak Didi memicingkan mata seraya membenarkan letak kacamatanya membuat Mentari tersadar bahwa yang dia yakini benar—Pak Didi pasti tidak mengenalinya. Lalu, mengapa Pak Didi harus memanggil Mentari?
"Saya Mentari, Pak. Katanya Bapak panggil saya. Ada apa, Pak?"
"Oh, Mentari?" tanya Pak Didi memastikan membuat beberapa murid yang berdiri di samping Mentari jadi ikut menoleh. Tipikal murid pendiam seperti Mentari pasti akan sulit dikenali oleh guru. Ditambah lagi, Pak Didi juga tidak mengajar materi di kelas Mentari. Jelas tidak akan tahu. "Nah, sudah kumpul semua, ya."
Mentari mengerutkan kening, dia menunggu Pak Didi selesai berbicara. "Berhubung kalian semua sudah ada di sini, Bapak mau tanya apa benar kalian suka menggambar dan melukis?"
Kerutan di dahi Mentari semakin terlihat jelas. Darimana Pak Didi tahu jika Mentari suka menggambar. Beberapa murid di sebelah Mentari mengangguk, tapi hanya dia saja yang diam membuat Pak Didi menoleh menunggu jawaban Mentari.
"Kalau kamu?" Mentari mengangguk dengan ragu. "Bapak sudah dapat informasi mengenai kalian yang memang suka dunia gambar. Bapak senang karena jarang sekali, ya, anak-anak milenial sekarang bisa unjuk bakatnya masing-masing."
Mentari benar-benar tidak tahu arah pembicaraan Pak Didi. Terlebih lagi melihat tiga orang di samping Mentari yang ternyata juga suka dunia gambar. Mentari tidak kenal dengan mereka, tidak tahu namanya meski beberapa wajahnya cukup familiar.
"Jadi, Bapak kumpulkan kalian semua untuk mengajak kalian lomba seni menggambar. Lombanya bulan depan, tapi Bapak harus sudah punya kandidat siapa saja yang nanti akan Bapak daftarkan untuk ikut lomba melukis."
Ah, pantas saja Mentari baru ingat jika Pak Didi adalah salah satu guru seni di sekolahnya. Hanya saja Pak Didi tidak mengajar di kelas Mentari. "Nah, kalian bertiga diajar sama Bapak." ujar Pak Didi kepada tiga murid di sebelah Mentari. Dua laki-laki, satu perempuan. "Kalau kamu ... mentari, ya? Mentari 'kan nggak diajar sama Bapak, ya? Tapi sama Bu Keke, dan kebetulan minggu kemarin Bu Keke sudah ambil cuti karena akan melahirkan. Jadi, mulai minggu ini kelas kamu juga akan diajar sama Bapak."
Mentari hanya bisa mengangguk, meski sebenarnya banyak pertanyaan di kepalanya. Dia bingung mengapa Pak Didi bisa tahu nama Mentari padahal beliau saja tidak mengenalnya.
"Nanti Bapak akan infokan lebih lanjut lagi. Tapi, kalian mau, ya, jadi kandidat untuk lomba mewakili sekolah bulan depan?"
"Saya mau, Pak."
"Saya juga, Pak.
Mereka sudah setuju, lalu Pak Didi kembali melihat ke arah Mentari yang hanya diam saja. "Kamu mau 'kan?"
"Saya ... saya nggak bisa, Pak. Saya bisa menggambar, tapi masih belajar sedikit-sedikit." Mentari memaksakan senyumnya. Bagaimanapun juga, dia harus bisa menghormati Pak Didi sebagai guru di sekolahnya.
"Lho, justru itu kamu bisa cari pengalaman untuk belajar lagi. Ini juga 'kan baru seleksi, kamu ikut ya biar nanti Bapak pilih kandidat yang fix kalau sudah seleksi."
"Tapi, Pak—"
"Sudah, dicoba dulu saja. Ini kesempatan, kalau bisa menang hadiahnya juga sertifikat dan medali. Kalau bisa lanjut ke tahap berikutnya lebih bagus, apalagi kalau sampai nasional bahkan internasional. Waduh, bisa sampai kuliah di luar negeri, lho!"
Mentari menggaruk pelipisnya, tersenyum canggung karena tidak tahu harus bersikap seperti apa. Mentari memilih untuk diam saja ketika Pak Didi meneruskan pembicaraannya.
"Nanti Bapak kasih info untuk seleksinya, ya. Kalian harus ikut karena sudah Bapak pilih. Mungkin itu aja ya, sekarang kalian boleh ke kelas masing-masing."
Bukannya kembali ke kelas, Mentari masih berdiri di meja Pak Didi ketika murid yang lain sudah keluar. "Pak, maaf saya mau tanya, kenapa Bapak pilih saya juga, ya?"
"Bapak direkomendasikan sama Pandu, ketua OSIS, kamu pasti tahu dia 'kan? Nah, Bapak meminta Pandu untuk merekomendasikannya dan ada nama kamu."
Jadi, ini semua Pandu yang mempromosikannya? Mentari sungguh tidak habis pikir, bisa-bisanya Pandu terlalu jauh mengusik ketenangan Mentari. Mau apalagi dia? Belum cukupkah membuat ketenangan Mentari akhir-akhir ini jadi kacau?
***