Keesokan harinya, Vega sudah berdandan rapi dengan sehelai map di tangannya. Ia mampir sebentar ke rumah Andi untuk mencetak surat lamaran. Karena sahabatnya kebetulan sedang ada urusan klub di kampusnya di ITB yang searah dengan alamat agensi SPG tersebut, Andi juga menawarkan untuk mengantarnya.
Lumayan, bisa hemat ongkos, pikir Vega.
Ia tidak memberi tahu Andi bahwa uangnya sudah sangat menipis, tetapi entah kenapa pemuda itu seperti tahu bahwa Vega sedang kesulitan keuangan. Ia malah sempat-sempatnya mentraktir Vega sarapan di depan ruko tempat agensi tersebut berada, sebelum kemudian melanjutkan perjalanan ke kampusnya.
Di lantai satu ruko tersebut, telah duduk manis beberapa puluh gadis cantik dengan map berisi surat lamaran di tangan mereka. Seketika Vega menjadi tidak percaya diri. Bagaimana kalau ia tidak dipilih? Setahunya agensi ini hanya membutuhkan dua orang, tetapi yang melamar banyak sekali.
Setahunya, upah SPG sekarang masih di angka seratus ribu rupiah per hari. Mungkin karena upah yang mereka tawarkan ini termasuk di atas rata-rata, maka banyak gadis yang melamar. Dengan resah, ia duduk di antara para pelamar lainnya. Berharap keberuntungan kali ini berpihak kepadanya.
"Selamat pagi, nama saya Dina. Silakan perkenalkan diri dulu dan pengalaman kerja kamu sebelum ini," kata seorang wanita berusia 40-an yang menerima Vega di ruangan wawancara.
Dengan ramah Vega menceritakan siapa dirinya dan beberapa pekerjaan SPG yang pernah ia lakukan sebelumnya. Wanita itu mengangguk-angguk dan tampak puas melihat penampilan Vega yang sangat menarik.
"Hmm.. kami menawarkan gaji harian cukup tinggi karena kebetulan proyek kali ini adalah proyek mobile ke 10 kabupaten di Jawa Barat. Jadi kami membutuhkan dua SPG ekstra karena SPG kami yang lainnya sedang penuh dengan job mengerjakan proyek promosi produk lain. Jadi tujuan kita adalah Banjaran, Garut, Majalaya, Soreang, Tasik.. dan lain-lain." Bu Dina menyebutkan nama beberapa lokasi lainnya yang membuat Vega menelan ludah. Lokasi kerjanya jauh-jauh...
"Apakah kita berkeliling ke semua lokasi itu sekaligus atau pulang pergi dari Bandung, Bu?" tanya Vega, berusaha memastikan.
"Kita tidak menyediakan hotel untuk proyek ini, jadi kita akan berangkat jam 4 pagi dari Bandung, agar kita bisa tiba di kota tujuan jam 8, menyiapkan acara promo, lalu pulang kembali pada sore harinya. Perkiraan kita tiba kembali di Bandung jam 10 malam. Apa kamu sanggup?"
Vega segera menghitung di kepalanya. Kalau setiap hari ia harus datang ke tempat ini pukul 4 pagi, maka ia harus bangun jam 3. Ia baru akan tiba kembali di rumah pukul 11 malam. Artinya ia hanya akan menikmati tidur 4 jam setiap malam selama 10 hari berturut-turut.
Berat sekali.
"Saya bersedia, Bu. Kalau Bu Dina mau menerima saya menjadi bagian dari tim promosi proyek ini, saya akan bekerja sebaik-baiknya." Vega tersenyum dan mengangguk.
"Bagus. Saya senang dengan orang yang pekerja keras. Kamu saya terima. Nanti kamu turun ke lantai satu dan ketemu Linda, dia akan memberikan seragam untuk proyek kita. Kita mulai bekerja hari Sabtu subuh ya..."
Bu Dina mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Vega dengan senyum ramah. Gadis itu senang sekali. Ia tidak mengira wawancara kerjanya berlangsung sangat mudah dan ia mendapatkan pekerjaan ini.
Walaupun jam kerjanya sangat panjang, ia bersyukur diberi kesempatan untuk bergabung. Sepuluh hari lagi ia akan punya uang lumayan. Pikirannya yang kusut sebelum ini perlahan mulai terasa ringan. Setelah proyek ini selesai, ia akan memikirkan cara lain untuk mendapatkan uang.
Dengan wajah cerah gadis itu meninggalkan kantor agensi. Hmm... sebenarnya dari sini ke ITB tidak terlalu jauh, pikirnya.
Ia memutuskan untuk berjalan kaki ke kampus ITB untuk bertemu dengan Andi. Ia masih punya sedikit uang. Ia ingin mentraktir Andi makan bakso karena telah membantu mencetak surat lamarannya dan tadi mengantarnya ke tempat wawancara. "Heii.. bagaimana wawancaranya?" tanya Andi begitu ia melihat Vega di depan gerbang kampus ITB. Ia menoleh ke arah teman-teman kelasnya yang berjalan bersamanya. "Aku duluan, ya."
Tanpa menunggu jawaban mereka ia menghampiri Vega dan merangkul bahunya dan mengajak Vega belok ke kiri. Teman-temannya tampak keheranan melihat sikap Andi dan saling menggerutu sendiri.
"Lah.. si Andi sengaja ya, nggak mau kenalin cewek cantik. Maunya disimpan sendiri," omel seorang mahasiswa berambut acak-acakan dan kemeja bermotif kotak-kotak.
"Sengaja dia..." balas temannya yang berambut gimbal.
Anak-anak Seni Rupa ITB memang terkenal banyak yang nyentrik. Penampilan mereka ada yang ajaib maupun seenaknya. Seperti teman-teman Andi sekarang ini. Ada yang tampak seperti pengemis yang sudah berbulan-bulan tidak mandi; ada yang terlihat seperti musisi rock tahun 80'an dengan rambut gondrong dan celana jeans ketat; ada juga yang terlihat seperti dukun dengan rambut acak-acakan, gelang akar bahar dan baju serba hitam.
Menurut Vega, Andi adalah pengecualian. Penampilannya selalu rapi dan bersih, dan ia terlihat seperti karyawan bank.. atau marketing kartu kredit.. atau malah orang yang sedang menawarkan produk MLM, selalu tampak modis dan rapi. Mungkin karena ibunya yang selalu mendidik Andi dan kakaknya untuk selalu memperhatikan penampilan.
Kak Sarah, kakak Andi yang kuliah di jurusan Akuntansi sering bekerja sebagai SPG dan kadang-kadang menjadi model amatir untuk produk fashion sebuah departemen store. Andi kadang-kadang mendapatkan tawaran untuk difoto bersama kakaknya dalam katalog pakaian. Penampilannya di dalam katalog dan dalam kehidupan sehari-hari tidak jauh berbeda.
"Aku diterima," kata Vega dengan gembira. "Terima kasih ya, karena tadi sudah diantar Sekarang aku traktir kamu makan bakso, deh. Kita sudah lama nggak ngobrol."
"Wahh!! Asyik!" Dengan gembira Andi menarik tangan Vega ke sebuah kios bakso di ujung jalan Ganesha dan masuk ke dalam. "Di sini baksonya lumayan. Harganya juga pas di kantong mahasiswa."
Mereka berdua lalu makan bakso bersama sambil mengobrol tentang kuliah masing-masing. Andi adalah sahabat Vega yang paling lama. Mereka dulu sebangku saat SMP dan Andilah yang menolong Vega ketika gadis itu terusir dari rumahnya yang disita bank dengan meminta orang tuanya menampung Vega.
Ia juga yang menggerakkan teman-teman mereka untuk menyumbang agar Vega dapat melanjutkan pendidikannya ke SMA. Kalau dulu sudah ada segala program semacam GoFundMe atau KitaBisa, pasti Andi sudah membuatnya untuk Vega dan membantu gadis itu bertahan.
Dalam hidup ini, Vega tidak mempunyai keinginan yang muluk-muluk. Ia hanya ingin suatu hari nanti menjadi orang yang berhasil dalam hidup, dan membalas semua kebaikan Andi tiga kali lipat. Untuk itulah ia berusaha keras untuk tetap bertahan kuliah, mendapatkan nilai sebaik mungkin dan mengajukan beasiswa.
Nanti setelah lulus, ia akan melamar pekerjaan yang bagus dan mendapatkan gaji besar. Suatu hari nanti... ya, suatu hari nanti, ia akan membeli kembali rumah orang tuanya yang kini sudah dijual bank kepada orang asing.
"Jadi, kau bakal bolos kuliah selama sepuluh hari kau ikut kerja SPG ini?" tanya Andi keheranan. "Terus, gimana dengan absennya?"
"Kan, boleh bolos maksimal tiga kali. Ada beberapa mata kuliah yang sudah bolos sekali dan nanti dengan ini akan menjadi tiga. Masih bisa, kok..." jawab Vega.
"Ini kan masih tengah semester, Vega. Kalau sekarang kau sudah bolos tiga kali.. bagaimana kalau nanti kau benar-benar tidak bisa kuliah karena sakit atau apa? Nanti kau bisa gagal di mata kuliahmu," kata Andi menasihati Vega. "Kalau mata kuliah ada yang gagal, kau harus mengulangnya tahun depan. Bukankah ini akan membuang waktumu?"
"Uhmm..." Vega menghela napas. "Aku tidak punya pilihan. Pekerjaan yang ini gajinya bagus, dan hanya sepuluh hari."
Ia tidak dapat memberi tahu Andi bahwa ia sudah benar-benar tidak memiliki uang bahkan untuk ongkos naik bus ke kampus. Pekerjaan ini adalah satu-satunya jalan keluarnya untuk mendapatkan uang dengan cepat.
"Kau nggak punya teman untuk titip absen?" tanya Andi lagi. "Lebih baik titip absen daripada bolos."
"Uhm... bisa sih, titip absen untuk mata kuliah umum, karena kelasnya digabung dengan kelas jurusan lain, jadi orangnya banyak. Dosennya nggak mungkin mengabsen satu-satu. Tapi untuk mata kuliah jurusan... agak susah. Karena hanya ada 40 mahasiswa di kelas dan dosennya kenal kami semua," Vega menggeleng sedih. Ia tahu diri. Tidak mungkin bisa lolos menitip absen di kelas Pak Rune misalnya. Dosen sadis itu akan langsung tahu.
"Ya sudah, kalau begitu.. pokoknya kau jangan pernah bolos lagi. Ingat, beasiswa tidak akan diberikan kalau pada nilai semester satumu ada mata kuliah yang gagal," Andi mengingatkan.
Vega mengangguk. "Aku mengerti."
Mereka hanya dapat mengobrol sebentar dan menghabiskan baksonya dengan cepat karena Vega harus pergi ke toko dan bekerja menjaga toko untuk shift siang.
"Biar aku yang traktir," kata Andi buru-buru ketika melihat Vega akan mengeluarkan dompetnya untuk membayar makanan mereka. "Itung-itung untuk merayakan kau dapat pekerjaan baru."
"Lho... kan aku yang seharusnya mentraktirmu kalau aku yang dapat kerja," cetus Vega keheranan.
"Sudahlah. Nanti saja traktir aku kalau kau sudah gajian. Beliin pizza, ya," kata Andi sambil tertawa. Ia segera bangkit dan menyerahkan uang kepada pemilik kios bakso dan menarik tangan Vega keluar. "Aku antar ke toko, ya.. sekalian aku mau ketemu Lisa."
"Oh, oke. Terima kasih, Andi..." kata Vega sambil tersenyum lebar.
Ia mengikuti Andi kembali ke area kampus ITB dan mengambil vespa pemuda itu di tempat parkir. Lisa adalah teman SMA mereka. Orang tuanya adalah pemilik toko tempat Vega sekarang bekerja sambilan. Dari dulu Vega mengira Andi menyukai Lisa. Pemuda itu memang sering mencari alasan untuk datang ke toko bertemu gadis itu.