11. Serangga Kecil

1142 Kata
Tidak tau mengapa hari ini kediaman istana terlihat ramai. Lebih ramai dari hari kemarin. Zuna tidak diperbolehkan keluar dari ruangan mengingat sebentar lagi pernikahannya terlaksana. Bukan Zuna namanya kalau tahan berada di kamar seharian. Walau dia begitu menyayangi kamar mewahnya, tapi tetap saja, Zuna masih butuh udara segar dan mencari suasana baru. "Aku bosan!" Tukasnya kesal dan hendak keluar dari kamar, namun pintu kamar malah dikunci dari luar. Dia tau siapa yang menguncinya. Memangnya siapa lagi kalau bukan yang terhormat, yang mulia, Pangeran Jake. Zuna melirik taman yang berada di balkonnya. Kemudian terpikir untuk kabur darisana. Zuna menggeleng, dia tidak ingin kabur, hanya ingin menghirup udara segar. Bosan dikamar terus. Zuna menggeser pintu dan nampaklah taman yang indah, taman yang membuat Zuna betah ketika malam-malam berhadapan langsung dengan, bulan. "Katanya, taman ini terhubung dengan kamar pangeran aneh itu? Tapi aku tidak pernah melihat apapun selain semak-semak?" Gumam Zuna pelan. Dia melangkah semakin masuk kedalam, dan ketika melihat sebuah jalan kecil. Zuna menghela nafas, dia kembali melangkah untuk mendekati lorong kecil tersebut. "Apa yang kau lakukan disini?" Zuna tersentak ketika mendengar suara yang begitu familiar. "Pa-pangeran?" Tanya Zuna memastikan, sebelum dia benar-benar menengok kebelakang. "Mencoba kabur?" Tebak pria itu. Ketika Zuna berbalik, wanita itu menghela nafas karena tebakannya benar. Pangeran aneh itu sedang berdiri di belakangnya. "Tidak, siapa bilang aku ingin kabur?" Jake berdecak, "Gelagatmu sangat aneh." "Jangan berburuk sangka pangeran, aku hanya ingin menghirup udara segar. Tidak taukah kamu kalau akutuh bosan di dalam kamar terus-terusan," protes Zuna. Ketika Zuna berbalik, dia bisa melihat Pangeran Jake dengan tatapan penuh selidik kearahnya. Zuna melangkah dengan menghiraukan pria itu. Tidak ada hal yang penting saat ini selain masuk kedalam kamar dan berbaring. Monoton sekali memang, tapi itulah hadiah Tuhan untuk Zuna. Karena telah menggelandang selama hampir empat hari lamanya, jadi sekarang Zuna harus menerima nasib terkurung di dalam kamar. Tanpa Zuna sadari Pangeran Jake mengikutinya dari belakang. Hal itu membuat Zuna menghela nafas, lalu berbalik untuk melihat apa yang akan pria itu lakukan. "Kenapa mengikutiku? Bukannya ada hal yang lebih penting, yang harus anda urus, pangeran?" Tanya Zuna. Kernyitan di dahinya belum luntur sampai Pangeran Jake menjawab. Pria itu tak bergeming kemudian menghela nafas, "Aku harus memastikan kamu masuk kedalam kamar, dan tidak berkeliaran di sekitar sini." "Memangnya kenapa?" "Tidak, aku tidak ingin ada seseorang yang menyakitimu." Zuna sedikit terharu, namun pada akhirnya ucapan Pangeran Jake hanya sebagai ucapan seorang Tuan yang memastikan tahanannya, aman. "Tenang saja, aku tidak pernah mencari masalah. Tidak mungkin aku akan dicelakai secepat itu. Lagipula aku belum resmi menjadi putri mahkota, bukan?" Pria itu menatap tajam kearah Zuna, tangannya terlipat di d**a. Kemudian menggeleng pelan, sepertinya dia harus sedikit menjelaskan tentang bahayanya berada di istana. "Ketahuilah, dari kemarin. Setidaknya ada tujuh orang yang hendak meracunimu. Kalau penjaga bayangan tidak melindungimu, mungkin saja waktu itu kamu menyusul ibundaku ke surga sana." Mendengar ucapan Pangeran Jake, Zuna membulatkan matanya tidak percaya, "Jangan bercanda! Kenapa hal itu bisa terjadi?" Pangeran Jake mengendikan bahunya, "Jangan pernah meremehkan hal kecil yang ada di istana. Terutama terlalu baik dengan bantuan seseorang, karena sejatinya disini tidak ada yang memberikan bantuan secara cuma-cuma." Zuna menjadi khawatir, dia sangat sering memakan apa yang diberikan oleh mereka. Apa jangan-jangan di makanan itu ada racunnya? "Tapi melihat kamu masih hidup dan berdiri di depanku dengan sehat, berati tidak ada yang salah dengan makanan kemarin." Zuna menelan ludahnya gugup, "Kenapa aku bisa tidak sadar dengan hal itu?" Pria itu menghela nafas, "Terlalu sulit untuk dibeberkan. Yang jelas, hidup di istana tidak akan semudah itu. Banyak pasang mata yang siap menjatuhkanmu." Zuna bergidik ngeri, "Apa aku masih punya kesempatan untuk membatalkan kontrak?" "Tidak," balas Pangeran Jake datar. *** Setelah mengobrol dan menyuruh Zuna kembali ke kamar. Jake segera masuk kedalam ruangan rahasia yang ada di taman penghubung kamar mereka. Tidak ada yang tau tempat ini, bahkan Kei sekalipun. Di istana, sangat sulit untuk mempercayai seseorang. Jika kamu percaya pada seseorang yang salah, maka jangan heran jika suatu saat dia akan menusukmu dari belakang. Prinsip itu yang selalu diajarkan oleh Ayahandanya. Di depan para keluarga kerajaan, dia harus menjaga image anak yang polos dan lugu. Pada tabiatnya, dia harus menahan singa yang hendak keluar mencari mangsa, yang ada di dalam dirinya. "Bagaimana?" Tanya Pria itu dingin. "Semua sudah aman terkendali, saya hanya menemukan beberapa bubuk mesiu berserakan pada malam itu. Sepertinya banyak yang ingin mengambil wasiat atau titah Raja Alben, untuk dimusnahkan." Jake menarik satu sudut bibirnya, ternyata pelaku yang ingin dia turun tahta tidak sedikit. Melainkan lebih dari satu, kalau pelakunya adalah Aldrik, dia bisa memahami alasannya. Tapi kalau peakunya memang lebih dari satu, dan orang lain ... Maka untuk apa? "Terus pantau, jangan sampai ada yang terlewat. Kalian adalah para penjaga bayangan yang diutus ibunda untuk melindungiku. Jadi kerjakan tugas kalian dengan benar." Pria yang terdiri dari empat orang itu membungkuk, memberikan hormatnya kepada, Jake. "Pangeran, hamba ingin melaporkan sesuatu. Kemarin hamba mengawasi gerak-gerik dari Putri Mahkota. Dia terlihat mencurigakan, apa anda yakin untuk memilihnya?" Pria yang kini duduk sembari menaikan satu kakinya, memutar bolamatanya jengah. Karena tindakan itu mungkin saja dilakukan Zuna, agar tidak ketahuan oleh, Jake. "Tidak perlu, kalian tenang saja. Jangan cemaskan masalah itu. Karena aku tau apa yang menjadi pilihanku. Terus awasi kediaman perdana menteri dan juga kediaman kakakku." "Baik, perintah anda kami terima." "Kami pamit undur diri, Yang mulia." Jake mengangguk dan membiarkan keempat pria berjubah hitam tadi keluar. Setelah memastikan mereka pergi, Barulah Jake keluar dari ruangan tersebut dan kembali ke kamarnya. Keesokan paginya Jake harus pergi menghadap Ayahanda. Melaporkan bagaimana persiapan pernikahannya yang sudah hampir sembilan puluh persen itu. Tak disangka dia malah bertemu dengan sang Kakak tiri. Jake menyapa dengan hormat dan mereka berdua berhenti di lorong. "Sepertinya adikku ini sangat tidak sabar untuk menikah dengan gadis yang dia cintai." Ada nada sedikit mengejek didalamnya. Jake hanya membalas ucapan Aldrik dengan sebuah senyuman. "Apa yang membuatmu mempercepat pernikahan ini?" Nada itu berubah dingin diiringi tatapan penuh intimidasi dari, Aldrik untuk Jake. Jake masih dengan raut wajah tenang dan polos menjawab ucapan Aldrik, "Tanyakan pada Ayahanda, karena beliau yang memberi perintah untuk mempercepat pernikahan ini." "Lagipula, kakak seharusnya turut bahagia karena sebentar lagi, saya akan menikah dengan orang yang saya cintai, bukan?" Aldrik tertawa keras, "Kamu memang benar, maka dari itu, aku doakan semoga pernikahan kalian bukan penghalang untukku mengambil tahta yang seharusnya menjadi milikku." Setelah mengatakannya dengan angkuh, Aldrik segera pergi dari hadapan Jake. Sementara pria itu kini terdiam dengan sebuah smirk licik. Maaf saja, Jake yang dulu dan yang sekarang sudah berbeda. Jake kecil memang takut pada ancaman Aldrik, tapi tidak dengan Jake yang berdiri dengan tegap saat ini. ### Baca My Dearest Boy Sweet Teacher Moza Heart Innocent Husband Mute Husband Boss Needs Me Karya yang ada diatas ini, adalah karyaku guys. Silahkan jangan lupa follow akun ini juga dan tap lovenya. Terimakasih sudah menghargai karyaku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN