Melihatku menerima telepon dari gawainya, Mas Wildan seketika bertanya, “Siapa, Al?” Setelah talak itu terucap, dia kini tak lagi menyapaku dengan panggilan ‘dik,’ tetapi Al atau Alya. Ponsel itu langsung kuberikan padanya. “Hallo …” suara tenor Mas Wildan menyapa wanita itu. “Eh, Mas Wildan. Aku dah nyampe sini dari tadi pagi. Katanya kapal datang pagi. Tapi kuhubungi enggak aktif mulu hapenya.” Meski tidak di-loudspeaker, aku masih bisa mendengar dengan jelas ucapan Nely. Saking sempitnya ruangan ini. Heran juga sih kenapa Mas Wildan tidak keluar saja menjawab teleponnya. Dia malah duduk di sampingku. Di kasur ukuran single ini. “Iya telat, ombak,” jawab Mas Wildan datar. “Yang … aku jadi ‘kan ikut layarnya? Aku langsung ke pelabuhan, ya?” Rengekan Nely terdengar jelas. “Jangan

