13

1079 Kata
"Mas, itu bener acara nikahan kalian batal?" tanya Ranti begitu Azam duduk di kursi depannya. “Beneran?” ulangnya tak sabar menunggu jawaban Azam sebab ia sudah terlalu penasaran. Azam tak menggubris pertanyaan Ranti. Ia mengisi piring dengan nasi putih, tumis sawi, tempe dan tahu goreng, dan sambal terasi. “Gosip itu,” jawabnya sebelum menyuapkan nasi ke mulut. “Gosip apa?” tanya Randu yang baru duduk di sebelah Ranti. Ranti menoleh ke arah Randu. “Kata Firli, Mas Azam batalin rencana nikahan mereka.” Ranti lalu kembali menatap Azam yang terlihat santai. “Emang gimana sih ceritanya, Mas?” “Salah paham aja.” Ranti mengangkat kedua alisnya heran. “Salah paham gimana? Maksude piye, sih, Mas? Bingung aku.” “Lara, ndeng (sakit gila)!” Azam mengumpat keras saat Randu melempar tempe goreng ke wajahnya. Ia mengambilnya, lalu melempar balik ke arah Randu, tetapi meleset. “Gendeng!” “Rasakno! Makanya kalau cerita itu yang lengkap, jangan sepotong-sepotong gitu. Bikin kesel aja!” ujar Randu jengkel dan tanpa merasa bersalah.Terkadang ia geregetan dengan Azam yang terlalu irit bicara mengenai masalah pribadinya, membuat orang harus mendesak dan bertanya padanya berulang-ulang. “Iya. Mbencekno kok pancen.”[1] Dengan malas, Azam menatap dua saudaranya yang kompak dan akan terus merongrongnya sampai berhasil memperoleh informasi. Dua wajah penasaran di depannya itu terlihat lucu. Perlukah ia bercerita? Azam merasa aneh dan tidak nyaman bila harus mengumbar masalah pribadinya. Ia bukanlah Randu yang blakblakan. “Mas, ditungguin malah njegided boyo!” sentak Ranti jengkel. “Suwe-suwe tak balang gedang kok. Cremet aku.[2] Mas beneran mau batalin nikahannya? Kenapa? Mama udah seneng banget itu. Gimana coba kalau batal?” Azam menarik napas panjang. Ia menatap wajah penasaran kedua saudaranya. “Awakmu lek kesuwen, piring iki tak balangno tenan!”[3] ancam Randu tak sabar. Lirikan sengit Azam pada Randu begitu tajam, lalu berkata, “Firli salah paham aja. Dikira putusnya aku sama Tita gara-gara dia. Ngotot mau batalin. Aku iyain aja males ribut.” “Leh? Mas nggak jelasin gitu yang sebenernya?” tanya Ranti. Azam menggeleng. Ranti menepuk dahinya keras, kesal sekali kepada Azam. Meski tingginya hanya 160 dan lebih pendek daripada Azam, ingin rasanya ia melemparkan kakaknya ke Gurun Sahara agar otaknya enceran sedikit. “Biyuh! Ada gitu manusia sebodoh dia,” gumam Ranti tak percaya. Ia jadi bertanya-tanya, sewaktu hamil Azam, mamanya mengidam apa? “Astagfirullah, Zam. Penganut paham talk less do more ya gini ini. Mulut kerjaannya nyosor aja. Nggak ada akhlak kok emang kamu, Zam,” timpal Randu menggeleng-geleng heran. “Ndasmu iku!” Azam berdecak mendengar kecaman Ranti dan Randu. “Percuma. Jelasin sampai kayang nggak bakal ngaruh. Kayak nggak tahu dia aja kalian ini. Biarin aja, tunggu dia tenang.” “Iya sih ... nggak batal kan kalian nikahnya?” sahut Ranti ingin tahu. Azam menggeleng. “Nggaklah.” “Leh? Terus?” Ranti terus bertanya sampai ia mendapat jawaban yang jelas. “Nabrak lek terus. Du, entar pulang kerja sekalian jemputin tukang makan itu. Aku mau ke Pasuruan soalnya.” Azam menyudahi sarapannya, berdiri, lalu meraih tas ranselnya. Ia mencari mamanya untuk berpamitan. *** Sudah seminggu sejak pertengkaran mereka, Firli tak bertatap muka dengan Azam. Seperti ada denyut-denyut rindu di hati Firli. Ya ampun, kenapa harus muncul sekarang? Dasar rindu tidak ada akhlak, gerutunya di hati. Ingin rasanya ia mengirim pesan, tapi gengsi. Perempuan itu mendesis kesal. Ia merasa Azam tidak ada niat berjuang untuk mengubah keputusannya. Padahal, ia ingin melihat kesungguhan pria itu. Tapi ... ini kan kemauannya sendiri. Lalu, kenapa sekarang Firli berharap Azam memperjuangkan dirinya? Ah, wanita dan kelabilannya yang sering membuat para pria garuk-garuk kepala. Ia melangkah penuh semangat memasuki kediaman Azam. Tadi saat jam istirahat, Randu menelepon dan memintanya ke rumah. Tidak acara khusus hanya kumpul-kumpul seperti biasanya. Sayangnya ia tak bisa datang tepat waktu. Ruang tengah tempat mereka berkumpul tampak berantakan. Bantal-bantal berceceran. Bungkus-bungkus snack berserakan, begitu juga botol minuman. Kedatanganya tak disadari para sepupunya. Ranti fokus dengan ponselnya. lham dan Fatih bermain catur. Namun, ia tak melihat Azam di mana pun. Ranti tadi bilang bahwa pria itu sudah pulang dari Pasuruan. Setelah menggantung tas di dekat rak pajangan, Ranti menyapanya. “Udah dari tadi, Dek?” tanya Ranti menyadari kehadiran Firli. “Sini,” pinta Ranti seraya menepuk sofa kosong di sebelahnya. “Udah makan belum? Itu ada lalapan bacem Bu Ning.” Firli mengembuskan napas kuat-kuat sebelum meraih teh dalam kemasan, meneguknya hingga tandas. “Tadi sih udah ....” “Tapi?” sahut Ranti cepat. “Lapar lagi,” jawab Firli terbahak, lalu beranjak ke samping Ilham dan Fatih. “Mas Il, tahu nggak ....” “Nggak,” potong Ilham cepat. “Mampos! Pasti mau modusin itu, Il,” celetuk Randu tanpa melihat Firli. “Njir!” teriaknya ketika mendapat lemparan bantal sofa dari Firli hingga kepalanya terdorong ke depan. “Mampos!” balas Firli. Setelahnya ia mulai mengganggu Fatih, beralih ke Dina, dan Randu. Jangan harap ketenangan akan hadir jika mereka bertemu, ada saja hal kecil yang mampu membuat Randu dan Firli berdebat. Lelah berdebat karena tak ada habisnya, Firli pergi ke taman belakang mencari angin—menenangkan kegelisahan hatinya sebab tak melihat Azam. Ia menghentikan langkahnya ketika melihat Azam seperti mengusap wajah Sasa, sedangkan Sasa menatap Azam sambil menggeleng. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi bahasa tubuh mereka menyiratkan sesuatu. Firli terbelalak. Ia terhenyak saat Sasa memeluk Azam. Raganya membeku. Kakinya kaku seolah dipasung kuat-kuat. Mata pun mulai berkaca-kaca kemudian luruh sudah air mata Firli. Dadanya sakit seolah dihantam batu bertubi-tubi. Sengatan nyeri begitu kuat hingga kepalanya berdenyut hebat. Firli memejamkan mata menghalau derasnya air mata. Ia tak boleh menangis di sini dan harus secepatnya pergi. Ia menguatkan hati serta memaksa tubuhnya untuk bergerak. Setelah mengusap kasar air mata di pipinya, ia berbalik pergi. Firli memaksakan diri tersenyum, tak ingin saudara lainnya mengetahui. “Gaes, aku pulang dulu, ya,” pamit Firli tanpa melihat para sepupunya. Ia menyelempangkan kembali tas biru kotak.nya “Lho? Kok buru-buru?” Dina bertanya. “Belum malem juga.” Firli pura-pura mencari kunci motornya sambil jalan ke depan. “Besok masuk pagi, Mbak. Kepalaku juga pusing. Pulang dulu, ya.” Tidak memberi kesempatan yang pada lainnya untuk menahannya, Firli melesat cepat keluar. Sampai di teras, ia menghampiri motornya. Pandangannya kabur karena air mata membuat kunci motornya tidak pas. Saat benda pipih itu masuk ke lubang kunci, seseorang menahan tangannya. “Mas antar.” Azam mencabut kunci motor itu, lalu mengantonginya. “Nggak usah bantah. Masuk mobil!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN