"Geser!" Firli mendorong sepupu yang beda enam tahun darinya itu agar ia bisa duduk. Ia menaruh piring berisi lontong dan sate di meja pendek depannya. Setelah mendapat tempat, ia mulai menyuap lontong yang sudah disiram bumbu kacang.
"Gila ya, Dek. Jadi cewek nggak ada manis-manisnya. Main dorong kayak preman aja," protes Randu yang badannya terdorong ke tengah. Ia menoleh dan menggeleng tak percaya melihat Firli tengah menikmati lontong sate. "Itu perut apa gentong, sih? Perasaan Mas lihat abis makan mie goreng, cumi, martabak, sekarang sate lontong," decak Randu takjub, tetapi tangannya ikut bergerak mengambil satu tusuk sate dan seiris lontong. "Nggak takut gemuk apa?" Kemudian kembali meneruskan game yang sempat ia hentikan.
"Nggak. Kan aku lagi masa pertumbuhan, Mas," balas Firli cuek meneruskan makan salah satu makanan favoritnya.
Randu serta-merta mengalihkan perhatiannya dari layar kaca. Ia engamati Firli dari atas bawah. Alisnya terangkat heran setengah tertawa geli. "Pertumbuhan katanya. Sudah setinggi galah masih aja pertumbuhan. Ajur. Ajur!" seru Randu geleng-geleng. Sepupunya yang satu ini memang unik. Di saat perempuan lainnya akan malu-malu makan banyak di hadapan orang lain, Firli malah sebaliknya. Dia makan apa pun yang dimaunya. Prinsip Firli yang Randu tahu itu, kalau lapar ya makan. Titik tak ada koma.
"Sesama kang makan dilarang protes, nggak baik untuk pencernaan," sahut Firli yang kini berganti menyeruput es lemon kelapa muda. "Yang lain ke mana? Kok cuma Mas Randu sama Mas Azam," tanya Firli saat menyadari jika sepupunya yang lain tidak terlihat.
"Ranti di depan, yang lain masih otw. Lagian kamu itu, Dek, udah tahu yang lain repot, bukannya bantu malah ngejogrok di sini."
"Kan aku masih kecil, Mas. Kata Mama, anak kecil nggak boleh deket-deket kalo lagi repot."
"Dasar MSA, ngeles terus kayak bemo." Randu menyentil keras dahi Firli hingga ia menjerit.
"Sakit, Mas! Gimana, sih," sembur Firli dengan wajah cemberut. Bibirnya mencebik dan tangannya mengusap dahi. "Sampai dahiku benjol, Mas, tak tuntut ganti rugi."
"Rame aja ya. Berisik ini lho. Jadi nggak konsen main."
Perempuan bersurai panjang itu menelengkan kepalanya. Ia melihat Azam di samping Randu yang akhirnya buka suara. "Eh, kirain nggak ada orang tadi, ternyata si Om Azam." Firli terkekeh geli mendapat delikan dari sepupu paling tuanya itu. Ia menjulurkan lidah sebagai balasannya. Teringat sesuatu ia pun beranjak dari samping Randu, pindah ke samping Azam. Tangannya menggapai setoples berisi keripik kentang di meja. Dengan terampil ia membuka tutupnya dan mulai mengunyah benda tipis nan gurih itu. "Mas Zam, adiknya Mbak Tita ternyata ganteng juga, ya. Boleh tuh di PDKT-in."
Gerakan tangan Azam menekan-nekan tombol stick game berhenti. Ia menoleh Firli dengan raut tak percaya. "Adik?" Firli mengiakan dengan mengunyah keripik kentang. "Ketemu di mana emang?" tanya Azam yang sudah kembali fokus ke game.
"Mal. Waktu nonton sama temen-temen."
"Gayamu, Dek, PDKT. Mau dikemanain itu bosmu." Randu menimpali omangan Firli setelah berhasil mengalahkan Azam dengan skor 3-1.
Mendengar celetukan pria berusia tiga puluh tahun itu, bibir Firli mengerucut panjang, ekspresi parasnya menunjukkan ketidaksukaan. Sebal, itu yang kini tengah ia rasakan. "Ya nggak dikemanain, Mas, orang nggak jelas juga! Diajakin jalan, kasih perhatian, kan akunya jadi baper, Mas. Eh nggak jelas cinta apa kagak."
Terdengar tawa dari bibir dua pria yang dengan postur tubuh yang hampir sama. "Mampus!" ujar Randu dan Azam bersamaan dan semakin membuat paras ayu itu memberengut dalam.
"Awas lho, Dek, ntar kayak ninja sama vespa," timpal Dinda yang ikut bergabung duduk di samping Firli. Dua jari rampingnya mengapit irisan tipis kentang gurih kemudian mengunyahnya pelan.
"Sudah beli ninja tahu beli vespa. Sudah jatuh cinta ternyata ada punya. Syalalala uuu. Syalalala uuu.
Goyang manggg." Randu menyanyikan sebait lirik lagu yang tengah hits dengan tujuan meledek Firli. Ternyata pria tinggi itu berhasil membuat adik sepupunya itu melempar air mineral gelasan kepadanya.
Tak terima diledek oleh Randu, gadis bermata sipit itu pun membalas Randu. "Mas, ih. Awas ya kusumpahi jomlo."
"Beres. Palingan kalo nggak dapet cewek, kamu yang Mas seret ke KUA," balas Randu cengengesan. Alisnya naik turun menggoda.
Dengan berpura-pura muntah Firli menjawab ajakan Randu. "Huekk, byor! Ogah banget. Mending sama Mas Zam apa Mas Ilham. Kalo sama, Mas, itu makan hati tahu!"
"Belum tahu dia. Din, kasih tempe dia," perintah Randu sambil menunjuk Firli
"Tempenya belum mateng, Mas, pisang aja gimana?" sahut Dinda pura-pura mencari tempe.
Randu mengangguk. "Boleh, biar makin receh itu mulutnya."
"Burung kelesss receh!"
Randu, Dinda, dan Azam tertawa keras berhasil menggoda Firli. Entah mengapa Randu sangat senang melihat Firli yang marah-marah seperti itu. Tak terima menjadi korban kejahilan Randu, Firli melempar pisang s**u ke arah Randu. Pisang itu jatuh tepat mengenai wajah pria bercambang tipis tersebut, membuat Firli dan sepupu lainnya tertawa.
"Kapok!" seru mereka bertiga barengan.
Randu menarik satu lembar tisu dari kotaknya. Ia mengelap wajahnya yang lengket terkena pisang. "Dasar istri durhaka."
"Siapa istri durhaka, Ran?"
"Firli, Budhe," tunjuk Dinda cepat, alhasil ia mendapat pukulan kuat dari Firli. Bukannya marah atau merasa kesakitan, Dinda malah tertawa keras. "Asyik tuh, Budhe, kalo mereka nikah. Rumah, Budhe, bakal rame sama suara si cempreng ini." Dinda menghindar saat mengetahui niat Firli akan mencubitnya.
Astri yang tadinya berniat ke depan menemui kerabat lainnya, harus mengurungkan niatnya kala telinganya mendengar ucapan Randu. Wanita berusia 54 tahun itu pun mengambil duduk di sofa belakang Firli. "Beneran, Fir?" Astri menatap lekat Firli menunggu jawaban dari bibir tipis berpoles lipstik merah muda itu.
Gadis yang gemar makan cilok itu mengerjap bingung. Ia jengah ditatap lekat oleh Astri. Kenapa jadi serius begini? Padahal mereka hanya bercanda. "Eum itu, Budhe...." Mendadak lidahnya kaku untuk mengeluarkan kata-kata bantahan. Tangannya meremas ujung seragam kerjanya.
Merasa kasihan melihat Firli yang bingung, Azam akhirnya angkat bicara, "Bercanda, Ma. Gitu aja diseriusin."
Jawaban Azam yang menyatakan hanya bercandaan membuat Astri lesu, padahal ia berharap sekali Firli masuk ke keluarganya. "Beneran ya nggak apa-apa, Zam. Mama seneng malah," tukasnya lesu.
"Mama ini, masa iya Randu nikah sama cempreng ini. Bisa jebol ini telinga Randu," keluh Randu yang berhadiah kulit pisang di wajahnya dari Astri. "Ya Allah! Apa salah dan dosaku sayang, wajah gantengku kau anggap tong sampah!"
Maka pecahlah tawa mereka akan kelakuan konyol Randu, termasuk Astri. Wanita itu sedikit terhibur dari kecewa, tetapi tetap menyimpan harapan untuk Firli masuk ke keluarganya. "Budhe mau tanya, kalo disuruh milih. Kamu mau Mas Randu apa Mas Azam?"
Suasana yang baru saja mencair kembali membeku gara-gara pertanyaan Astri. Karena pertanyaan itu pula, Firli menjadi pusat perhatian keempat orang di sekelilingnya, membuatnya salah tingkah. Ia amati dengan intens dua wajah laki-laki yang sama-sama menarik di depannya tersebut.
"Eum. Budhe itu...."