Rembulan begitu anggun kini bersinar terang tepat di atas kepala. Tak ingin kalah dengan cahaya indah itu, aku pun menegakkan leher dan membusungkan d**a dengan satu tungkai depan memijak tanah begitu kokoh. Berhadapan dengan singgasana sang pemimpin serta manik-manik penuh binar yang dikhususkan untukku, pelan dan perlahan aku menaikkan ekorku, berderik ringan layaknya ular derik lalu berkibar-kibar bagai si jago merah yang penuh amarah yang berada di belakang tubuhku.
Genderang mulai dibunyikan. Dum, dum, dum begitu tenang seperti irama detak jantung. Bunyi genderang membuat para rubah ikut mengeluarkan lolongan begitu riuh dan semangat. Mencoba untuk menikmati debaran gugup ini aku memejamkan mata lalu menarik napas dalam dan membuangnya perlahan. Semakin lama genderang itu bertabuh semakin kencang, entah karena mengikuti detak milikku atau detak ku yang mengikutinya.
Ini waktunya.
Bintang … aku harap aku bisa menjadi kuat dan hebat dari sebelumnya.
Membuka mata aku langsung bertemu tatap dengan dia. Ryan si yellow fox. Si cepat bagai cahaya kilat.
Menari? Tidak. Aku akan membuat sebuah atraksi.
Menarik sudut bibir aku mengayunkan kepalaku begitu anggun, bergerak kanan dan kiri sangat lembut bagai dahan pohon mahoni yang tertiup angin musim semi. Ekorku mengikuti gerak kepala kini terlihat seperti kobra yang menghipnotis para mangsa.
Dum!!
Dua kaki kini ku hentakan dengan kokoh, jika Ryan adalah cahaya kilat maka aku akan menjadi cahaya api. Kobaran merah yang kuat dan tangguh, yang bisa merubah kayu menjadi abu. Merubah sikap beku menjadi butiran rindu. Dingin dan tajam tatapan kilat itu akan ku buat melebur menjadi partikel yang tak menentu. Lihat saja.
Tak peduli dengan lolongan yang semakin riuh dibunyikan, keempat tungkai hanya membawaku bergerak seperti rubah gila yang mencari bahagia. Aku bersemangat, aku bersenang-senang. Kakiku melompat-lompat bergerak ke segala arah, begitu heboh di tengah-tengah bunyi genderang dan lolongan. Langkahku kuat dan percaya diri, begitu riang sampai netraku lagi-lagi melirik Ryan yang tengah bangkit dari duduk menggigit mahkota bunga di belah moncongnya. Berjalan mendekat ke arah Hyeni sontak membuat ku menggeleng ribut dan—
Brugh!
Aku terperosok karena tiba-tiba saja tak kuat menopang tubuh, tungkai ku lemah dan kini terasa perih di bagian lutut. Dentumannya berhenti semua orang menatap bingung tak sedikit yang iba, namun dadaku masih bergemuruh heboh bahkan berbunyi dua— tiga kali lebih hebat dari sebelumnya. Entah ini efek malu atau semangat yang membara tapi aku menikmatinya. Semua menatap diam padaku, ibu berjalan ke arahku sontak membuatku menggeleng.
“Ngga, atraksi— sebentar aku akan melanjutkan.”
Perlahan aku bangkit, tidak ada rasa sakit, percayalah, semangat bagai kobaran api masih memenuhi dadaku. Aku siap melanjutkan. Ku topang tubuhku dengan satu tungkai yang tidak tergores. Perlahan-lahan lalu berdiri tegak.
“Api!” seruku sedikit tertatih ke arah kobaran itu. Memutari si jago merah perlahan lalu semakin kencang dan semakin kencang. Panas, kuat, tangguh, aku memejamkan mata kuat-kuat merasakan debaran yang semakin heboh dan semakin heboh, Aku ingin hebat, aku ingin kuat seperti api— namun bayangan Ryan dengan mahkota bunga yang kini ia gigit malah membuatku tiba-tiba merasa sesak kembali.
Jangan berikan bunga itu pada Hyeni kumohon, jangan berikan padanya kumohon.
Pompa udara semakin kencang membuat dadaku seperti ada yang tekan. Alih-alih berhenti aku malah membawa tungkai ku semakin brutal dan tak terkendali.
Brughh!
Petaka kedua baru saja terjadi. Pompa itu kini terasa terhenti dan kepalaku begitu nyeri, rasanya seperti berputar-putar setelah seekor rubah menerjang tubuhku dan kita berdua yang berguling jauh hampir menghantam pohon cemara.
Aku meringis kesakitan, tubuhku terlentang di mana satu tungkai ku yang luka kini kulihat gemetar di udara.
Ryan, si tengil yang berada di atasku kini terengah-engah, napasnya memburu menerpa wajahku, sesekali menoleh kebelakang mengibaskan ekorku dengan ekornya.
“EKORMU HAMPIR TERBAKAR BODOH!”
Bagai tersengat lebah, teriakan Ryan membuatku tersentak dan berhasil membuat dua tungkai ku gemetar hebat. Kurasakan perih di ujung ekor dan lututku kini yang mengeluarkan sedikit darah.
Benar, ujung ekorku sudah terbakar.
Mataku perih dan panas, sangat sakit sampai tak tau ingin melakukan apa. Badanku gemetar hebat dan aku sangat ketakutan.
“He-hey jangan nangis, tenanglah, tidak papa oke?” kulihat irisnya bergerak gelisah, dia panik, tapi aku jauh lebih panik. Mengalihkan tatapan darinya membuat air yang membendung kini jatuh ke tanah.
Menyadari fakta bahwa, ekorku baru saja terbakar.
“Ma-maaf,” katanya lagi sangat lembut tapi aku tak ingin melihat wajahnya. Kenapa dia minta maaf, di saat ini semua karena kecerobohanku.
“Starly ....“
“Ryan, aku membencimu.”
Dia menatap bingung, kernyitan di dahinya mulai timbul, “a-aku minta maaf, jangan menangis—“
“Aku membencimu, Ryan ini salahmu, semua ini salahmu!”
Menatap sekeliling hanya keruh yang ku dapati dan suara bisik-bisik sekitar. Mataku di penuhi cairan bening tapi membuatku tak bisa menatap fokus. Ku arahkan kepala untuk menatap langit yang gelap. Kemana bintang-bintang itu pergi?
Bintang … aku sangat membenci Ryan, aku sangat membencinya.
“Starly …”
“Pergi! Enyahlah Ryan!” sentak ku.
Lalu hening yang kami dapat. Hanya napas memburu dan hangat yang keluar dari pernapasan kami. Memejamkan mata kuat-kuat kini membuat bendungan di mata semakin banyak yang berjatuhan.
Kurasakan tubuh Ryan mundur dan mengambil posisi duduk di sampingku, Membuka mata kulihat ibu walau agak keruh, ibu kini datang ke arah ku dan Ryan. Belum sampai langkahnya ke arah kami tiba-tiba saja suara gemuruh dari dalam hutan berbunyi membuat beberapa kawanan memekik kuat dan memejamkan matanya rapat-rapat. Termasuk aku dan juga Ryan.
“Ada apa?”
“Suara apa?”
“Itu apa?”
Gemuruh dari dalam hutan berbunyi lagi membuat kawanan dipenuhi rasa cemas. Baru kali ini kami mendengar suara gemuruh itu selama kami tinggal di Cyberis Land.
Semua rubah menoleh ke sana ke mari, Ryan pun ikut menatap waspada akan sekitar. Foxioz mengerti bunyi alam yang berbahaya. Lolongan kecil mulai disuarakan oleh beberapa ekor rubah di sahuti oleh rubah lain, memberi tanda bahwa setiap rubah harus tetap siaga.
Ryan melolong kecil di depan ku, lalu menatap sekeliling. Keningnya berkerut, dan dia mulai mengeram. Membuat tungkai ku semakin tak tenang dan terus saja bergetar.
Aku belum beranjak dari posisi terlentang kini menatap langit yang mulai terlihat jelas. Tungkai ku yang masih gemetar ku ayunkan untuk menghapus bendungan air di mata membuat mataku fokus.
“Bintangnya …,” bisikku pada Ryan.
Ryan menatapku lalu menatap langit. Bersama-sama kita melihat satu gemerlap cantik yang semakin lama semakin terlihat membesar.
“Bintangnya bakalan jatuh," kataku lagi.
Kita berdua sama-sama terbuai dengan keindahan benda langit itu sampai suara teriakan ibu berbunyi nyaring membuat seluruh kawanan lari ketar-ketir.
“STARLY LARI!”
Terkejut. Sadar akan posisi yang tidak memungkinkan untuk bergerak leluasa, dan tubuh yang masih terasa sakit dan nyeri di beberapa bagian aku menggapai tungkai Ryan hendak meminta bantuan.
DUMMM!!!
Namun bunyi benturan tebing dengan bongkahan besar sebesar induk beruang madu yang datang dari langit itu membuat kita memekik panik, berhamburan tak karuan. Suara gemuruh dari dalam hutan yang sempat terdengar tadi juga semakin terdengar jelas, bahwa suara itu adalah geraman dari makhluk pemakan daging mengerikan. Beberapa mulai menapakkan diri terlihat lapar dengan gigi-gigi taring di penuhi liur di sisi-sisi moncongnya.
Bintang jatuh yang berbenturan dengan tebing juga membuat tanah kami bergetar hebat, meloloskan beberapa batang pohon besar yang tumbang dan masuk ke kawasan kami. Pohon tumbang itu yang membuat tanaman rambat dan semak-semak yang menutupi rumah kami berlubang lebar, membuat kawanan pemakan daging mengerikan itu berlomba-lomba untuk masuk ke dalamnya.
Satu batang pohon membelah tatapan ibu padaku, Ryan mendorong-dorong tungkai ku membantu berdiri tegak. Perlahan aku menggapai pijakan yang baik. Kini sudah berdiri walau begitu kesusahan.
Sebelum batang itu menghalangi tatapan ibu padaku, aku sempat melihat gerombolan pemakan daging mengerikan itu berada di belakang tubuh ibu dengan jumlah yang banyak.
Ingin meraih dan memanjat batang pohon yang menghalangi kami, namun tak sampai, aku tak bisa bergerak menyeimbangkan diri. Ekorku yang ujungnya terbakar masih terkulai lemas dan lututku masih bergetar tak bisa bergerak seperti yang kuinginkan. Terpincang-pincang aku berinisiatif untuk memutar batang pohon itu.
“Starly! Starly!” itu suara ibu.
“IBU!!” teriakku.
“Sayang, ibu akan menyelamatkan bayi-bayi rubah! Menjauh lah dari area sini!”
Aku menggeleng, terus membawa tungkai ku yang tertatih hendak mengitari batang pohon ini, namun Ryan tiba-tiba saja menghalangi. Dia turun dari pohon itu kini terlihat khawatir.
“Aku akan menolong ibumu, kumohon berlari ke arah sana,” Ryan mendorong tubuhku untuk menjauh dari lapangan. Arah sana yang dimaksud adalah gapura dahan lebar yang tidak terdeteksi kawanan pemakan daging mengerikan.
“Ryan, ibuku …,” sorot ku kini menatap ekor ibu yang berlari kencang ke rumah bayi-bayi rubah serta dua ekor pemakan daging mengerikan yang mengikutinya.
Aku lemas dan ketakutan, walau ibu begitu lincah dan larinya cukup kencang namun di sana ibu sedang dikejar, aku ingin menolong ibu, namun Ryan segera menghalangi pergerakan ku.
“Ibuku sedang dikejar hewan-hewan itu, bagaimana sekarang?” aku sangat panik. Ekor ku yang perih dan terkulai lemas sedang terseok-seok mengikuti langkah kakiku yang tak beraturan. Aku ingin mengejar mereka dan menolong ibu. Tubuhku semakin bergetar, aku tak ingin di sana terjadi sesuatu namun keadaan memang tidak mendukungku.
Aku menatap Ryan penuh harap. Aku ingin menangis di hadapannya. Ryan berbalik menatapku. Netranya yang kecoklatan kini terlihat lebih pekat dan hitam.
“Ryan …”
Rubah jantan itu menjatuhkan kepalanya di atas kepalaku, menggeseknya lembut lalu beralih menggesekkan lehernya ke leherku, pelukan Ryan sangat hangat, cepat dia tarik kembali tubuhnya dari tubuhku lalu menatap lagi lebih dalam. “Starly, pergilah dari sini.”
Aku menggeleng, “aku ingin pergi dengan ibuku,” tertatih aku ingin mengejar mereka.
“Starly, dengar aku ya, ibumu akan baik-baik saja, aku yang akan menjaminnya.”
“Ryan, aku ingin bersama ibuku, apapun yang terjadi aku ingin di dekat ibuku, ayo kita kejar dan bantu ibuku, hm? Aku mohon?”
Ryan menggeleng cepat, “tidak bisa, Starly kamu harus pergi dari sini, aku janji, aku janji bakal jemput, Pohon kembar mahoni di dekat air terjun, manjat lah tinggi-tinggi di pohon itu.”
Iris Ryan bergetar hebat, aku dan dia sama-sama ketakutan.
“Ibuku?”
Ryan mengangguk pelan. Dia berlalu bagai cahaya kilat langsung mengejar ibuku.
Aku terisak dan ketakutan, “Tapi Ryan … aku gak bisa manjat pohon, sulit, ekorku sedang luka.”
Percuma, rintihanku sudah tidak bisa didengar olehnya. Ryan sudah berlalu, ibuku sudah masuk ke dalam rumah-rumah bayi, dan Ryan mengikuti dua hewan ganas itu dan mengejar ibuku.
“Ryan bagaimana sekarang, kakiku sakit," lirihku begitu payah. Berjalan mundur menghindari pergelutan kawanan liar dengan kawanan kami. Mataku masih fokus menyorot pergerakan Ryan, sampai dia berbalik dan menatapku dari kejauhan.
“Starly, kamu gadis kuat dan hebat!” Dari jauh aku mendengar Ryan berteriak. “bertahanlah!”