17. Lembah Hitam

1811 Kata
“Ini satu-satunya lembah hitam yang pernah aku temui, lembah hitam dari pohon eboni, walaupun daunnya berwarna hijau tapi kayu dan akarnya yang berwarna hitam membuat sekeliling menjadi sedikit gelap, lihat ke sana, Starly!” Ryan menunjuk cahaya matahari yang berhasil masuk di sela-sela ranting dan dedaunan dari pohon Eboni. Kami sudah masuk ke dalam lembah hitam. Keadaan di dalam memang cukup gelap, pohon-pohon eboni berjarak dekat antara satu pohon dengan pohon yang lain membuat kanan dan kiri jalur yang kami lewati gelap dan pengap. Dedaunan pohon eboni pun sangat lebat, dan Chio benar, kita bisa melihat cahaya matahari jika beruntung. Cahaya yang ditunjuk Ryan adalah salah satu keberuntungan itu, angin di atas pohon sangat kencang membuat ranting bergerak-gerak dan cahaya sedikit demi sedikit mulai membantu pengelihatan. Jalurnya penuh dengan dedaunan kering, karena memang jalur ini sepertinya sangat jarang dilewati oleh kawanan lain. Dan ku yakin pasti ada alasan kenapa Pemimpin Gunn menjadikan kawasan lembah hitam sebagai tempat latihan untuk anggota Foxioz. Selain hitam dan gelap, pasti ada alasan lain untuk memacu kekuatan mereka. Cahaya yang ditunjuk Ryan membuatku melangkah cepat ke arah sana. Melajulah saat kita menemukan cahaya, begitu interuosinya sinya sebelum kami semua masuk ke dalam lembah hitam. “Baik!” ucapku langsung memijakkan kaki di tempat yang baru saja disinggahi cahaya. Ini cara agar mudah untuk masuk ke dalam lembah hitam. Rencana Ryan adalah membagi tim kami menjadi berpasang-pasangan. Satu rubah yang mahir dan sudah pernah melewati lembah hitam menuntun satu rubah lain yang belum pernah datang dan lemah dalam bertarung. Sebelum masuk, Ryan sudah membaginya dan yang lain pun sepakat dengan keputusan Si Yellow Fox. Ryan memilih untuk menuntunku, menolak bukan cara yang pantas di kondisi bahaya seperti ini. Aku menerimanya, sebenarnya sangat berat, aku ingin dituntun saja oleh Chio karena kupikir akan lebih nyaman bersama teman dibanding dengan mantan calon suami. Namun Chio dan Launa adiknya sepertinya tidak terpisahkan. Hyeni sebagai rubah betina yang tangguh memilih untuk bergantian dengan Kak Giya membawa bayi rubah. Bayi itu bernama Nuz, dia anak Kak Mark. Sementara Kak Giya akan dituntun oleh Nath. Zayn bersama Jizzy dan Chen ikut dengan Hyeni. Tak ada pilihan lain, Ryan bersamaku. Kita tidak bisa melewati lembah hitam bergerombol masuk sekaligus, selain karena gelap, lembah hitam juga memiliki jalur yang sempit. Sebelum masuk, Ryan membuat 5 garis, dan setiap kali bayangan matahari menyentuh garis yang Ryan buat di tanah, saat itulah rubah yang berpasangan harus masuk ke dalam lembah. Ryan memperhitungkan waktu masuk secara bergilir. Ryan dan aku mendapat bagian terakhir, rubah yang lain sudah masuk ke dalam, dan tak tau seberapa lama mereka akan keluar, karena memang jalurnya cukup panjang. Semua tim mengikuti interupsi dari Ryan dan pemimpin sementara itu juga memberikan intrupsi singkatnya mengenai apa yang harus dilakukan jika di dalam menemukan bahaya yang tak terduga. Semua rubah mengangguk paham dan Ryan begitu tegas dan bijaksana dalam menyikapi tim kami. Selama ini yang ku tau Ryan hanyalah anggota Foxioz yang jail dan nakal dalam barisan, dia tengil dan pengganggu, dia suka mengerjai para betina dan janda. Namun kini dia terlihat berbeda, dia sudah berubah atau memang beginilah sifatnya aku tak tahu. Aku hanya tak suka dengannya saat itu. Dia juga penuh perhatian pada kami, menginginkan keselamatan yang lebih utama dari pada hal lain. Dia hebat dan pintar, namun satu kekurangannya, dia rubah yang tidak tepat janji. “Aduh!” “Starly, hati-hati!” Ryan membantuku bangkit, akar dari pohon eboni yang menghadang jalan tak sengaja ku injak, aku tak melihatnya. “Tidak apa?” Bangkit terpincang, kurasa aku membuat luka lagi di lututku yang belum sembuh total, darahnya kurasa mengalir walaupun hanya sedikit, aku panik dan gelap sungguh membuatku semakin panik. Kalau sudah begini bagaimana cara menyembuhkan lukanya. Aku mengangguk, menjawab pertanyaan Ryan, perlahan kuangkat tungkai ku lagi agar bisa bergerak, syukurlah berhasil walau terasa perih sekali. Lembah ini cukup curam, datarannya terlalu rendah, dan semakin dalam akar yang menutupi lembah hitam semakin lebat dan bercabang. Aku dan Ryan saling bergilir untuk masuk ke celah-celahnya, mencari jalan yang tepat agar bisa keluar dengan cepat. Beruntungnya tubuhku dan Ryan memang mungil jadi mudah sekali ketika masuk ke celah akarnya. “Ku rasa di sini memang keahlianmu,” kataku tiba-tiba saja saat Ryan baru meloloskan tubuhnya dari akar kecil yang melilit di belakang sana. Ku dengar Ryan berdecih kecil, kurasa aku salah mengeluarkan pujian. Dan lihatlah betapa sombongnya dia sekarang. “Aku memang rubah yang hebat, calon—” Rubah itu menggantung kalimatnya, paham apa yang ingin dia lontarkan aku memilih diam dan tak ingin melanjutkan kata-kata itu. Kita sudah berakhir, dia bukan lagi calon suamiku. Keadaan tiba-tiba saja terasa canggung, aku terus melaju di depan tubuhnya, mencari jalan yang tepat untuk bisa keluar dengan cepat, sementara di belakang tubuhku hening. Ryan sudah tidak bersuara lagi. Menoleh ke belakang ku lihat dia diam tak bergerak, cahaya matahari yang masuk ke sela-sela dedaunan tak bisa bertahan lama, jadi kita harus bergegas sebelum angin berhenti meniup dedaunannya dan membuat lembah menjadi gelap. “Ryan, ayo, apa yang kamu tunggu!” Ryan berada tiga tungkai di belakang tubuhku, aku baru ingin masuk ke celah yang lain namun Ryan belum beranjak dari tempatnya berdiri. “Ryan!” panggilku lagi, dan rubah itu mengangguk lalu melangkah mendekat padaku. “Aku tidak sehebat yang kamu kira, Starly. Banyak yang tak bisa kulakukan. Hanya masuk di sela-sela akar pohon bukan sesuatu yang hebat. Kamu pun bisa melakukannya.” Cahaya matahari lewat di wajahnya dan aku bisa melihat raut kesedihan di sana. Keadaan menjadi canggung sekarang dan tak ada kata yang keluar dari lisan kami lagi. Memilih untuk melanjutkan perjalanan sedang kulakukan sebelum akhirnya Ryan memintaku untuk berhenti. “Ada apa?” tanyaku. “Kakimu terluka lagi, Starly, istirahat sebentar.” “Nanti saja, saat kita keluar dari sini, aku bisa menahannya.” Rubah itu mendekat, memeriksa kakiku yang terluka, darahnya tidak terlalu banyak dan sudah kering. Perihnya sudah tidak terasa lagi, namun dia meniupnya. Menjilat bagian yang lain agar bagian yang lain bersih, tak menyebabkan lukanya semakin parah. Rubah menjilat yang lain hingga naik ke bagian atas tungkai ku, berpindah ke d**a lalu membersihkan leherku. “A-aku bisa membersihkan tubuhku sendiri, Ryan,” gagapku tak mengerti mengapa Ryan terus melakukannya. “Banyak luka di lehermu, Starly, kamu habis bertarung,” ucap Ryan saat lidahnya sudah menjauh dari leherku. Pergelutan dengan hiena malam itu memang membubuhkan banyak luka di tubuhku termasuk di leher yang pernah terkena cengkraman taring tajam hiena terakhir. Ryan menjilat sisi kanan kepalaku, lalu ke sisi yang lain, kegiatan membersihkan tubuh sepertinya akan dia teruskan. “Ryan, aku bisa melakukannya sendiri.” “Bawah telinga mu sedikit tergores, apa terasa sakit?” tanyanya. Aku menggeleng karena sakitnya memang sudah tidak terasa. “Maaf Starly.” “Tidak, tidak papa, sudahlah sakitnya sudah tidak terasa lagi sekarang." “Telingamu tergores, lehermu ada bekas gigitan, lututmu terluka dan ekormu terbakar—” Arah tatapan kita berdua jatuh pada ekorku yang terkulai lemas. Segera ku sembunyikan ekorku, sungguh aku sangat malu karena terlihat buruk di depannya. Sudah tak ada yang bisa dibanggakan dari seekor penari roh bintang yang seharusnya terlihat cantik dan anggun. Terlalu buruk, tidak hanya sebagai penari bahkan sebagian seekor istri kawanan yang dihormati sekalipun. Ryan memiliki kedudukan tinggi di kawanan. Dan aku memang tak pantas jika harus berharap apapun padanya lagi. “Sudah, tidak papa, ayo kita jalan lagi,” aku membuang wajah dari hadapannya dan terus jalan ke depan. Aku tidak perlu menangis karena hal ini. Semua sudah terjadi dan aku tidak bisa kembali seperti semula. Lagipula Ryan sudah memiliki betina untuk dia ajak hidup menua bersama. Cahaya kecil di ujung mulai terlihat, warnanya jingga, karena matahari kurasa sudah akan tenggelam. Cahayanya masih sangat kecil yang ku yakin perjalanannya masih cukup panjang dan sekarang akar-akar yang menghalangi jalur kini terlihat sedikit jelas. Tak perlu menunggu angin datang lagi untuk menggoyahkan ranting dan dedaunan di atas agar matahari bisa masuk, pencahayaan dari pintu keluar lembah hitam kurasa cukup. “Apa sebentar lagi kita akan sampai ujung?" “Hm, iya lewat sini Starly.” Ryan menggigit akar pohon eboni, menariknya untuk membuka jalan dan aku bisa melewatinya. “Terima kasih.” Aku menyelinap masuk kedalam sela yang lebih besar sebelum akhirnya ditarik kebelakang oleh Ryan, membuatku terkejut. “Ada apa?” “Perhatikan langkahmu!” peringatnya. Moncong Ryan menunjuk sesuatu di bawah yang hampir saja ku injak, menyipit memfokuskan pengelihatan, terkejut bukan main, lubang besar di depan hampir saja kumasuki. “Hampir saja.” “Dijadikan tempat latihan bukan hanya sebagai simulasi bertarung dalam gelap, di sekitar sini ada beberapa lubang seperti itu kalau kamu perhatikan.” Aku mengernyit, “Kenapa pemimpin Gunn menjadikan tempat seperti ini sebagai latihan? kalian bisa terancam nyawanya.” “Sebenarnya lembah ini sudah tak berpenghuni, itu hanya lubang yang ayahku buat sebagai jebakan, kalau kamu pikir itu rumah ular tentu saja bukan, itu hanya alat untuk latihan, tidak terlalu dalam, dan kamu bisa saja masuk lalu kutarik keluar, hanya saja kakimu sekarang sedang terluka, tidak mungkin juga aku membiarkanmu jatuh ke dalam.” Aku bernapas lega, ternyata hanya jebakan yang dibuat untuk latihan. “Selain jebakan lubang ada apa lagi?” “Perhatikan ini!” Ryan mengambil batu dengan moncongnya, melemparnya ke tanah yang ditutup dengan daun eboni kering. Tak!! Sebuah akar yang ditahan dengan ranting kayu tiba-tiba saja terpental dan hampir mengenai wajahku. “Itu jebakan yang lain, jika ada makhluk lain yang menginjak daerah itu maka tuas penyangga akar pohon yang di tahan, secara otomatis akan terlepas.” Jelas Ryan membuatku takjub. Ini latihan tergila. Tidak hanya sakit ini juga bisa mengancam nyawa. Ryan dan yang lain benar-benar melakukan latihan bertarung sekaligus bertahan hidup. “Ini sangat bahaya Ryan.” “Ya, harus hati-hati.” “Apa semua rubah berhasil dalam sesi latihan ini?” tanyaku penasaran. Rubah jantan itu mengangguk, “Dari pada aku, ada yang lebih hebat ketika menyelesaikan sesi latihan yang satu ini?” “Kak Mark?” Ryan menggeleng, “Hyeni.” Oh, ternyata satu-satunya gadis di anggota Foxioz itu yang mendapat apresiasi lebih dari Ryan. Sedikit tentang Hyeni. Selain sifatnya yang memang sedikit galak, dari segi postur tubuh Hyeni memang sangat ideal dan lincah. Tungkai depan dan belakangnya terlihat kokoh dan kuat. Tingginya hampir sama dengan Ryan. Ekornya tidak terlalu panjang, dan bulunya berwarna lebih pucat. Tangguh, keren dan hebat. Itulah sebutan yang cocok untuknya. Menyainginya sungguh bukan hal yang tepat. Aku tidak akan bisa menjadi setangguh dia. Kakiku saja sangat bergetar ketika tau tempat ini penuh dengan jebakan. Tapi aku tetap harus terlihat kuat dan berani. Aku tidak boleh terlihat lemah dan payah. Segini saja bukan masalah besar untukku. Ryan dan yang lain harus tau, aku juga bukan rubah yang payah dan lemah. “Lihat! Ryan pintu keluarnya sudah kelihatan,” aku bersorak riang. Jantan itu tersenyum mengangguk. Perlahan aku berjalan, menelusup, mencari celah seorang diri tanpa bantuan Ryan, jebakannya bisa ku lihat dan berhasil ku lewati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN