-starry night-
~♥Happy-Reading♥~
.
.
.
Malam sudah larut, namun Riva masih belum mampu memejamkan mata. Pertanyaan Chelia tempo hari tentang Nadella masih membuatnya terbawa perasaan.
"Sudah hampir 6 tahun, ya, Del ...." Riva memandangi ribuan bintang yang bertaburan di langit. Angannya berkelana, jatuh pada suatu malam di masa lalu kala dirinya masih menjalani hari-hari sebagai mahasiswa.
Saat itu Nadella, Vian, dan dirinya sedang belajar bersama di rumah Arya. Mereka berempat duduk di balkon, Nadella sibuk dengan laporan praktikumnya, Vian berkutat dengan kamus kedokterannya yang super tebal, Arya yang selangkah lebih maju tengah menyusun skripsi, sedangkan Riva sedang mengerjakan kode-kode pemrograman untuk sebuah aplikasi baru.
Nadella mengamati ketiga sahabatnya, sambil tersenyum ia pun berkata, "Kalian tahu tidak bintang yang paling terang?"
Riva mengalihkan perhatian dari laptopnya. "Hmm ... bintang kejora?" jawabnya setengah bercanda.
"Kupandang langit penuh bintang bertaburan. Berkelap kelip seumpama intan berlian." Vian menyambung percakapan dengan menyanyikan lagu kanak-kanak Bintang Kejora.
"Tampak sebuah lebih terang cahayanya. Itulah bintangku bintang kejora yang indah selalu." Riva dan Nadella ikut bersenandung sampai dehaman Arya menyela.
"Bintang kejora itu sebenarnya bukan bintang, itu nama lain planet Venus!" Arya berujar serius. "Bintang yang paling terang adalah Alfa Canis Mayor, luminositasnya 25 kali dari matahari."
Riva mengerutkan dahi. "Alfa ... apa katanya tadi?" tanyanya pada Nadella dan Vian.
"Alfa Canis Mayor," ulang Arya.
"Canis Mayor? Anjing besar?" gurau Vian yang tetap ditanggapi Arya dengan serius.
"Ya, itu salah satu rasi bintang. Menggambarkan seekor anjing yang mengikuti Orion sang pemburu. Alfa Canis Mayor terletak di rasi itu. Magnitudonya sekitar -1,7. Nama lainnya bintang Sirius."
Riva, Nadella dan Arya saling berpandangan.
"Sirius?" Riva mengangkat tangan. "Oke, aku tidak paham. Yang aku tahu cuma Sirius Black," katanya lalu tertawa bersama Vian.
"Aku curiga ada mesin pencari google dalam kepalamu, Arya. Kamu selalu tahu semua hal!" lanjut Riva lagi memukul lengan Arya dengan geli.
"Benar. Arya terlalu jenius. Kata-katanya keluaran jurnal ilmiah semua!" tambah Vian.
Arya memasang wajah cemberut, "Aku tahu itu karena dulu ibuku selalu cerita!" kilahnya. Arya tidak suka bila dirinya disebut-sebut jenius. Meski kenyataan memang berkata demikian.
Nadella tertawa, apa yang dikatakan Arya dan Vian memnang benar. Bila Arya sudah angkat bicara, mendadak mereka merasa seperti sangat tidak mengetahui apa-apa.
Tiba-tiba lampu padam, dari balkon rumah Arya mereka bisa melihat panerangan satu kota yang meredup perlahan.
"Ah, skripsiku! Revisinya belum kusimpan!" Arya memekik histeris begitu laptopnya yang sedang mengisi daya spontan mati.
Riva tak kalah panik. "Baterai laptopku juga tinggal sedikit! Mana algoritmaku belum selesai!"
"Hapalanku!" keluh Arya pula. "Kenapa harus ada pemadaman lagi, sih!"
Nadella menyalakan senter ponselnya. "Kenapa kalian begitu kesal dengan pemadaman listrik?"
Riva mencebik. "Karena kita tidak bisa melakukan apa-apa tanpa cahaya, Della."
"Oh, ya?" Nadella tersenyum. "Kalau begitu coba lihat ke atas."
Serempak Riva, Arya, dan Vian mengangkasakan pandangannya.
"Wah! luar bisa!" Riva berdecak kagum memandangi ribuan bintang yang kini terlihat jelas di atas sana.
"Indah, kan?" Nadella memandang langit dengan bahagia. "Beginilah kehidupan. Saat berada di tempat yang terang, kita bisa melihat jalan dengan jelas tanpa khawatir akan terperosok ke dalam lubang. Tapi kita akan melewatkan keindahan bintang-bintang di angkasa."
Arya, Riva, dan Vian yang hanyut dalam pemandangan indah itu melenggut dan bergumam membenarkan.
"Sebaliknya saat berada di tempat gelap, kita tidak bisa melihat jalan, kita bisa tersandung kerikil ataupun jatuh ke dalam lubang. Namun kita bisa menikmati panorama langit dengan jelas seperti ini." Nadella menyambung.
Riva merangkul Nadella di sebelahnya. Sisi Nadella yang bijak dan mampu menenangkan suasana membuatnya merasa nyaman.
"Tapi bicara tentang bintang, bagiku ada tiga bintang paling terang di dunia ini," celetuk Nadella lagi.
"Tiga?"
Nadella mengangguk. "Mereka ada di sini. Di hadapanku sekarang."
"Kami?" Riva tertawa. "Hahaha ... bagaimana bisa kami?"
"Bisa." Nadella kemudian mengeluarkan tiga buah pin dari dalam ranselnya.
Riva, Arya, dan Vian masing-masing menerima satu.
"Kalian semua hebat dan bersinar seperti bintang." Nadella mengacungkan kedua jempolnya.
"Prof. Riva!" Riva menepuk dadanya dengan bangga.
"Prof. Arya!" Arya membaca tulisan di pin miliknya. "Keren! Terima kasih, Del." Arya langsung mengaitkan pin tersebut di bajunya.
"Dokter Vian?" Vian menaikkan sebelah alisnya. "Aku belum jadi dokter. Ini hanya akan menjadi beban, tahu!" kilahnya pura-pura tidak suka.
"Ini harapan sekaligus doa, Vian." Nadella tersenyum, mengabaikan perkataan Vian, ia langsung menyematkan pin tersebut di kemaja calon dokter yang selalu bersikap dingin padahal sebenarnya sangat perhatian itu.
"Punyamu mana, Del?" tanya Riva saat menyadari pin tersebut hanya untuk mereka bertiga.
"Aku tidak punya."
"Kenapa tidak?"
"Karena ... ya, tidak ingin punya saja." Nadella kembali memandang langit. Angin malam yang berhembus membelai wajahnya, menyibak sedikit anak rambutnya ke belakang. Ia menoleh pada Riva. "Sepertinya aku tidak ada waktu untuk itu."
Riva baru ingin menyanggah perkataan Nadela saat lampu kembali menyala, membuat perhatiannya teralih.
Mereka kemudian kembali pada aktivitas semula dan larut dalam tugas masing-masing.
Setelah Riva pikir kembali, ternyata ada banyak tanda-tanda sebelum kepergian Nadella. Riva seringkali dibuat menyesal karenanya. Andai ia bisa menyadari dan mencegah kecelakaan laboratorium di hari itu.
"Kak Riva belum tidur?"
Riva berbalik dan menemukan Chelia yang mengucek mata.
"Kamu terbangun, Sayang?"
Chelia mengangguk. "Aku mimpi buruk lagi, Kak."
Riva meraih Chelia. Sore tadi di perjalanan pulang bersama Rama Chelia melihat kecelakaan lalu lintas. Meski tidak parah, korban mengelurkan banyak darah dan membuat adiknya itu ketakutan sampai terbawa mimpi.
"Jangan takut, malam ini tidur sama Kak Riva, ya?" Riva menggiring Chelia masuk.
Sebenarnya waktu psikiater menyarankan agar Chelia diberi kesibukan dengan mendaftarkannya kuliah, Riva lebih memilih jurusan farmasi ketimbang kedokteran bukan hanya karena Chelia yang mudah trauma melihat orang yang terluka, namun untuk mengenang sosok Nadella juga.
Riva merapatkan gorden dengan remot otomatis. Sebelum kedua tepinya menyatu, Riva bisa melihat sebuah bintang memancarkan sinar terang di langit.
Riva meraih sebuah pin dari kotak yang di simpannya di laci nakas.
Prof. Riva.
"Della ...." Riva tersenyum samar.
Nadella mungkin tidak bisa mewujudkan mimpinya dan menjadi bintang. Namun Riva yakin, Nadella bersinar terang jauh melebihi mereka. Sebab sekarang sahabatnya itu telah menjadi bintang di surga.
☕☕☕
TBC