-Chemical Reaction-
~♥Happy-Reading♥~
.
.
.
Salah satu tempat terkutuk bagi mahasiswa farmasi adalah laboratorium Kimia. Selain materi pelajarannya yang mampu menguraikan serabut saraf otak satu per satu, ruang tersebut juga dipenuhi berbagai jenis senyawa kimia dengan hazard level yang bervariasi.
Naya merapatkan ikatan maskernya begitu memasuki laboratorium dengan aroma khas pelarut-pelarut organik tersebut. Ada 4 banjar meja yang dibagi menjadi dua bagian oleh rak-rak bahan sebagai pembatas. Naya menuju meja kelompoknya lalu menopang dagu, mengamati label pada botol-botol coklat dalam rak tersebut yang berisi informasi jenis risiko bahaya yang bisa ditimbulkan.
Dangerous for Environment. Berbahaya bagi lingkungan.
Corrosive. Merusak jaringan hidup.
Irritant. Menyebabkan resiko kesehatan jika dihirup, tertelan, dan kontak langsung dengan kulit maupun selaput lendir.
Toxic. Mengakibatkan keracunan akut maupun kronis bahkan kematian.
Flammable. Mudah terbakar.
Oxidizing. Mudah menguap dan mudah terbakar melalui reaksi oksidasi.
Explosive. Dapat memicu ledakan akibat benturan, pemanasan, pukulan, gesekan, reaksi dengan bahan kimia lain, atau karena adanya sumber percikan api.
Naya mendesah panjang begitu jam praktikum di mulai. Analisis Farmasi adalah praktikum yang terasa sangat berat baginya. Bukan perihal materi yang sulit ataupun bahan-bahan kimia yang riskan. Praktikum dengan beban dua SKS tersebut manjadi berkali-kali lipat lebih sulit karena empat orang teman kelompoknya yang bukan manusia biasa.
Ramayana Krissandy, Rafiand Dirgantara, Rafandi Cakrawala, dan Ervana Arystia alias Rama, Rafa, Rafi dan Erva. Sekumpulan makhluk yang diciptakan untuk menguji kesabaran manusia.
Erva mungkin tidak sekronik Rama atau seakut Rafa dan Rafi, namun kinerja processor di otaknya yang kadang lemot dibarengi dengan tangan ajaibnya yang selalu berhasil memecahkan peralatan laboratorium membuat Naya harus memberinya perlakuan khusus, dalam artian membatasi pekerjaannya. Bahkan membuatnya paham akan hakikat Notix yang sesungguhnya butuh waktu hampir satu jam.
Naya menggebrak meja kelompoknya kemudian meringis tertahan dalam hati. Rasa kesalnya melihat Rama, Rafa, dan Rafi yang sibuk bermain game membuatnya lupa akan hakikat ubin putih padat yang melapisi meja itu.
Rama, Rafa, dan Rafi kompak meringis kemudian menepuk-nepuk bagian meja bekas pukulan Naya.
"Uh, sakit tuh." Rafa meringis.
Rafi mengangguk. "Kasihan mejanya.
Naya berusaha menahan diri. Bila ini dalam film animasi, sudah pasti penampilannya sekarang digambarkan dengan mata berapi-api.
"Kalian ini mau praktikum atau main game, sih?!"
Rama, Rafa, dan Rafi menatap Naya sambil tersenyum. "Main game," jawab ketiganya.
Naya membanting laporannya dengan gemas. "Tolong jangan buat kesabaranku habis, ya! Asisten sedang rapat! Bantu Edward menyiapkan bahan, sana!"
Rafa dan Rafi menoleh pada ruang bahan yang sudah disesaki masing-masing dua perwakilan tiap kelompok untuk membantu Edward selaku koordinator bahan.
"Sudah banyak orang, tuh!"
"Tapi tidak ada perwakilan kelompok kita! Kalian tidak malu kalau bagian kita dikerjakan orang lain."
"Kenapa malu? Kita bahkan bersyukur." Rafa melirik Rafi yang langsung menganggukkan kepala. "Kalau orang lain bisa, kenapa harus kami."
"Dasar orang-orang tidak berguna!" Naya memutar tubuhnya dengan malas.
"Permisi." Chelia dan Cassy muncul dengan membawa kotak alat dan buku-buku mereka.
"Chelly? Cassy? Ada apa ini? Ada pertukaran pelajar antar kelompok, yah?"
"Bukan, Rama. Karena instrumen terbatas, kelompok kita dilebur untuk menghemat waktu."
"Serius?!" Naya memekik tertahan dan menyambut Chelia pun Cassy dengan suka cita.
Erva yang melihat itu hanya tersenyum kecut. Apalagi saat Rean ikut bergabung dan mulai membagi tugas. Erva sejujurnya ingin menawarkan diri untuk bekerja, namun kecerobohannya bisa membuat semua berantakan. Bisa-bisa Rama harus keluar uang lagi untuk membayar kompensasinya.
"Ke toilet yuk, Va!" Cassy menarik lengan Erva yang menunduk. Erva hanya mengangguk patuh. Lagipula kehadirannya tidak begitu berarti.
Chelia menghampiri Naya lalu menariknya menjauh. "Naya, ini ada titipan dari Gio."
Naya mengerutkan dahi begitu mendapati sebuah jepitan rambut yang diselipkan Chelia di genggamannya.
"Katanya biar rambutmu itu tidak mengganggu."
"Kembalikan saja, Chelly. Aku nggak butuh." Naya mendengus lalu kembali pada aktivitasnya mengencerkan larutan dengan labu tentukur, namun anak rambut yang ia selipkan di balik telinga terus saja terurai ke depan menghalangi pandangannya.
Naya tidak bisa berkata apa-apa lagi saat Chelia menyematkan jepitan manis pemberian Gio itu di sela-sela rambutnya.
"Bagaimana? Lebih baik, kan?"
"Sedikit." Naya menjawab cuek.
"Bilang terima kasih sama Gio, dong." Chelia menggoda Naya yang memalingkan muka.
"Buat apa? Nggak ada yang minta, juga!" Naya memutar bola matanya jenuh saat pandangannya bertemu dengan Gio. Naya sesungguhnya ingin berterima kasih, namun bersikap manis sama sekali bukan gayanya.
"Gio! Kata Naya, terima kasih banyak."
Naya mendelik pada Chelia yang mengerlingnya sambil tersenyum lebar. Terlebih saat Gio balas tersenyum dan menatapnya.
Chelia duduk di samping Naya. "Kamu pasti ingin berterima kasih pada Gio, kan?"
Naya berdecak. "Itu nggak penting, Chelly. Pokoknya lain kali jangan mau diperintah sama dia. Kuberitahu Rama kalau kamu menurut sama dia lagi."
"Dia cuma minta tolong, kok. Kemarin kan, Gio bantu kita."
Sebuah dehaman membuat Naya dan Chelia yang berbisik-bisik berbalik.
"Ada apa ini? Kok, aku merasa namaku disebut-sebut." Rama muncul di belakang mereka.
Rean yang melihat Rama kembali dengan gelas kimia kosong segera bersuara. "Etanolnya mana?"
Rama menunjuk lemari asam dengan malas. "Masih antri, tuh!"
"Itu Cindy?!" Naya hampir tidak mempercayai penglihatannya. Seorang sosialita seperti Cindy mengambil larutan kimia dengan tangannya sendiri.
"Cari perhatian sama kak Adri, tuh!" Rafa melirik tidak minat.
"Cari perhatian?"
"Iya, Chelia. Cindy itu suka sama kak Adri, asisten kita," jawab Rafi menegaskan.
Chelia hanya mengangguk, tidak ingin tahu lebih banyak perihal Cindy yang hampir saja memutuskan persahabatan mereka.
"Duh, ini warna apa sih!" Rama merengut begitu memeriksa tabung reaksinya.
Rean yang konsentrasinya terganggu sejak tadi menghela napas kasar. "Kamu lulus tes buta warna sebelum masuk ke jurusan ini, kan?"
"Lulus, lah! Masa aku ganteng-ganteng buta warna!"
"Lalu?"
Rama menyikut lengan Rean yang sedang merangkai alat. Rafa dan Rafi hanya berpandangan. Hanya Rama yang berani berbuat sesuka hati seperti itu pada Rean.
"Coba lihat!" Rama menyerahkan kertas berisi tabel rujukan pada Rean. "Hasil positif untuk tiga pengujian yang berbeda itu pink muda, pink pucat, dan pink bening. Sekarang terangkan padaku yang mana yang disebut pink muda, pink pucat, dan pink bening!"
"Blackpink sekalian!" seru Rafa dan Rafi serempak lalu membuang pandangan ke sembarang arah sambil bersiul.
Rean terdiam. Benar kata Rama. Hasil positif pengujian yang ditandai dengan perubahan warna tidak kontras memang kurang akurat.
"Ini juga, hasil positifnya kuning sampai merah bata." Rama mengangkat tabung reaksi yang warna dasarnya perpaduan warna coklat kemerahan. "Kalau warnanya coklat tidak jelas begini bagaimana? Hasilnya jadi tidak pasti, kan?"
"Kuning merah bata? Kenapa nggak kuning es mambo saja!" Rafa berdecak.
"Hijau telur asin sekalian, biar kayak Nippon paint." Rafi menambahkan.
Rean merebut tabung reaksi yang dipegang Rama. Mengguncangnya sedikit lalu menatapnya lekat-lekat. Warnanya memang sulit diidentifikasi. Lensa matanya yang berdilatasi untuk menajamkan fokus semakin melebar saat tiba-tiba lampu di laboratorium itu meredup dan padam.
Suara protes dan desahan tertahan memenuhi ruang tertutup tersebut.
Sekian detik kemudian lampu menyala, namun belum sempat mengucap syukur, para praktikan tersebut harus dikecewakan lagi dengan aliran listrik yang terputus kembali.
"Duh, siapa yang iseng sih!" Naya mengomel begitu larutannya tumpah karena tidak sengaja tersenggol.
Rafa berdiri. "Jangan-jangan ini ulah The Sash Ringing ... The Flash Singing ...."
"The ... The Fash Pinging ...." Rafi menyambung.
"The Hash Slinging Slicer!" Rama ikut berseru.
Rean hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah ketiganya lalu bergegas mengecek tanur di sudut ruangan. Alat yang disebut juga muffle furnace tersebut berfungsi untuk mengabukan bahan sehingga memiliki tempratur tinggi di atas seribu derajat celsius. Setelah tanur digunakan, suhunya harus dibiarkan turun terlebih dahulu baru kemudian dimatikan.
Rean bernapas lega saat stabilizer yang terhubung dengan tanur tersebut masih aktif, sebab pemutusan aliran listrik saat suhu di dalam tanur masih tinggi dapat memicu ledakan masif.
Sesaat setelah Rean berbalik, terdengar suara letupan keras bersamaan dengan pecahan kaca yang terlontar. Rean yang spontan merunduk, memutar kepala. Sumber dentuman tersebut berasal dari lemari asam.
Detonasi yang tercipta menghasilkan energi bertekanan tinggi yang mampu memecahkan botol-botol kaca di atas rak. Cairan-cairan yang bersifat korosif dan iritan pun tumpah berhamburan. Rama segera menarik Chelia untuk bersembunyi di tepi meja.
Suasana menjadi makin panik saat terjadi ledakan kecil berkesinambungan dari botol-botol lain yang pecah. Bau khas senyawa kimia yang saling berbaur pun memenuhi atmosfer ruangan.
Rean berpikir cepat. Ledakan beruntun dari bahan-bahan kimia tersebut tidak dapat dicegah. Hal yang bisa dilakukan hanyalah menyelamatkan diri.
"Semua pasang masker! Anak-anak perempuan silakan keluar lebih dulu!" Rean mengambil alih situasi. "Yang lain matikan semua instrumen dengan tombol power, hindari stop kontak. Hati-hati kaca dan cairan kimia!"
Rafa dan Rafi yang lupa membawa masker saling berpandangan. Rafa lekas menutup hidung dan mulut Rafi dengan telapak tangannya. Rafi pun melakukan hal yang sama untuk saudara kembarnya itu.
"Semua alat sudah dimatikan, Rean!" Rumy berseru kemudian memimpin anggotanya yang tersisa keluar ruangan.
Rean mengangguk, saat kakinya bergegas mengambil langkah seribu untuk keluar dari ruangan tersebut, ekor matanya menangkap sebuah botol coklat di sisi kanan tanur.
Aseton! Cairan yang mudah terbakar. Letupan botol paling ujung dapat menyulut cairan tersebut dan membakar stabilizator tanur. Dengan begitu, maka berakhirlah seluruh kehidupan setidaknya di lantai empat gedung laboratorium tersebut.
Napas Rean memburu. Adrenalin dan intuisinya beradu. Peluang keselamatannya hanya 50:50. Rean menatap teman-temannya yang histeris di depan pintu. Detik selanjutnya keputusannya sudah bulat.
Rean berlari sekuat tenaga. Ia meraih botol coklat berisi cairan aseton tersebut, mendekapnya erat lalu menjatuhkan badan ke samping dan merangkak menuju celah meja, bersamaan dengan bunyi letusan botol terakhir.
"Rean!" Chelia menjerit dan kembali masuk ke dalam laboratorium disusul Rama dan Erdward.
Rean muncul dari balik meja dengan penampilan kacau.
"Apa yang kamu lakukan, Brother!" Rama tak kalah paniknya. "Kamu baru saja membahayakan nyawamu sendiri!"
Rean hanya tersenyum kecil saat Rama dan Edward membantunya berdiri. "Dan aku baru saja membahayakan nyawa kita semua bila tidak melakukan ini."
"Kalian nggak apa-apa?" Naya menghampiri ketiganya dengan khawatir. Di belakangnya Gio mengekor.
"Nggak apa-apa." Rean mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan. "Sepertinya sudah aman, tapi kita harus tetap meninggalkan laboratorium ini."
Edward memapah Rean, sedang Rama dan Gio masing-masing mengawal Chelia dan Naya.
"Tolong ... tolong ...."
Langkah keenamnya terhenti saat mendengar suara rintihan. Chelia dan Naya memekik saat berbalik dan menemukan seorang perempuan dengan jas lab setengah terbakar merangkak tertatih di sudut ruangan. Rambutnya terurai berantakan menutup sebagian wajahnya. Suasana yang remang membuat sosok di baliknya sulit dikenali.
"Ya, Tuhan!" Gio tercekat begitu matanya menangkap kuku jari berwarna mencolok dari tangan yang setengah terjulur tersebut.
Cindy!
☕☕☕
TBC