-Dreamcatcher-
~♥Happy-Reading♥~
.
.
.
-Dreamcatcher-
~♥Happy-Reading♥~
.
.
.
Jam 3 dini hari seringkali diidentikkan dengan sesuatu yang mistis. Orang-orang menyebutnya Withcing Hour. Konon katanya, pada waktu tersebut sekat yang membatasi dunia hidup dan dunia mati menjadi sangat tipis, bahkan terkadang saling berbaur. Beberapa mitos pun menyakini bahwa penyebab seseorang terbangun di jam-jam tersebut adalah karena sedang diperhatikan "sesuatu" yang tak kasat mata.
Tapi untuk seorang yang mengedepankan logika seperti Arya, satu-satunya makhluk tak kasat mata yang bisa diterima akal pikirannya adalah kaum bakteri dan jasad renik. Arya menyakini sesuatu yang ghaib, Arya mengimani pencipta berikut makhluk ciptaannya yang lebih dulu diberi hak hidup sebelum manusia. Namun baginya, ada tata ruang dan pengaturan waktu yang menakrifkan kehidupan mereka.
Arya membuka mata sambil mengerang tertahan. Jam di nakas menunjukkan pukul 3 lewat beberapa menit. Sedikit menyalahi prinsipnya, Arya merasa ada yang tidak beres. Laptop dan berkas-berkasnya yang semula berantakan kini tertata rapi di atas meja. Ponsel dan tablet pc yang seingat Arya digunakannya sebelum jatuh tertidur juga tergeletak di nakas. Lebih mengejutkan lagi, separuh tubuhnya terasa keram. Seperti sedang ditindih sesuatu.
Arya pernah mendengar fenomena sleep paralysis. Dari sudut pandang medis, gejala tersebut diakibatkan oleh tumpang-tindahnya aktivitas otak yang menyebabkan tubuh tersentak dan terjaga dari tidur tahap REM alias tidur nyenyak. Keadaan setengah sadar tersebutlah yang mengakibatkan tubuh terasa kaku, napas sesak, dan kesulitan berbicara. Pikiran yang masih mengawang pun menimbulkan berbagai efek halusinasi, apalagi dipicu oleh praduga yang berkaitan dengan hal-hal supranatural.
Dengan tenang Arya berusaha sebisa mungkin merasionalkan pikiran. Terdengar suara hembusan napas teratur di sisi kirinya. Arya menengok dan menemukan Rama yang tengah terlelap dengan mendekap lengannya. Sebelah kaki adiknya itu pun melingkar memeluk badannya.
"Pantas tubuhku keram begini! Dasar anak nakal! Dia pikir aku ini bantal guling!" Arya menggerutu, namun sorot matanya tidak menampakkan itu. Hatinya dipenuhi rasa haru menyadari Rama lah yang telah membenahi kamarnya dan menyusun berkas-berkasnya. Arya pun yakin Rama yang menyangga kepalanya dengan bantal dan membalut tubuhnya dengan selimut. Karena jangankan melakukan itu, kenyataan bahwa dirinya telah melakukan hal yang dinamakan tidur saja baru Arya sadari setelah terbangun barusan.
"Ngg ...." Rama meracau dalam tidurnya. Keningnya bertautan dengan deru napas memburu. Seperti tengah bermimpi buruk.
Arya berlekas memutar tubuhnya, dengan sebelah tangannya yang satu, ia menepuk-nepuk punggung Rama dalam tempo lambat dan berirama. Arya ingat pernah melakukan hal serupa dulu sekali. Saat Rama masih anak kecil yang seringkali merengek minta ditemani tidur.
"Tenanglah, adik kecil ...." Arya menyebut Rama dengan panggilan kesayangannya dahulu sembari menyapu keringat dingin di pelipisnya.
Perlahan Rama pun mulai tenang kembali. Arya tetap menepuk-nepuk punggung adiknya itu sampai deringan ponselnya menjeda.
Bila saja bukan seseorang dari belahan bumi lain dengan zona waktu jauh berbeda, Arya sudah tentu akan mengumpat mendapat panggilan di waktu menjelang subuh tersebut.
"Selamat sore, Arya anakku."
"Selamat subuh, Ayah."
Arya mendengar tawa dari seberang. "Subuh, ya? Apa ayah mengganggu?"
"Sangat."
"Ayah hanya ada waktu menghubungi sekarang. Ayah akan pulang besok."
"Ayah akan pulang besok?!"
"Kenapa terkejut begitu? Kau sangat merindukan ayah, eh?"
Arya tidak mendengar lagi perkataan ayahnya, fokusnya beralih pada Rama yang masih terlelap memeluk lengannya.
"Arya? Kau masih di sana?"
"Ah, iya! Maaf, ayah bilang apa tadi?"
"Pulanglah ke rumah."
"Apa?!"
"Pulanglah ke rumah saat ayah datang nanti. Sehari mangkir dari pekerjaan bukan masalah besar, bukan? Atau haruskah ayah yang berkunjung ke rumahmu?"
Mendadak Arya merasa gagu. Bila bagi Rama dirinya di masa lalu seperti monster yang akan mengamuk saat diajak bicara, bagaimana dengan ayahnya yang tak tanggung-tanggung memukul dan mencambuknya dengan cemeti?
"Arya? Kau tidak akan meninggalkan pekerjaanmu, ya? Kau benar-benar anak ayah!" Arya kembali mendengar ayahnya terkekeh. "Kalau begitu ayah akan datang ke kantormu saja. Sudah dulu, lanjutkan istirahatmu, Nak."
"Tidak, ayah tunggu—"
tuut ... tuut .. tuut ...
"Ini gawat!" Arya berdecak.
"Gawat kenapa, Kak?" Rama mengucek matanya yang masih setengah terpejam.
"Rama! Kamu bangun? Aku berisik, ya?"
Rama menggeleng. "Apa yang gawat?"
"Bukan apa-apa. Ada masalah dengan kerjaanku. Itu saja."
Rama menatap Arya kesal kemudian meraih ponselnya. "Ini baru jam berapa. Istirahat lah, Kak."
Arya melongo beberapa saat sampai Rama mematikan ponselnya yang meletakkannya kembali ke nakas.
"Kamu kenapa terbangun?" tanya Arya saat Rama mengambil posisi berbaring lagi, kali ini dengan tidak memeluk lengannya.
"Aku mimpi buruk."
"Oh, ya? Dikejar hantu?"
Rama mendelik meski matanya belum bisa benar-benar membuka. "Bukan!"
"Lalu?"
"Aku bertemu ayah." Rama menenguk sebentar. "Ayahmu."
Arya terkesiap. Apa yang baru saja dikhawatirkannya ternyata mimpi buruk Rama.
"Kenapa, Kak? Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung."
"Tidak, bukan begitu. Aku mengerti apa yang kamu rasakan." Arya kemudian menarik kembali selimut yang tersingkap. "Tidurlah lagi. Nanti kubangunkan."
"Kamu nggak lanjut tidur?"
"Aku ada kerjaan. Istirahatku sudah cukup." Arya bangkit. "Serius, Rama. Jangan khawatir," tegasnya lagi melihat air muka tidak terima dari Rama yang menekuk wajah.
Arya mulai menghidupkan laptop dan kembali menyusun berkas-berkasnya. Sesekali ia melirik pada Rama yang kembali terbuai di alam mimpi. Wajahnya terlihat begitu tenang dan damai.
Arya menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyum kecil. Satu hal yang harus dilakukannya sekarang adalah menghindarkan segala mimpi buruk bagi adik kesayangannya itu.
⚛️⚛️⚛️⚛️⚛️
Online area adalah spot paling krusial bagi seorang informan seperti Gio. Akses internet yang lancar mempermudah aksinya dalam mencari informasi dan mengirim berita. Gio sengaja mengambil posisi di pojok agar statusnya tidak diketahui orang-orang yang sebagian besar menggunakan fasilitas fakultas itu untuk bermain game online ketimbang mencari referensi.
Kejadian yang menimpa Cindy adalah trending topik sekarang. Postingan Notix bertajuk "Boomerang" yang dibuat Gio mendapat ratusan like dan mencapai hampir seribu komentar hanya dalam satu jam pertama.
Karma has no deadline. Begitulah Gio mengakhiri tulisannya.
Gio menghembuskan napas sesekali sambil mendongak. Baru beberapa hari yang lalu Cindy mempermalukan Cassy di depan umum dengan membuka aib ibunya, sekarang keadaan justru berbalik. Cindy dikabarkan harus menjalani bedah plastik untuk luka bakar parah di wajahnya.
Resah dengan pikirannya sendiri, Gio me-minimize jendela sosial media yang dibukanya, beralih pada sebuah folder berisi catatan harian.
Dengan sikapnya yang supel, Gio mudah bergaul dengan siapa saja. Gio akan mencari tahu seputar hobi, hewan peliharaan, penulis favorit, sampai artis idola orang-orang yang dijadikannya target untuk mengorek informasi agar mudah menyambung obrolan. Namun hubungan mereka hanya sebatas itu. Begitu Gio memperoleh data tersebut, ia tidak akan bertindak lebih lanjut sebagai seorang teman lagi. Nongkrong, makan, ataupun belajar bersama, Gio tidak pernah melakukan itu.
Bukan tidak mau, tapi tugas sebagai informan membatasinya. Pertama, ikatan persahabatan bisa membuat hatinya lemah untuk membocorkan informasi yang berkaitan dengan mereka yang disatukan dalam lingkup kata "teman" itu, dan memang sudah sepatutnya sesama teman saling menjaga rahasia. Kedua, persahabatan membutuhkan keterbukaan dan kejujuran, yang mana Gio telah bersumpah akan menutup rapat-rapat segala apa yang diketahuinya tentang Notix.
Gio sadar akan menjadi teman yang tidak baik sehingga lebih memilih hidup soliter. Karenanya, ia tidak memiliki seseorang untuk bertukar cerita atau sekedar untuk berkeluh kesah. Satu-satunya media yang bisa menampung segala isi hati dan pikirannya adalah laptop kesayangannya yang baru lepas cicilan bulan lalu.
Gio mengetikkan segala beban, keluhan, curhatan, dan sesuatu berkesan lainnya di sana. Seperti waktu ibunya divonis menderita tuberkulosis, saat dirinya harus menanggung beban sebagai informan untuk mendapat uang tambahan, sampai di halaman terakhir yang masih setengah jadi, tentang Naya.
Walau sebelumnya Gio memandang Naya sebagai perempuan keras kepala dan cuek, Gio tidak bisa menepis rasa suka dalam dirinya. Tidak seperti orang lain yang bersikap manis di depan tetapi menusuk di belakang, Naya justru sebaliknya. Dan hal itu cukup untuk membuktikan bahwa ia melakukan dan memberikan sesuatu dengan tulus.
Gio masih ingat saat musim flu kemarin. Naya yang tidak ingin tertular virus setengah mati melarang Gio untuk mendekat, bahkan mematok jarak tidak boleh kurang dari satu meter darinya. Namun ketika rapat pengurus olimpiade Dies Natalis dimulai, Gio mendapati lilin-lilin aromaterapi buatan Naya di atas meja. Efek dekongestannya berhasil membuat Gio merasa lebih baik.
Saat Gio sibuk, Naya juga beberapa kali mengambil alih pekerjaan Gio tanpa sepengetahuannya. Gio bahkan tidak tahu ada tugas untuknya sampai ketua panitia memuji kinerjanya. Alasan Naya saat ditanya adalah karena sekedar karena kurang kerjaan, padahal Gio tahu betapa sulit mengatur waktu sebagai mahasiswa farmasi dengan tugas bertumpuk.
Gio membuka HP dan memeriksa chat.
GiordanoOktavianus~
Nay, besok setor foto buat ID card panitia ya :)
telah dibaca oleh RanayaChandrakirana
Gio mendesah. Paling tidak Naya bisa memberikan balasan dengan kata "iya" atau "oke", dengan begitu ia bisa memberi balasan lagi dengan mengirim stiker atau emoji.
Setidaknya pesanku tersampaikan, hibur Gio pada dirinya sendiri. Sebuah getar notifikasi membuatnya buru-buru mengeluarkan kembali ponsel yang dikembalikannya ke saku celana.
ErvanaArystia~
Gio, ini Erva. Maaf aku baru dapat jaringan dari wifi fakultas. Terima kasih kiriman kuenya, enak sekali!
Gio tersenyum kemudian mengetik balasan.
GiordanoOkavianus~
Sama-sama, Va. Maaf juga kemarin menjatuhkan kuemu.
Gio bersandar di kursi, menatap konstruksi tangga melingkar di atasnya. Ingatannya melayang pada kejadian kemarin sore.
Praktikum ditunda menunggu laboratorium kimia selesai direnovasi, namun absensi tetap berjalan seperti biasanya. Waktu hampir menunjukkan pukul 2 saat Gio baru menyelesaikan urusannya dengan admin utama Notix. Dengan terburu ia pun berlari menuju gedung laboratorium. Telat semenit saja tidak akan ada ampunan dari asisten.
Saat berbelok menuju koridor lantai 3, dengan sangat tidak sengaja Gio menubruk Erva yang menenteng kotak kue dari belakang. Kue cokelat beserta boksnya itupun melayang di udara, berhenti pada satu titik lalu meluncur dengan kecepatan tinggi ke bawah, mendarat mulus tepat di atas kepala prof. Attar yang sedang melintas.
Bola mata Gio hampir keluar dari rongganya begitu melihat siapa korban dari kecerobohannya di bawah sana. Gio lekas menarik Erva sesaat sebelum prof. Attar mendongak dan segera mengambil jalan memutar untuk menghindari CCTV.
"Beruntung kita nggak ketahuan!" Gio menyusap d**a dan bersandar lunglai di tembok. Ia melirik Erva yang hampir menangis.
"Maaf ya, Va. Kalau ketahuan prof. Attar, biar aku yang tanggungjawab." Gio paham Erva mungkin masih trauma dengan prof. Attar karena pernah dihukum atas kekacauan yang dibuatnya di kelas dosen killer itu.
"Gio ... hiks!"
"I-iya?
"Kueku HUEEEE ...! Itu ditraktir pak Arya!"
Untuk sejenak Gio terkesiap. Kekhawatiran Erva ternyata jauh dari dugaaannya. "Ditraktir pak Arya?"
Erva mengangguk.
Gio berujar maklum. Pak Arya adalah kakak Rama, wajar saja bila Erva dapat bagian juga.
"Itu kue paling enak yang pernah kumakan. Sisanya mau kubawa pulang untuk makan malam," tutur Erva lagi.
Gio tidak bisa tidak terenyuh. Mendadak ia merasa bersalah. Sama seperti dirinya, Erva juga mahasiswa yang hidup sederhana. Gio mengerti betul betapa bahagianya mendapat gratisan. Terlebih untuk sesuatu yang harganya tidak murah.
Dengan latar belakang kejadian itulah Gio berniat merelakan sebagian uang tabungannya untuk menggantikan kue Erva.
Bagi Gio sendiri, Erva adalah perempuan yang unik. Sifatnya yang polos dan lugu membuat Gio merasa memiliki teman yang harus dilindungi. Meski terkadang arah pembicaraannya tidak Gio pahami, Erva adalah satu-satunya orang di luar Notix yang mengetahui identitasnya, bersedia menjaga rahasianya tanpa meminta ini-itu dengan berbagai ancaman.
Bila saja Gio tidak segan pada Rean, Rama, dan Edward, Gio sudah akan menjadikan Erva teman curhat pertamanya.
"Permisi, Gio." Sebuah sapaan membuat Gio mengangkat kepala, mendapati Chelia yang tersenyum manis seperti biasanya. "Ini ada titipan foto dari Naya, katanya untuk ID card panitia."
Gio menerima foto tersebut dengan sedikit kecewa, berharap Naya yang akan datang. Mata Gio mengerling pada laptopnya yang terbuka, catatan hariannya terpampang jelas di sana. Dengan secepat kilat ia merapatkan kedua sisi komputer jinjingnya itu. Akan sangat kacau bila Chelia melihat apa yang ia tuliskan di sana.
"Eh, ada apa?" tanya Chelia terkejut dengan gerak refleks Gio.
"Bu-bukan apa-apa!" Gio tergagap.
"Bohong, Chel!" Seruan lain terdengar di balik punggung Chelia. Rafa dan Rafi muncul berbarengan.
"Apa-apaan, sih, kalian!" Kesal Gio saat dua saudara kembar itu mengambil tempat duduk di sebelah kanan dan kiri, mengapit tubuhnya. "Tugas kelompok kita sudah kalian kirim ke emailnya pak Afri?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan!" Rafa tersenyum jahil pada Gio yang memasang wajah bingung.
"Ya ampun Gio, ini siang bolong!" Rafi menambahkan.
Gio melipat dahi, tidak mengerti. "Maksud kalian apa?"
Rafa dan Rafi tertawa. "Sudah ketahuan juga, mengaku saja!"
Deg! Gio yang sangat anti dengan kata "ketahuan" mendadak terserang aritmia. Denyut jantungnya menjadi tidak beraturan. Gawat! Aku ketahuan?!
Rafa merendahkan nada bicaranya. "Kamu pasti sedang menonton film 'begitu', kan?"
"Hah?!"
"Jangan mengelak. Kamu sengaja mengambil tempat di pojok dan langsung menutup laptopmu seperti itu. Apa lagi kalau bukan menonton blue film!" tuding Rafa.
Rafi mengamini. "Btw, bagi linknya dong!"
"Link apa?! Siapa juga yang nonton film begitu?!" Gio berbalik pada Chelia yang menatapnya bingung. "Aku bersumpah, Chelia! Kamu tahu persis bagaimana tata krama sangat dijunjung tinggi di kampus kita ini."
"Kalau begitu coba buka laptopmu!" sanggah Rafa.
"Tidak bisa!"
"Kenapa tidak?!" Rafi dengan usil berusaha merebut laptop yang didekap Gio kuat-kuat.
"Wah, wah! Ada apa ini?" Rama berseru dari atas kemudian menuruni tangga dengan gesit diikuti Edward.
"Ada apa ini, Chelly? Kok, heboh?"
Tidak menjawab pertanyaan Rama, Chelia justru balik bertanya. "Rama, blue film itu apa?"
Rama dan Edward kontan melotot pada Gio, Rafa, dan Rafi.
"Apa yang kalian lakukan? Jangan racuni pikiran Chelly yang suci ini dengan hal-hal seperti itu!" Rama menggebrak meja.
Rafa dan Rafi hanya menyengir. Rafa kemudian memberi aba-aba pada Rafi lalu sejurus kemudian dua suadara kembar itu mengambil langkah seribu untuk kabur.
"Kami kirim tugas dulu!" teriak Rafa sambil mengedipkan sebelah matanya pada Gio.
Rama kemudian maju beberapa langkah, memberi Gio tatapan penuh intimidasi.
"Rama, tenang dulu! Bukan salah Gio, kok. Tadi Rafa bilang tentang itu. Aku penasaran, makanya aku bertanya."
"Jangan penasaran, Chelly. Yang seperti itu tidak baik untuk kamu tahu, nanti otakmu terkontaminasi." Rama kemudian beralih pada Gio yang refleks menelan salivanya sendiri. "Tapi kebetulan sekali ada batu Giok di sini. Kita memang mencarimu."
Edward melenggut membenarkan.
"Ada keperluan apa kalian denganku?" Gio yang berhasil mengamankan laptopnya dalam tas mencoba bersikap normal.
"Kita mau buat perhitungan."
"Perhitungan apa?"
"Yang jelas bukan perhitungan matematika dan kimia."
Edward menyikut Rama lalu duduk tepat di depan Gio. "Apa maksudmu mengirim kue pada Erva kemarin?"
"Tidak ada maksud apa-apa, kok!"
"Jangan bohong!" Rama ikut mengintrogasi.
"Rama, Edward, sudah! Jangan menekan Gio begitu." Chelia berusaha menghentikan Rama dan Edward, namun Rama menariknya dan langsung mengunci gerakannya dengan rangkulan. "Diam dulu ya Sweetheart, ini urusan antara kaum lelaki."
Chelia hanya bisa mengangguk patuh saat Rama menunduk dan menempelkan telunjuk di bibirnya.
"Jadi, Gio? Apa alasanmu?" Rama kembali angkat bicara.
Gio baru akan menjelaskan semuanya ketika ponsel di sakunya bergetar lagi.
"Sebentar." Gio membuka ponselnya dan membaca pesan yang tertera di sana. Pesan dari admin utama Notix untuk berkumpul. Cito! katanya. Jargon medis yang berarti harus dilakukan segera.
"Jangan-jangan kamu suka sama Erva, ya?" Edward mulai berspekulasi.
Fokus Gio sudah tidak berada di sana lagi. Ia buru-buru membereskan barang-barangnya lalu menyampirkan tas di pundak. "Kalian bilang apa tadi? Ah, terserahlah. Anggap saja begitu. Maaf, aku duluan. Ada urusan penting!"
Gio kemudian berlalu, meninggalkan Rama, Edward, dan Chelia dengan kalimat ambigu.
Chelia masih mencoba mencerna kata-kata Gio saat sudut matanya menangkap Naya yang mengintip di balik tembok. Chelia bersegera menghampiri, namun Naya lebih dulu membalikkan badan dan mengambil langkah.
"Si batu Giok itu main pergi saja!" rutuk Rama yang mengekor di belakang Chelia dan Naya. "Padahal aku mau tanya tentang kue yang kemarin dia beri ke Erva."
"Kenapa? Kamu masih curiga? Rean kan sudah analisis di laboratorium tadi. Aman, kok!" tukas Edward.
"Bukan begitu!"
"Lalu?"
"Chelia suka kue rasa itu. Mau kubelikan juga."
Edward terdiam beberapa saat kemudian mencegat Rama dengan menahan bahunya. "Rama, aku ingin bicara serius!"
Rama menggeliat. "Apa sih, Eddy! Jangan buat aku geli! Aku ini masih normal!"
Edward langsung melepaskan tangannya dengan kesal dan jijik. "Pikiranmu ini selalu saja menyimpang!"
Rama tertawa ringan. "Kamu ingin bicara apa?"
"Tentang Chelly." Edward berdeham sebentar. "Apa kamu menyukai Chelly?"
"Jelas! Siapa yang tidak suka Chelly," jawab Rama tanpa ragu.
"Bukan! Bukan suka yang seperti itu! Bagimu, Chelly itu sekedar teman atau lebih?"
"Teman."
Edward menghembuskan napas lega. Keresahaan sejak kemarin mulai mereda selama beberapa detik sampai Rama melanjutkan kalimatnya.
"Teman hidup."
"Rama, aku serius!"
"Aku juga serius! Chelly itu teman yang akan menjadi teman hidupku nanti," tutur Rama dengan bangga dan percaya diri. "Kenapa? Jangan bilang kamu juga suka pada Chelly?! Jangan serakah Eddy!"
Edward menggeleng. "Nggak! Aku nggak ada niat sama sekali. Aku hanya ingin ... tahu saja."
Rama memicingkan matanya. "Aku ini shipper nomor satu untuk kamu dan Cassy. Awas saja kalau kamu menikung!"
"Nggak, lah! Tenang saja!" Edward tertawa hambar, memandangi punggung Rama yang berlari mengejar Chelia kemudian merebut tas jinjing berisi buku yang dibawanya.
"Jangan bawa berat-berat, Chelly. Tidak baik untuk masa depan kita. Besok-besok pakai tas dorong saja untuk bawa buku tebal begini."
Chelia hanya mengangguk menanggapi ocehan Rama. Perhatiannya terpusat pada Naya yang terlihat sedih dan kecewa. Chelia belum menemukan kata-kata yang tepat untuk menghiburnya.
Edward yang mengamati gerak-gerik Rama pun menjadi pusing sendiri. Rama dan Rean sama-sama menaruh hati pada Chelia, dan di antara mereka berdua, Edward tidak tahu harus mendukung yang mana.
Edward kemudian menyamakan langkahnya dengan Chelia yang berjalan paling belakang.
"Ada masalah, Eddy?" tanya Chelia saat menoleh pada Edward.
Edward menggeleng. "Kamu sendiri ada masalah? Kenapa kelihatan gelisah begitu?"
"Tidak apa-apa, kok." Chelia berusaha menerbitkan seulas senyuman di wajahnya.
Baik Chelia maupun Edward kini larut dalam diam. Mereka pernah berjanji untuk saling menjaga dan menjadi dreamcatcher satu sama lain. Namun bagaimana bila ternyata mimpi indah seorang di antara mereka justru menjadi mimpi buruk bagi satu orang yang lain? Siapa yang akan menjadi dreamcatcher bagi siapa?
Saat Rean, Erva, dan Cassy bersorak-sorak memanggil dari balkon, Chelia dan Edward serempak menghela napas, melirik satu sama lain lalu ikut membalas lambaian tangan dari Cassy di atas sana.
Pandangan Chelia jatuh pada Erva sedang Edward berfokus pada Rean. Mereka mengkhawatirkan satu topik yang sama, dengan subjek yang berbeda.
☕☕☕
TBC