29. Contritio ☕

1668 Kata
-incurable disease- ~Happy-Reading♥~ . . . Seorang penggemar sains memang punya cara pandang yang berbeda dengan spesies manusia lain. Rean adalah salah satunya. Di dunia ini, mungkin hanya Rean yang menikmati hujan dengan menyaksikan tiap butiran air yang jatuh menubruk permukan sembari memikirkan persoalan tegangan antar muka yang ia pelajari di mata kuliah Farmasi Fisika, atau memperkirakan penurunan  keofesien gaya gesek yang memperkecil hambatan ban motornya yang sedang melaju menembus derasnya hujan. Rean bukan tidak ingin berteduh dan membiarkan hipotalamus mereset kenaikan suhu tubuhnya malam nanti, namun sudah terlanjur basah, ya sudah mandi sekali. Di tengah kemacetan tadi hujan mengguyur tanpa aba-aba. Ia hanya sempat menarik bag raincoat untuk melindungi laptop, ponsel, dan laporannya yang sudah mendapat ACC di dalam ranselnya. Sungguh tidak lucu bila harus menulis ulang,  bahkan untuk seorang dengan ambidexteritas sepertinya. Saat intensitas hujan makin deras, Rean membelokkan motornya di kompleks perumahan Chelia yang kebetulan searah dengan rumah Rama. Jarak pandangnya semakin berkurang, berkendara dengan keadaan seperti itu berpotensi membahayakan diri sendiri dan orang lain. Setelah sedikit kesulitan memindai sidik jari pada kotak finger print di depan gerbang rumah Chelia akibat jarinya yang basah, Rean bersegera memarkirkan motornya di garasi. Mobil Riva tidak ada di sana. Rean melirik jam tangannya sekilas, sudah jam pulang kantor, barangkali Riva lembur atau terjebak kemacetan. Pandangannya kemudian ia sapukan pada lemari sepatu di pojok teras. Tidak ada sepatu yang ia kenali di sana, baik milik Rama maupun Erva--dua orang yang paling sering menemani Chelia di rumah. Rean memilih menyandarkan dirinya pada kursi santai yang berderet di teras. Besar kemungkinan Chelia sedang sendirian di dalam dan ia tidak ingin mengganggu privasinya, apalagi dalam keadaan seperti demikian. Namun sesaat sebelum matanya terpejam, bunyi panel pintu membuat Rean tersentak dan menoleh. "Ya ampun, Rean! Sejak kapan kamu ada di sini?" Rean menegakkan duduk dan meringis tertahan. "Barusan." Bila saja titik-tiik air tidak menetes dari rambut dan pinggiran jaket Rean, Chelia tentu akan menyangsikan jawaban tersebut. Lantas ditatapnya Rean dengan khawatir. "Kamu kehujanan begini, kenapa tidak masuk?" "Sudah terlanjur basah, Chelly," balas Rean sebisa mungkin menyakinkan. Chelia memasang wajah cemberut. "Terlanjur basah, jangan dibiarkan terlanjur sakit lagi! Ayo, masuk!" Rean tidak lagi membatah dan menurut saja saat Chelia menariknya masuk. Napasnya terhela perlahan melihat Chelia langsung berlari menyusuri tangga dan kembali dengan membawa handuk dan hair dryer. Sebab ini pula ia tidak berniat mengetuk pintu. Chelia pasti akan kerepotan karenanya. "Tunggu sebentar ya, Rean. Kucarikan baju Kak Riva dulu." Tanpa sempat Rean cegah, Chelia sudah berbalik pergi setelah membuka kamar tamu untuknya. Rean melangkah masuk sembari merutuki diri karena merepotkan Chelia lagi dan lagi. Kamar tersebut sudah sering digunakannya bersama Rama dan Edward bila kebetulan mereka ada urusan dengan Riva yang tidak selesai dalam semalam. Di sebelah ada satu kamar tamu lagi, namun Erva, Naya, dan Cassy selalu  tidur berempat di kamar Chelia. Pandangan Rean langsung tertuju pada cermin yang menampilkan bayangannya dalam keadaan memprihatinkan. Wajar saja Chelia sampai sekhawatir itu. Rambutnya yang basah dan acak-acakan segera dikeringkan dengan hair dryer. "Rean ini baju--" Rean yang sementara melepas kaosnya mendongak pada Chelia yang termenung di depan pintu. Setengah detik kemudian gadis itu langsung menjerit dan membalikkan badan. Rean ikut memutar pandangan pada cermin di belakangnya. Barangkali ada hal menyeramkan di sana yang membuat Chelia ketakutan. "Kenapa, Chelly?" tegur Rean dari belakang sambil menengok pada Chelia yang menutup mata. "Ti–tidak apa-apa!" Chelia gelagapan. "I–ini pakaian Kak Riva, pakai saja sebagai baju ganti," lanjutnya masih tidak ingin menatap ke arah Rean. "Oke, terima kasih." Rean menerima setelan baju olahraga tersebut sambil tertawa dalam hati. Sisi Chelia yang satu ini selalu saja membuatnya gemas. "Aku tunggu di ruang tengah, ya." Rean mengangguk kecil dan bersegera mengganti pakaiannya. Setelah itu ia berlekas ke ruang tengah, namun tidak menjumpai Chelia di sana. "Chelly? Sedang apa?" panggil Rean pada Chelia yang rupanya ada di dapur dan sibuk di depan convection oven. "Oh, sudah selesai?" Chelia meletakkan pan dan melepas sarung tangannya. "Aku sedang memanaskan roti," jawabnya seraya menyusun roti dan dua mug berisi coklat panas di atas nampan. "Jangan repot-repot begini, Chelly!" Rean berdecak, walau sejujurnya wangi khas roti dan uap coklat panas sangat menggoda. Ia lalu meraih nampan di tangan Chelia. "Sini, biar aku yang bawa." Chelia tersenyum kecil. "Tidak, kok. Aku memang sedang ingin makan roti dan minum coklat." Rean hanya mendengus pelan lalu menyesapi coklat panasnya beberapa kali. "Enak sekali," pujinya. "Kalau masih mau nanti kubuatkan lagi." Chelia hendak meraih mug yang satu lagi, namun dompet Rean yang tergeletak di atas meja membuat atensinya teralih. "Rean, dompetmu basah!" Rean meneguk sebentar. Ia baru teringat akan dompetnya yang ikut basah karena di simpan di saku celana. "Dompet kulit begini biar tidak rusak di angin-anginkan saja sampai kering. Isinya diamankan dulu," tutur Chelia yang lebih berpengalaman dengan barang-barang dari bahan kulit. Rean mengiyakan. Dibantu Chelia ia pun mengeluarkan isi dompetnya satu persatu. Semua berjalan biasa saja sampai kemudian sebuah foto membuat Chelia membulatkan mata. Sosok Rean dengan seorang laki-laki yang identik dengannya tergambar di sana. "Re–Rean?" Chelia menatap Rean yang ikut tercengang. "Ini ... siapa?" Rean menggigit bibir dan merebut pas foto di tangan Chelia. "Bukan siapa-siapa. Lupakan, anggap saja kamu tidak pernah lihat." katanya penuh penekanan. Chelia menahan napas sejenak lalu kembali duduk di tempatnya tanpa suara. Berbagai hipotesis muncul di kepalanya, namun ia tidak mungkin memaksa Rean. Suasana mendadak canggung. Baik Chelia maupun Rean enggan bersuara. Rean melirik Chelia menunduk lalu memarahi diri. Bagaimana mungkin ia meminta Chelia dengan ingatan superiornya itu untuk melupakan sesuatu. Rean tidak pernah ingin bercerita tentang masa lalunya, namun ia tidak ada pilihan, Chelia sudah terlanjur tahu. "Maaf aku bersikap begini, Chelly." "Tidak apa-apa, Rean. Itu privasimu. Aku ke kamar dulu, ya." "Tetap di sini." Rean menahan tangan Chelia yang hendak beranjak. "Dengar ceritaku dulu. Mau?" "Tapi Rean ...." "Tidak apa-apa, duduklah lagi." Rean menghela napas lalu mulai bercerita. "Dia saudara kembarku. Kami seumuran, tapi sekarang aku empat tahun lebih tua darinya." Sorot mata Rean yang mendadak sendu membuat Chelia terhenyak. "Maksud kamu ...." "Ya. Dia sudah meninggal empat tahun yang lalu." Rean menoleh pada Chelia yang mulai berkaca-kaca. "Dia bergabung dengan geng preman sekolah yang diketuai Dandy dan meninggal sewaktu tawuran antar sekolah." Chelia menutup mulut dengan kedua tangan. Penyebab Rean dan Dandy saling bermusuhan ternyata karena perkara ini.  Chelia pun mendapat jawaban atas sikap anti Rean dengan segala kegiatan yang melibatkan massa dan turun ke jalan. "Maaf, Rean. Harusnya aku tidak menanyakan hal ini." Chelia merangkul pundak Rean yang memalingkan wajah. Rean mengerjap beberapa kali. "Tidak masalah, Chelly," katanya balas merangkul Chelia. "Siapa namanya?" "Hm?" Rean menjeda sesaat. "Sean. Namanya Sean." Sean ..., lirih Chelia dalam hati. Nama orang yang selalu disertakannya dalam doa bertambah satu lagi.  ⚛️⚛️⚛️⚛⚛ Entah sudah berapa kali Vian menarik otot-otot wajahnya membentuk senyum, membalas sapaan hangat dari orang-orang yang kebetulan berpapasan dengannya. Ceruk kecil yang terukir di pipinya membuat fokus beberapa pasang mata enggan beralih dari sana. Vian mengatupkan bibir, merelaksasikan ototnya yang sedari tadi terus berkontraksi. Sayang hal tersebut justru semakin mempertegas cetakan lesung pipinya. Beberapa jeritan histeris dari perawat dan dokter residen wanita pun kembali terdengar. "Kyaaa ...! Dokter Al manis sekali!" "Puji Tuhan, mataku terberkati!" "Aku rela jadi pasien tetap bila dokternya setampan Dokter Al!" Rasanya Vian ingin menutup telinga. Tidak di rumah sakit, tidak di fakultas, pembicaraan orang-orang tentangnya tidak jauh beda. "Dokter Al itu putra tunggal presdir, lho!" Vian langsung memasang kuping saat telinganya menangkap topik pembicaraan lain. "Dokter Al bisa dipromosikan dengan mudah menjadi kepala departemen di rumah sakit besar ini, tapi dia menolak. Katanya ingin menitih karir dari bawah. Sekarang ia fokus mengajar dan mengelola poliklinik kampus." "Pekerja keras, ya! Husband material banget! Jadi makin cinta, deh!" Cinta? Vian hampir saja tertawa. Sebegitu mudahnya orang-orang mengatasnamakan cinta. Mereka dengan mudah memuji dirinya tanpa tahu alasan pahit dibalik keputusannya itu. Langkah Vian tertahan begitu beberapa perawat berlarian dengan mendorong brankar ambulans rumah sakit diiringi petugas medis dari satuan siaga bencana. Seorang pasien dengan rebreathing mask dan perangkat alat oksigenasi terbaring lemah di sana. "Ada apa?" Vian bertanya pada seorang petugas paramedis yang ikut mengejar di belakang. "Ada kebakaran pabrik, Pak." Deg! Vian memegangi dadanya yang terasa sesak. Rasanya jutaan peluru bersarang tepat di jantungnya dalam sekali serangan. Ekor mata Vian terus mengikuti brankar yang bergerak cepat menuju IGD. Tatapannya memburam seiring dengan genangan air mata yang merebak. Untuk alasan inilah Vian trauma tinggal berlama-lama di lingkungan kerjanya sendiri. Bila bukan janjinya untuk menjadi dokter hebat, Vian yakin tidak akan bisa bertahan sejauh ini. Ingatan Vian mengembara, berhenti pada kejadiaan beberapa tahun silam kala dirinya berada dalam situasi yang sama. Mengejar brankas sambil berteriak memohon agar perempuan yang terbaring dengan dibantu alat pernapasan di sana bisa membuka mata barang sebentar saja. Mati-matian Vian menahan air matanya agar tidak tumpah. Ia menyeret kaki melangkah ke taman rumah sakit dengan separuh badan bertumpu pada dinding kaca. Rasa sakit itu kembali lagi. Saat ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana orang yang sangat disayanginya, cinta pertamanya, harus meninggalkan dunia menuju keabadian. "Vian!" Seseorang menahan lengan Vian saat dirinya hampir saja ambruk menghantam pijakan beton di pelataran. Vian menengadah, menatap pada Arya yang langsung memapahnya menuju kursi taman. Mereka memang ada janji untuk membahas perihal tes DNA Rama. "Ada apa? Apa yang terjadi?" Vian tidak lagi bisa menjawab. Tangisnya pecah. Kedua sikunya bertumpu pada lutut dengan kepala dibenamkan di antara keduanya. "Vian ... kuatkan dirimu!" Arya menepuk pundak Vian berkali-kali. Vian menegakkan punggung dan menatap Arya dengan getir. "Nadella. Della kita, Arya ...," ujarnya lirih. Arya segera merengkuh Vian. Arya paham betapa terluka sahabatnya itu. Hatinya ikut terpukul.  Dalam kehidupan ini ada banyak jenis luka. Tapi yang satu ini jelas berbeda, bukan sembarang luka. Orang-orang menyebutnya rindu. Konon katanya luka tersebut hanya bisa disembuhkan dengan sebuah pertemuan. Masalahnya terletak pada mereka yang sudah jauh pergi meninggalkan dunia. Terpisah oleh tenggang masa dan batas ruang. Maka selama perjalanan lintas dimensi masih sebatas teori, selama itu pula luka tersebut—rindu dan nestapa itu akan menjadi penyakit yang tak bisa disembuhkan. ☕☕☕ TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN