TKS - 16

2129 Kata
"Apa semua baik-baik saja di sini?" "Ya, Yang Mulia." Para pekerja di peternakan dengan ramah menyambutnya. Pandora tidak sama sekali peduli dengan aroma tidak sedap yang mengundang mual pada perutnya. "Gunakan masker Anda, Yang Mulia. Tempat ini sangat bau." "Aku tidak lupa. Ini kandang sapi." Pandora meraih masker yang Sara berikan. Memakainya. Mengganti sepatunya dengan sepasang boot cokelat tua dan bergabung setelah masuk. "Aku tidak tahu kalau ada sapi sebesar ini. Berapa ton beratnya?" "Sekitar dua sampai tiga. Kami juga merawat anak-anak sapi di kandang sebelah. Mereka tumbuh dengan sehat." Para pekerja diawasi oleh staf ahli. Pandora melihat para staf bersetelan jas ikut terjun untuk membantu. Tidak ada batasan sama sekali. Mereka saling bahu-membahu membantu satu sama lain. "Aku penasaran dengan domba di sini. Apa mereka juga pelihara angsa atau bebek?" "Yap, keduanya. Kami memisahkan kandang yang berbeda karena cenderung akan bertengkar setiap bertemu." Salah satu staf berbicara dengan malu. "Sebagian kerepotan memisahkan dua hewan yang berkelahi." "Aku mengerti." Dan benar saja. Kandang-kandang dibangun secara terpisah. Cukup memberi ruang agar bunyi bisingnya tidak bergema satu sama lain. Pandora bisa melihat angsa-angsa sedang bermain di air. Sementara para domba menyantap rumput segar di kebun. "Beberapa warga lebih menyukai pekerjaan mengurus ternak daripada pergi ke luar rumah. Sebagai penghargaan, istana memberi mereka pekerjaan. Sapi-sapi ini tentunya akan menjadi milik pribadi sesuai prosedur." Pandora tersenyum malu. "Aku baru mendengarnya. Karena peternakan di istana utama, mereka sering membagi hasil untuk warga setempat alih-alih memberikan ternak." "Itu tentu karena protokol yang berbeda. Mari, lewat sini." Staf ramah itu lagi-lagi memberi ruang agar Pandora bisa melihat domba gemuk yang saling bergerombol bersama anjing yang berbaring di sebelah pekerja. Cukup santai dan terlihat letih. Pemandangan yang bagus di hari pertamanya tiba di Cornelia. "Berapa banyak orang yang bekerja untuk istana ini?" "Aku kurang tahu yang pasti. Pekerja di lapangan dan di dalam berbeda. Aku memang ditugaskan untuk bekerja di lapangan. Sementara Nona Sara di dalam." "Berapa lama kau bekerja untuk istana ini?" "Kurang lebih empat tahun. Ini tahun keempatku. Aku belum menikah." "Aku mengerti," balas Pandora ramah. Tidak semua orang mencapai target mereka dengan pernikahan. Hanya segelintir yang menganggapnya demikian. "Tidak usah terburu-buru. Kau sepertinya menikmati pekerjaanmu di sini." "Ya, Yang Mulia. Para pekerja sangat menyenangkan. Mereka tidak bergosip satu sama lain dan cenderung terbuka. Mereka menganggap rekan sebagai keluarga baru." "Lingkungan kerja yang nyaman, benar?" Pandora meringis karena tidak merasa begitu di tempatnya yang lama. "Aku bisa memahami alasan kalian melakukannya dengan sepenuh hati." "Terima kasih pujiannya. Anda mungkin penasaran dengan ayam ternak di kandang lain?" "Tentu saja. Antar aku ke sana." *** Pandora menahan napas saat mengetuk pintu. Mendengar gumaman masuk yang lirih, dirinya bergegas mendorong daun pintu dan melihat Alaric mengobrol dengan seorang wanita. Bertubuh sedikit pendek, tetapi tampak kuat dan luwes. "Ini, Nina. Dia yang akan menjadi penjagamu mulai sekarang. Kau bisa mengandalkannya sebagai asisten pribadi kalau itu diperlukan." "Merangkap menjadi apa saja?" "Aku tidak bisa memasak, Yang Mulia." "Oh, bukan masalah. Memasak pada umumnya hanya kemampuan dasar dan bukan bawaan lahir." Pandora mengulurkan tangan, menjabat tangan Nina dengan ramah. "Aku, Pandora. Salam kenal." "Nina. Semoga aku bisa melayani Anda dengan baik." Pandora tersenyum. Sedangkan Nina membungkuk setelah urusannya selesai. Ia harus pergi dan mulai beradaptasi bersama pekerja lain. "Turmu menyenangkan?" "Aku belum berkeliling sepenuhnya. Baru bagian peternakan dan kebun. Istana ini sangat luas." "Duchess diperbolehkan mengatur ruang dan tata letak. Kau tahu itu?" tanya Alaric datar. "Kau tidak tahu. Maka dari itu, aku memberitahumu." "Aku tersanjung. Tapi penataan tempat ini sudah cukup layak. Aku tidak berniat merubahnya." Bahu Alaric terangkat naik. "Siapa tahu? Kalau kau berkenan dan mencoba merubahnya menjadi sesuai yang kau mau." Gagasan untuk menyentuh benda di rumah ini saja tidak, pikir Pandora muram. Membayangkan dia merubah beberapa hal justru akan membuat gosip baru. Dirinya hanya tidak mau meninggalkan kesan buruk pada semua orang. "Apa mereka tahu kalau aku bukan dari golongan yang sama denganmu?" "Tentu saja, tahu. Apa mereka memperlakukanmu tidak pantas?" "Mereka cukup ramah. Daripada di istana utama, di sini terasa jauh lebih menenangkan." "Istana utama hanya untuk golongan tertentu," balas Alaric datar. "Kau tidak terbiasa di sana dan berbaur. Sementara hanya pernah bekerja. Berapa bayarannya?" "Cukup untuk membuat dapur pamanku mengepul." "Bukan itu jawaban yang ingin kudengar." Pandora menghela napas panjang. "Aku tidak terbiasa menyebut nominal bayaranku. Bagiku itu cukup. Yang penting menabung untuk berjaga-jaga seandainya Paman Laito sakit." "Kau hanya memikirkan pamanmu?" "Aku tidak bisa memikirkan diriku sendiri. Paman Laito sering sakit beberapa tahun belakangan ini. Aku harus bekerja keras untuknya." "Ah, jadi itu alasannya terlalu sering absen." "Seberapa sering kau pergi ke pacuan kuda atau lapangan tembak?" "Cukup sering. Tempat terbaik sebagai pelarian adalah lapangan tembak dan pacuan kuda. Cornelia tidak punya tempat seperti itu walau ini ibukota." Pandora mengangkat alis. Berkeliling mengamati ruang kerja pribadi Alaric dengan kagum. Sebisa mungkin menahan agar binar matanya tidak mengundang perhatian pria itu. "Aku bertanya-tanya apa yang Cornelia simpan. Selama ini, aku tidak pernah pergi ke luar rumah. Ada beberapa pelayan bilang kalau gelato di sini yang terbaik." "Mereka benar. Karena mereka memakai olahan sapi asli yang berasal dari peternakan kerajaan. Itu yang membuat rasanya berbeda." "Begitu?" Hanya membayangkannya saja berhasil membuatnya senang. Pandora mungkin bisa pergi ke sana bersama Nina agar dirinya tidak dicurigai. "Lain kali aku akan mencobanya." Alaric hanya mengangguk. Sepenuhnya mengabaikan eksistensi Pandora di dalam ruangan. Selama istrinya tidak bersikap ceroboh, tidak akan ada yang perlu dicemaskan. "Kau mirip seperti ibumu. Mendiang ratu." Gerakan tangannya berhenti. Alaric menarik napas, memandang Pandora yang tiba-tiba menegang di tempatnya. Saat gadis itu bergeser, menatapnya gelisah. "Apa yang salah?" "Pergi dari ruanganku. Sekarang." Sebelum bibirnya membuka, Pandora memang perlu mundur dan menjauh. Ia menatap Alaric cemas sekali lagi, dan melesat pergi menjauhi ruangan secepat mungkin. *** "Nina." "Halo, selamat pagi." "Selamat pagi." Ketika Pandora bangun, dia melihat Nina berdiri di depan pintu kamar. Sementara Pandora harus turun. Menjalani hari pertamanya sebagai seorang Duchess dengan setumpuk pekerjaan baru. "Sarapan sudah siap?" "Sudah. Anda sedang ditunggu." "Ah, aku bangun terlambat." Nina hanya memberi reaksi singkat. Dan Pandora harus menahan malu karena bangun terlambat. Setelah menuruni tangga, berbelok ke arah satu ruangan yang cukup besar. Pelayan cukup sibuk dengan menata meja untuk mereka. Alaric muncul dari pintu lain. Ruang makan ini tidak lebih besar dari ruang makan di istana utama. Ada berbagai hidangan di atas meja. Karena bentukannya yang sangat panjang, Pandora mungkin harus berteriak saat berbicara agar mereka saling mendengar satu sama lain. Alaric tidak terlihat cukup baik hari ini. Iris kelam pria itu tampak gelisah. Pendar matanya berbeda. Pandora bertanya-tanya ketika pelayan menuangkan minum dan merasa dirinya tidak perlu dilayani sejauh ini. "Kau baik-baik saja?" Alaric mengangkat kepala dari piring makannya. Menautkan alis tanpa suara saat tangannya meraih garpu. "Kita dilarang bicara saat makan." "Aku lupa. Maaf." Pandora melirik Nina yang mengangguk. Dan menyantap sarapan dalam diam. Menikmati semua pelayanan tanpa mengeluh. Alaric makan dengan cepat. Seolah sudah biasa dan terlatih untuk urusan ini. Saat mereka selesai, Pandora mengucapkan terima kasih pada beberapa pelayan yang membereskan meja sebelum pergi. "Kau sepertinya perlu belajar." "Tentang?" "Kenapa kau terus mengucapkan terima kasih pada mereka? Itu sudah tugasnya melakukan sesuatu untuk kita berdua." Ada desahan berat mampir. "Aku tidak terbiasa diperlakukan spesial, kau tahu." Mengikuti Alaric yang berjalan pergi. "Apa di perpustakaan istana ini menyediakan buku panduan? Aku merasa buta karena perlu belajar." Alaric menarik langkahnya. Memandang Pandora dari atas sampai bawah, menilai gadis itu. "Kau mungkin perlu banyak bertanya." "Pada Sara?" "Ya." "Kau tidak berniat membantu?" "Tidak." Alaric membalas dingin. "Aku sibuk." "Kau marah padaku?" Kaki pria itu kembali diam. Ketika kepalanya menoleh, melirik Pandora yang membeku. "Marah untuk apa?" "Aku melewati batas yang tidak seharusnya." Pandora memberanikan diri menatap mata sang suami. "Semalam saat aku bilang kau mirip ibumu, kau sepertinya tersinggung. Aku berbesar hati akan meminta maaf kalau sikap lancangku membuatmu tersinggung." Alaric hanya bungkam. Bisunya pria itu sama sekali tidak membuat Pandora merasa nyaman. Dia butuh suaminya bicara. Dan Alaric seolah tidak ingin membahas masalah apa pun yang timbul karena dirinya. "Lupakan saja." "Aku minta maaf." Pandora menyeret kedua kakinya untuk berbalik. Tidak lagi ingin tahu reaksi Alaric setelahnya. Ia telah tulus mengucapkan kata maaf dengan perasaan lapang. Menyesali kalau dirinya tidak perlu lancang di rumah asing. Ini bukan tempatnya, seharusnya dia menjaga sikap. Atau mungkin perubahan itu menyinggungnya secara perlahan tapi pasti. Pandora mendongak, mengambil napas panjang sebelum pergi menjauh. Tidak lagi mau menoleh ke belakang meski Alaric kini berhenti, menaruh seluruh pusat perhatiannya pada sang istri yang perlahan menjauhi lorong dengan langkah getir. *** Mereka seharusnya hadir bersama. Namun karena suatu hal yang tidak Pandora ketahui pada Alaric yang tiba-tiba mangkir, dirinya hanya datang sendiri. Bersama Nina yang mengatur jalan. Beberapa warga setempat memberi sambutan dengan melambaikan tangan. Pandora merasa terhibur sekaligus terharu. Saat ikut tersenyum, menyapa beberapa orang dan mengajak mereka bicara sebentar. Ada anak-anak yang ikut menunggu. Karena dirinya dilarang memberi tanda tangan atau foto bersama, kali ini hanya jabatan tangan. Beberapa orang memujinya cantik, sebagian lagi melihat dengan sisi feminim yang mengesankan. Nina mengawasi secara posesif saat Pandora masuk ke sebuah gereja. Satu-satunya gereja terbesar yang ada di Cornelia. Kota ini seperti Greece dengan keindahannya. Dikelilingi oleh Pegunungan Alpen yang menjadi dasar kehidupan masyarakat di kota setempat. "Selamat datang. Senang melihat Duchess baru mengunjungi kami untuk pertama kali." "Senang melihat kalian semua di sini. Saat aku masuk untuk pertama kali, aku melihat seperti bangunan Katedral yang khas. Sulur-sulur bagian depan mengingatkanku pada gereja Bethanny di Damais." "Anda pernah ke Damais sebelumnya?" "Saat aku kecil. Aku tidak terlalu mengingatnya." Selanjutnya para pendeta bersama-sama membawa Pandora masuk. Mengenalkan beberapa aturan di Cornelia yang telah disepakati selama puluhan tahun. Ia merekam semua yang perlu. Termasuk silsilah kuno yang menjurus pada takhta Alaric sekarang. "Apa aku terlihat sombong?" "Maaf?" Nina mendekat dengan alis bertaut. "Siapa yang bilang begitu?" "Seseorang," sahut Pandora sedih. "Mereka bilang aku terlihat sombong. Apa pakaianku terlalu berlebihan? Paman mengajarkanku untuk tidak seperti itu. Atau aku jarang tersenyum?" Nina meringis. Menurunkan alat di tangannya dengan desahan pendek. "Tidak perlu diambil hati. Beberapa orang melontarkan komentar tanpa dipikir dahulu. Tetap rileks, Yang Mulia." "Aku hanya berpikir kalau perlu belajar lebih jauh lagi." Pandora menghela napas. Mendongak menatap langit saat dirinya kembali ke limusin untuk pergi. "Ayo, kita pulang." Limusin membawanya pergi ke istana. Kastil Cornelia terlihat lebih sepi walau besarnya hampir masuk dari sebagian istana utama di Parvitz. Saat Pandora turun, kekosongan yang terjadi membuatnya diam. Hampa. Ia biasa berjalan melintasi koridor untuk bekerja. Dan sekarang? Rasanya berbeda. "Aku tidak apa, Nina." Nina menatapnya dengan cemas. Wanita itu dengan baik menemaninya walau sudah menjadi tugasnya. Gagasan untuk menjadikan Nina teman ada, meski kemungkinan akan terdengar sangat canggung. "Anda butuh sesuatu?" "Hm? Tidak. Hanya ingin berjalan-jalan. Tidak apa, Nina. Aku aman di dalam istana sendiri." Pandora benar-benar butuh udara segar sekarang. Melintasi koridor demi koridor dalam diam. Menatap lurus ke luar jendela saat bunga-bunga bermekaran menyambut matahari. Rasanya menyenangkan saat berada di rumah, dan Pandora merasakan kosong ketika berada di sini. Ia tiba-tiba merindukan Ellie dan pamannya. "Kau tidak bisa memakai ponsel sembarangan," tegur seorang pria dari belakang punggungnya. Yang membuatnya tersentak, berbalik dan menemukan Alaric di sana. "Peraturan nomor sekian di dalam istana adalah ponsel sangat sensitif." "Aku hanya perlu menghubungi Ellie." "Memintanya untuk datang dan menjemputmu?" "Tidak," kepalanya tertunduk. "Apa aku terlihat secengeng itu? Aku hanya ingin tahu kabarnya." "Ini baru dua puluh empat jam kau tiba di tempat ini." Alaric mengangkat satu alisnya sinis. "Kau kesepian?" "Kau sendiri?" tanya gadis itu dingin. "Tempat ini sangat luas. Kau bertahun-tahun sendirian menempatinya. Bagaimana perasaanmu?" "Aku sudah terbiasa." Pandora mengangguk. Memainkan ponsel di tangan dan tidak merasa perlu meladeni suaminya lagi. "Bagaimana perjalanannya?" "Lancar. Aku senang melihat mereka mau menerimaku. Mata mereka memancarkan maksud baik," tukas Pandora pelan. "Apa yang kau lakukan sekarang?" "Beberapa hal." Alaric seolah enggan untuk membalas. "Ini tidak akan lama. Di jadwal selanjutnya aku akan menemanimu." "Lebih tepatnya aku yang menemanimu. Pekerjaan ini dititikberatkan untukmu," sahut gadis itu muram. "Aku akan ke taman. Kembali lagi nanti untuk makan siang." "Ah, aku lupa." Mata mereka kembali bertemu. Pandora berusaha menahan getir saat memandang mata kelam itu. Itu hanya bola mata yang terlalu gelap dan seharusnya dia tidak terpengaruh. "Seandainya aku berbuat salah atau sama sekali bersikap menyinggung, aku mau kau bicara." "Kupikir kau lebih senang saat aku diam." "Tidak. Itu hanya membuatku bertanya-tanya. Aku akan berusaha memperbaiki diri di masa depan." Alaric hanya diam. Sebelum sebelah tangannya yang bersembunyi di belakang punggung muncul. Dan Pandora menautkan alis melihat bungkusan yang pria itu bawa. "Apa itu?" "Gelato." "Kau terlihat sangat merana karena menginginkannya." "Kau membelinya untukku?" Ada intonasi tidak percaya terselip di suaranya. "Aku tidak membelinya untukmu. Asistenku kebetulan pergi ke suatu tempat dan menitipkan ini. Ambil saja. Dan kau tidak perlu merasa bersalah lagi." Pandora menerimanya dengan perasaan bingung. Saat melihat wajah serius itu sekali lagi, dirinya mendapati sedang tersenyum. "Terima kasih."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN