"Yang Mulia?" Pandora merasakan lilitan pada perutnya. Yang membuatnya meringis serta mual. Ini seperti di sangkar dan tiba-tiba pandangannya memburam. Tampak depan benar-benar menyedihkan. Dirinya bukan seorang penjahat dan tidak akan pernah berurusan dengan apa pun yang melanggar aturan. "Kau bisa masuk ke dalam, Nina. Lihat suamiku di sana. Aku tidak bisa. Untuk sementara hanya akan merepotkan dan bisa menunggu dari sini." Laito lebih dulu masuk. Jam kunjungan dibatasi dan dirinya harus terburu-buru berangkat. "Aku akan meminta pengecualian," kata Nina menawarkan diri. "Anda tidak perlu masuk terlalu dalam hanya untuk berbincang dengan pangeran nanti." "Ada pamanku di sana," balas Pandora getir. "Tapi aku bisa mendengar percakapan mereka dari sini." Nina mengangguk. Pandora membe

