“Fy, lo tadi dianterin Kak Alvin, ya?” Sivia bertanya begitu mereka tiba di kantin. Memilih tempat duduk yang nyaman dan memesan makanan yang siap mengisi energi mereka untuk beberapa jam ke depan. Meskipun hanya menyerahkan tugas akhir, tetapi t***k bengek dan segala hal sepele yang mengikutinya cukup menguras tenaga. Belum lagi persiapan sidang dan wisuda.
“Udah tahu kenapa nanya?” sungut Ify yang memang tak menyukai basa-basi. Baginya, waktu akan lebih efisien jika kita hanya berbicara seperlunya saja. Lagipula terlalu berisik bisa membuat Ify sakit telinga.
“Emmm ... soalnya tadi nggak jadi ketemu gara-gara gue bangun kesiangan dan kakak lo buru-buru ke kantor,” keluh Sivia. Ia melewatkan hal yang bisa saja menambah energi untuknya melewati hari-hari yang berat sebagai mahasiswa tingkat akhir.
“Mampusss!”
“Ihh, kok lo jahat banget sih, Fy!” sungut Sivia saat Ify malah mengatainya.
“Gue nggak ngomong sama lo kok,” sahut Ify dengan pandangan yang tak beralih dari ponselnya. Sivia melongok, melihat apa yang dilakukan oleh Ify dan hanya mampu mendengus kasar saat melihat sahabatnya itu tengah bermain game.
Jika kalian pikir setelah berpacaran Rio dan Ify akan semakin sering berinteraksi romantis, misal chat ngingetin makan dan lainnya, kalian salah.
Mereka terlalu rasional untuk itu.
Kalau lapar, makan. Kenapa nunggu diingetin?
Sama saja dengan basa-basi seperti ucapan selamat pagi, siang, sore, malam, yang menurut mereka tidak ada gunanya.
Yah, mereka memang tidak terlalu menyukai basa-basi membosankan seperti itu.
Cling!
“Akh sial! Ketembak kan gue? Lagian ini siapa, sih? Pake ngirim pesan segala,” gerutu Ify karakter yang ia perankan di game tertembak dan mati. Otomatis ia kalah.
Dengan dongkol, gadis berdagu tirus iru membuka ruang obrolan untuk melihat siapa yang mengiriminya pesan hingga membuatnya kalah bermain game.
Boss setan
Pulang jam berapa? Gue jemput!
Me
Jam 3 mungkin?
Boss setan
Ok!
Sudah.
Tak ada balasan lagi dan memang seperti itulah rutinitas chat Rio dan Ify.
Lagipula, mereka setiap hari bertemu. Akan membosankan jika setiap saat chattingan layaknya remaja lain yang tengah kasmaran.
Sangat lebay dan itu bukan mereka sama sekali.
“Fy, sorry ya ntar nggak bisa pulang bareng.” Via memasang wajah tak enak kepada Ify. Padahal tadi ia yang kekeuh minta pulang bareng.
“Yaudah si, gue juga dijemput Rio,” sahut Ify tak acuh.
“Oke, setidaknya gue nggak bakal ngerasa bersalah banget ninggalin lo!” sahut Sivia riang dengan cengiran lebarnya.
Ify hanya memutar bola matanya malas.
****
“Ck, lelet banget kek keong lo!” Bukan sambutan layaknya pasangan normal yang didapat Ify begitu gadis itu masuk ke dalam mobil Rio yang sudah stand by di depan gerbang.
“Bodo,” sungut Ify sambil memutar bola matanya marah. Jika saja ia tak ingat jika Rio adalah kekasihnya, maka Ify ingin sekali menghajarnya.
“Untung gue nggak keluar dari mobil,” balas Rio lagi yang membuat Ify heran dan memutar tubuhnya menghadap Rio.
“Emang kenapa?”
Rio tersenyum dan menyugar rambutnya ke belakang dengan gaya se-cool mungkin, “karena lo bakalan punya saingan yang sangat banyak kalau gue keluar dari mo-adaw cubitan lo pedes banget ngalah-ngalahin pedesnya bon cabe!”
Rio mengelus pahanya yang baru saja menjadi korban cubitan Ify, sementara gadis itu berlagak seperti tidak ada yang terjdi dan sibuk dengan ponselnya.
“Kekerasan dalam rumah tangga, nih!” sungut Rio.
“Siapa, ya? Kita bahkan belum menikah,” balas Ify.
Rio menyeringai. “Tapi kita tinggal satu rumah, Sayang! Jangan lupakan itu.”
“Sialan! Lihat aja bakal gue usir lo kalau udah nyampe rumah. Cepetan jalan, panas ini!”
“Mobil gue AC-nya masih fungsi kalau lo lupa,” dengus Rio tapi segera menjalankan mobilnya meninggalkan area kampus.
“Mau kemana?” tanya Ify begitu sadar jika jalan yang diambil Rio berbeda.
“Ke kantor bokap lo. Sialan banget si Alvin, mentang-mentang sekarang jug bos, seenak jidat nyuruh gue kesana kesini. Untung calon ipar.”
Ify terbahak. Ini bukan pertama kalinya Rio menjadi kacung Alvin. Dengan ancaman restu, tentu Rio mau tidak mau harus menurut. Apalagi saat Alvin kini menggantikan posisi Pak Hanafi yang sudah ingin menikmati waktu istirahatnya.
Tak lama, mobil Rio sudah sampai di epan gedung yang familier buat Ify. Karena duku Ify cukup sering datang ke kantor, selain untuk mengunjungi ayahnya, Ify juga sering menggantikan sang ayah untuk rapat dan sebagainya.
Kedatangan Rio dan Ify mencuri perhatian banyak orang. Sudah banyak yang tahu apa hubungan mereka berdua, tapi sepertinya hubungan unik keduanya membuat orang tertarik. Apalagi sekarang, saat Rio ingin berjalan dengan cool dan berwibawa, Ify justru membuat semuanya kacau.
Dengan santainya, gadis yang sialnya ia cintai itu menyerahkan tas gendong kecil miliknya kepada Rio sementara dirinya berlari terlebih dahulu untuk masuk lift.
Hell, bayangkan Rio yang necis, dengan setelan formal dan jas mahal, sepatu mengkilap, jam tangan limited edition, kini membawa tas gendong kecil milik perempuan.
“Untung sayang,” gerutu Rio sambil berjalan santai menuju lift. Mungkin, Ify sudah sampai di ruangan Alvin karena gadis itu sudah naik lift terlebih dahulu.
Brakk!
Dengan kasar Rio menghempaskan tas kecil milik Ify ke pangkuan sang empunya.
“Yakkk! Lo mau rusakin tas gue, hah?!” teriak Ify dengan tatapan tajam yang terhunus ke Rio.
“Rusak ya beli lagi, jangan kaya orang miskin lo!” ucap Rio santai meski ia merasa punggungnya seperti bolong akibat tatapan tajam Ify.
“Mana berkasnya?” tanya Rio tanpa basa-basi ke Alvin yang sejak tadi hanya mengamati pertengkaran antara adik dan sahabatnya itu dalam diam.
“Jangan galak-galak, cepet tua ntar! Lo mau punya suami tua, Fy?” goda Alvin yang membuat Rio menggeram kesal.
“Ogah banget, gue masih cantik gini mending cari yang lebih tampan dan mapan.” Ify mengatakannya tanpa pikir panjang. Ia tak sadar, jika ucapannya telah membangkitkan singa yang sedang tertidur.
“Berkasnya, Alvin Sindhunata!” pinta Rio dengan suara rendahnya. Alvin meneguk salivanya kasar, ingin sekali ia memukul mulut kurang ajarnya yang telah salah bicara.
“Ini berkasnya adik ipar, hehehe ....” Alvin terkekeh hambar di bawah tatapan tajam Rio.
Demi apapun, bertahun-tahun hidup bersama dengan Rio, Alvin masih tak bisa mengatasi tatapan tajam Rio yang sedang marah. Tatapn itu sangat mengintimidasi membuatnya ciut.
“Bodoh, Vin!” ringis Alvin dalam hati sambil menatap Ify kasihan. “Semoga kau baik-baik saja, Adikku!”
“Pulang, Fy!” ajak Rio masih dengan suara rendahnya yang membuat Ify mendongak dan mendapati tatapan tajam Rio padanya.
Otaknya berputar, apa yang telah terjadi hingga membuat pemuda bergigi gingsul itu tampak menahan amarahnya.
Sesaat kemudian, kedua mata Ify terbelalak lebar. Perlahan ia menoleh ke arah Alvin yang hanya memberikan cengiran lebarnya.
Sial! Ia salah bicara.
“Rio, makan dulu, yuk!” bujuk Ify dengan puppy eyesnya.
“Makan bisa di rumah, Alyssa!” Rio tetap tak mengalihkan pandangannya dari Ify yang kini sibuk mencari alasan.
“Yo, mau ke bioskop dulu? Ada film bagus hari ini.”
“Pulang sekarang, Alyssa!” Tegas Rio lalu meninggalkan ruangan Alvin terlebih dahulu.
“Kak!” Ify memandang Alvindengan tatapan minta dikasihani.
“Fighting!” balas Alvin sambil mengepalkan tangannya.
“Argh, punya kakak juga gak guna,” sungut Ify sebelum berlari menyusul Rio yang sudah memasuki lift. Ia hanya bisa berdoa untuk keselamatannya kali ini.