Pahitnya Sebuah Pengkhianatan Keesokan harinya, Amanda terbangun dari tidur lelapnya hampir pukul sepuluh siang. Untung saja setiap hari Sabtu kantornya libur untuk divisinya. Sesaat Amanda tercenung duduk di pinggir ranjang. Ia teringat lagi cerita dari Dessy yang membuatnya menangis semalaman. Matanya kemudian dipejamkan menahan rasa pusing di kepalanya, karena terlalu banyak menangis. Pelan ia beranjak ke kamar mandi. Guyuran air di sekujur tubuhnya sedikit membuat wanita cantik itu menjadi lebih segar. Apalagi setelah secangkir s**u hangat dan setangkup roti isi cokelat dan keju membuat tubuhnya kembali bertenaga. Dari siang sampai sore hanya dihabiskan Amanda di tempat tidur. Ia malas melakukan apa-apa. Semangat hidupnya benar-benar terbang entah ke mana. Ia hanya ingin terus tidur

