DUA

1759 Kata
Jangan lupa follow ya. Hehehe, masih panjang. Ditunggu aja part khusus Gea sama dosen gilanya. Hehehe Setelah melewati semester empat dan kini telah libur. Gea di minta ke apartemen Serli untuk menemui gadis itu. Sejak lama satu-satunya teman dekat Gea hanyalah Serli. Walaupun dia tahu mengenai hidup temannya yang satu itu. Tetapi bukan tanpa alasan, dia tahu sejak awal. Bahkan mereka satu sekolah sejak SMA. Hidup Serli yang memang sudah berantakan sejak awal tidak bisa dipungkiri lagi oleh Gea bahwa temannya itu sedang dalam kondisi sangat stress. Pagi itu, dia langsung pergi ke apartemen Serli dengan membawa makanan dan langsung pergi ke sana. entah apa yang terjadi, sepertinya Serli sedang menangis di telepon tadi. Akan tetapi tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya. Serli adalah perempuan kuat yang dikenal oleh Gea. Karena perempuan itu bisa menahan semua beban yang sedang dihadapi. Orang tua yang satu tahun sekali jarang pulang karena perusahaannya ada di luar negeri. Untuk berkumpul barangkali memerlukan waktu yang begitu lama. Gea tahu terakhir kali Serli berkumpul itu ketika kelas dua SMA dan sekarang sudah tidak pernah lagi. Kadang Mamanya yang pulang, kadang Papanya. Dan itu sangat jarang terjadi keduanya berkumpul dalam satu waktu. Dia juga yang jarang mendapat perhatian membuat Gea sangat dekat dengan perempuan itu. Memberikan waktu yang berarti bagi Serli. Serli yang sering meminta di temani ke kelab malam waktu SMA. Tetapi sekarang sudah tidak lagi semenjak ada kehadiran sosok pria yang selalu ada untuknya. Gea yang bersyukur dengan orang yang sudah berhasil membawa hidup Serli menjadi lebih baik. Akan tetapi ada suatu hal yang sangat dibenci oleh Gea, yaitu tentang hubungan keduanya yang sudah keterlaluan. Setibanya di sana, dia langsung mengetuk pintu apartemen Serli. Gea tahu bahwa Serli tinggal bersama dengan kekasihnya yaitu Rio. Sudah satu tahun ini Gea tahu bahwa keduanya tinggal bersama. Akan tetapi dia tidak bisa terus menceramahi Serli karena dia tahu batasnya dalam ikut campur. Semenjak mengenal Rio, perempuan itu tidak pernah macam-macam lagi. Awalnya Serli tinggal di rumahnya yang cukup megah dan hanya ada pembantu di sana. keadaan itu barangkali membuat Serli benci dengan kesepian. Tetapi semenjak tinggal bersama Rio, perempuan itu menjadi lebih ceria akan tetapi menyebalkan di kampus. Walaupun benci dengan hal itu, Gea tidak pernah menceritakan hal itu kepada teman-temannya yang lain. Dia memegang teguh kepercayaan yang diberikan kepadanya. Setelah perempuan itu berdiri di ambang pintu. Gea tersadar dari lamunannya. "Ayo masuk, lo malah melamun di sana!" "Rio ke mana?" "Kerja," "Sendirian lo di sini?" "Makanya gue suruh lo kemari," Gea melihat raut wajah Serli yang begitu pucat. "Lo sakit?" Serli menggeleng pelan dan duduk di sofa ruang tamunya. "Nggak, gue sehat-sehat aja kok," "Ngomong-ngomong kenapa lo kurus banget? Bentar lagi kita mau masuk, nggak terasa ya," "Ge, gue mau nikah, tapi please ya lo nggak usah cerita sama siapa-siapa tentang gue yang mau nikah sama orang lain, termasuk teman-teman di kampus," Gea menyernyit dan menatap Serli. "Nikah nggak ngundang-ngundang?" Serli berdiri dan mengangkat kaosnya yang cukup besar kemudian Gea melihat gundukan mungil diperut Serli. "Beb, lo?" Serli mengangguk, "Sudah empat bulan, Ge," "Gila lo ya," "Awalnya gue mau pergi dari hidup Rio, tapi nggak bisa," "Kenapa bisa begini sih? Lo nggak mikir banget jadi orang. Kenapa kalian nggak nikah dulu baru ngelakuin itu?" "3 tahun setengah pacaran, dan gue udah sayang banget sama Rio. Dan, satu hal yang lo nggak tahu dari, Rio. Dia laki-laki yang udah buat hidup gue jadi gini, lo tahu sendiri kan, gue yang sekarang bukan yang dulu lagi karena dia," "Tapi, nggak harus isi dulu kan baru nikah?" "Gue bingung mau jelasin dari mana, Ge. Kalau lo tahu perjuangan gue dapat restu pasti lo nggak bakalan mau dengar. Karena orang tua gue nyuruh lanjut kuliah melulu. Tapi apa? Mereka nggak ada waktu buat gue, mereka tuh nggak pernah mau pulang, ngerawat gue, masakin gue, lo tahu kan, Rio segalanya buat gue, dia yang udah ngasih semangat buat gue, dia yang nemenin kalau gue kesepian, dia yang buat gue selalu senyum," "Gue tahu, tapi lo harus mikir sebelum lakuin," "Ge, nggak ada yang mau hidup kayak gini tuh nggak ada. Semuanya berjalan gitu aja, Ge. Andai lo tahu, lo nggak bakalan nyalahin kayak gini. Ge, lo di posisi gue, apa lo bisa? Ge, lo enak banget di rumah tiap hari ketemu orang tua, satu hal yang nggak bisa gue rasain setiap harinya adalah nggak ada yang nemenin gue sarapan, makan malam, dan juga nggak ada yang nanyain, apa kabar ke gue setiap hari," Gea masih berusaha mencerna kata-kata dari Serli. "Terus kapan lo bakalan nikah?" "Lusa Rio cuti, gue berangkat ke Singapore, karena bakalan nikah di sana," "Hah?" "Orang tua kan di sana, jadi mereka nggak mau pulang," "Yang bener aja, anaknya mau nikah dan mereka nggak mau pulang?" "Itu yang lo nggak tahu, kan. Makanya gue selalu bilang kalau gue benci banget sama hidup gue ini. Tapi, lo harus tahu juga kalau Rio bukan cuman sekali ini aja ngajak gue nikah. Dia udah berkali-kali ngajak, tapi gue nggak pernah mau. Dan sekarang, ada ini," Serli mengelus perutnya, "Mau nggak mau ya harus nikah," Gea mengangguk pelan. Semua orang memang punya dosa di kehidupannya. Akan tetapi bukan berarti kita sebagai manusia biasa berhak untuk menghakimi dosa mereka. Karena yang berhak menghakimi hanyalah Tuhan. Mereka juga manusia yang punya tingkat kesadaran yang cukup baik. Barangkali memang belum waktunya menjadi jauh lebih baik. "Tapi, lo habis nangis ya?" Serli memejamkan matanya kemudian berjalan ke dalam kamar. Gea masih setia menunggu di ruang tamu dan beberapa saat kemudian Serli keluar lagi membawa foto hasil USG, "Ini bayi lo kan?" Serli menganggukkan kepalanya. "Tapi bukan yang sekarang," "Maksud lo bukan yang sekarang?" "Kakaknya yang ini," Serli mengelus perutnya. "Dia meninggal, di usia ke-5 bulan," "Lo gugurin?" Serli menggeleng lagi. "Nggak, gue nggak sejahat itu, Ge," "Waktu gue berantem sama Rio. Itu dulu banget, waktu kita udah lulus SMA," "Berarti lo 2x hamil?" "Gue harap lo nggak bakalan menjauh," "Bayi Rio juga, kan?" Serli mengangguk, "Waktu itu Rio masih kerja biasa. Dan gajinya mungkin cukup hanya untuk dia hidup sendirian, awalnya nggak ada niat buat ngasih tahu dia tentang hal itu. Tapi, Rio baru tahu itu kemarin, waktu itu Rio pernah nugas di luar kan, dan kalau gue kasih tahu dia pasti nggak percaya, tapi gue salah. Kemarin dia ngomong kalau dari dulu dia nggak pernah mau ninggalin gue," "Reaksi Rio setelah tahu ini?" "Dia marah. Dan kalau yang ini, Rio udah tahu duluan, karena dia langsung nanyain kapan gue datang bulan, dia tahu banget gue rutin datang bulan. Lo tahu kan kalau Rio cowok pertama yang pernah ngelakuin itu," "Kalau itu gue nggak tahu, lo yang ngejalanin," "Hehehe," "Tapi bego lo, kok mau aja?" Serli memandangi Gea. "Waktu itu gue berantem sama Rio, dan dia benar-benar marah kan, tapi gue nangis gitu aja. Alhasil, gue main diam-diaman sama dia. Terus dia bawa gue ke rumahnya, di sana dia berusaha minta maaf dan ngomong kalau dia nggak bakalan ngomong keras-keras lagi ke gue, udah gitu dia bawa gue ke kamarnya," "Sinting lo ya," "Namanya juga udah terlanjur sayang," "Sayang boleh, g****k jangan," "Elah, lo kan nggak pernah tahu gimana rasanya sayang sama orang. Lagian waktu itu gue kemakan rayuan sialan itu," "Emang dia ngerayu dulu?" "Kalau cowok nggak ngerayu, nggak bakalan ada ya cewek yang hamil di luar nikah kalau nggak kemakan gombalan cowok dengan iming-iming tanggung jawab. Banyak juga yang ditinggal kalau udah isi, ujung-ujungnya bunuh janinnya. Atau kalau nggak ya dia yang bunuh diri, karena nggak kuat gitu hadapi hidup," "Lo ceramah pinter, tapi g****k juga." "Kita nggak tahu ya cowok tuh beda-beda. Tapi, gue lihat keseriusan Rio kemarin ini, Ge. Dia sampai mohon-mohon ngajak nikah, terus waktu dia tahu anak pertamanya meninggal, kalau lo di sini kayaknya lo bakalan kasihan juga lihat dia nangis dan mukulin kaca di kamar sampai pecah," "Ngeri juga," "Karena dia ngerasa nggak bisa jagain gue waktu itu," "Rio dari dulu udah ngajakin nikah sebenarnya, sebelum ngelakuin itu pertama kalinya, Rio udah ngajak," "Lo bego, malah mau diajak gituan tanpa dinikahin," "Bangke, lo nggak tahu ngerinya bokap gue sih," "Tapi ujung-ujungnya lo mau juga diajak sama, Rio," "Karena kalau si onoh udah berdiri, teparlah lo, Ge," canda Serli hingga membuat Gea tertawa terpingkal-pingkal. "Si Rio tuh baik sebenernya, cuman dulu kan gajinya kecil. Gue nggak mau tinggal sama orang tuanya dia deh, takut berantem. Takut urusan rumah tangga diikut campurin, waktu di ajak ke rumah Rio waktu pertama kali gituan, tuh rumah sepi. Sampai nginep gue di sana, anjiiiir gue sama dia berantem. Padahal gue nggak nolak, tapi sakitnya sialan," Gea yang berekspresi hendak muntah mendengarkan cerita Serli yang blak-blakan itu. "Sekarang calon suami lo ada modal buat nikah?" "Ada, kan udah di temani dari nol, Rio pacaran sama gue dari dia baru lulus kuliah, terus dia kerja. Belum lagi dia kerja keras banget, makanya sesayang itu gue sama bokap anak gue ini," "Aneh lo ya, diajak nikah nggak mau. Diajak begituan mau," "Lo nggak usah ngikutin, lagian itu kan karena cinta yang g****k, hahaha," "Soal restu? Gimana ceritanya?" "Orang tua ngasih restu kan karena Rio kerjaannya udah bagus, gaji juga lumayan. Makanya dia beli apartemen, mobil, dan juga yang lainnya. Terus ya, Rio yang masak, dia juga yang bersih-bersih, pokoknya setelah tahu ada anaknya di sini, dia nggak bolehin gue kerja," "Orang tua lo nggak tahu kalau lo hamil?" "Anaknya nggak pulang ke rumah mereka nggak tahu kalau mereka tetap kayak gitu," "Seengaknya lo udah nemu yang pas," "Tenang aja ya. Gue tetap lanjut kuliah kok, cuman nanti kalau udah besar, minimal lo kasih tahu lah alasannya," "Idih, lo yang berbuat gue yang ngejelasin," Gea mengerucutkan bibirnya dan menyerahkan foto USG yang di mana Serli masih menyimpannya dengan sangat baik. "Beb, jenis kelaminya lo tahu nggak yang pertama itu?" "Perempuan, Ge. Gue kasih nama Deolinda Ayudia yang artinya dewi yang sangat cantik dan bersih, karena dia meninggal sebelum papa dia lihat dia," "Lo nggak nyesel?" "Apa yang mau disesali, Ge. Semua kesalahan gue kok, karena nggak bisa jaga dia. Tapi, kalau yang ini, gue mau rawat dia dengan baik. Minimal dia bahagia, nggak kayak ibunya yang dari SD udah ditinggal sibuk. Gue sama Rio udah janji bakalan selalu ada buat dia, dan Rio nggak bolehin gue kerja walaupun lulus nanti. Dia ngerti hidup gue, dan disitu dia bilang anaknya harus dirawat dengan baik, Rio pengin beli rumah abis ini," "Udah jauh banget persiapannya si Bapak ya?" "Gue kan udah bilang Rio tuh ngajak gue nikah dari kita baru lulus SMA, dan dia baru kerja," "Berani juga dia," "Lo kayaknya bakalan dapat suami yang tipe-tipenya pendiam deh. Karena lo baik, tapi nggak tahu selera lo baik atau buruk," ledek Serli. Karena selama ini Gea belum pernah berpacaran sama sekali. Dan mengenal Rio waktu itu juga karena ada acara. Meski sebuah kesalahan, Gea berharap bahwa pria itu mampu menjaga sahabatnya dan juga calon anak mereka nantinya. Dia tidak tahu hidup Serli pernah sepahit itu menghadapi semuanya seorang diri. Dan waktu kelulusan mereka juga jarang bertemu. Dia tidak ingin terlalu menyalahkan Serli dan memilih diam dibandingkan menjadi masalah. Lagipula Rio juga sudah siap untuk bertanggung jawab. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN