**** Menjelang dini hari sepasang mata Dhante tak mampu terpejam. Kamar yang mewah dengan jangkauan pandang yang begitu luas tidak mampu menghibur hatinya. Pemandangan kota yang terlihat dari lantai 17 tampak begitu indah dan memukau, kota yang tak pernah mati dengan segala keindahannya terus menggeliat 24 jam lamanya. Dhante bangun dari ranjang, pikirannya resah semenjak Dorry melaporkan apa yang ia lihat pada diri Deya. Rasanya pria itu ingin berlari secepat mungkin ke sisi gadis itu, melindunginya dari perempuan jahat yang dulunya pernah singgah dalam hati Dhante. Mengusap dahinya dengan resah, Dhante terus memikirkan kesempatannya untuk pulang. Ia sangat ingin melihat kekasih kecilnya. Seandainya Deya tidak berstatus seorang pelajar, sudah pasti ia akan membawa Deya kemanapun ia perg

