Lili keluar dari restauran mewah itu berjalan kaki. Hawa dingin mulai menyapa kulitnya. Pakaiannya terlalu terbuka untuk ukuran cuaca seperti ini. Jalanan masih digenangi oleh air sisa hujan tadi. Sepertinya Lili tidak menyadari jika hal itu. Telapak sepatunya sudah basah dan Lili terus berjalan dalam diam. Bukan ia tak bisa memesan taksi. Bahkan sejak tadi kendaraan berwarna kuning itu lalu lalang disampingnya. Tapi lebih ingin mengurai benang kusut yang saat ini terjalin dalam hatinya. Dan Lili pun tidak tahu harus pergi kemana. Ia hanya sedang tak ingin segera sampai hotel. Setidaknya, meski tidak ada tujuan, dengan Lili berjalan kaki bisa membuatnya sampai sedikit lebih lama. “Dia sengaja atau apa? Melamar kekasihnya didepan mataku? Katanya tidak kenal, tapi tiba-tiba melamar ditemp

