Namun yang paling menyiksa adalah video-video di televisi itu. Sebenarnya, video yang ditampilkan bukanlah video ibu menyusui biasa, melainkan video yang sudah di edit dan dimanipulasi secara khusus. Di balik gambar-gambar lembut seorang ibu yang menyusui bayinya, terselip suara-suara halus yang sengaja disisipkan, dirancang untuk mempengaruhi pikiran,mendoktrin, mensugesti, dan perlahan mencuci otak Emmy. Pesan-pesan terselubung itu terus berusaha meyakinkannya untuk melupakan identitas dewasanya, dan menerima bahwa dirinya kini hanyalah seorang bayi sungguhan.
Suara dari televisi terus menyala, diputar berulang-ulang tanpa jeda.
Suara-suara itu berisi kalimat-kalimat yang terus mengulang pesan yang sama, bahwa menjadi bayi itu nyaman, aman, dan tidak perlu merasa takut. Pesan-pesan itu disampaikan dengan nada lembut, menenangkan, seperti bisikan seorang ibu yang menidurkan anaknya. Tapi justru itulah yang membuatnya berbahaya, karena tanpa disadari, kalimat-kalimat itu mulai menyusup ke dalam pikiran Emmy, perlahan-lahan memengaruhi cara berpikirnya.
Tujuan dari video itu jelas, untuk mendoktrin Emmy, membuatnya melupakan identitasnya sebagai wanita dewasa, dan menanamkan keyakinan bahwa dirinya hanyalah seorang bayi. Seorang bayi yang tidak perlu berpikir, tidak perlu memutuskan apa pun, cukup diam, manis, dan bergantung sepenuhnya pada 'ibu'-nya.
Semakin lama Emmy menatap layar, semakin sulit baginya untuk membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya sugesti. Dan itulah yang diinginkan oleh orang yang menaruh video itu di sana.
Emmy terdiam, menatap kosong ke arah televisi yang menggantung di dinding seberang ranjang. Di layar, sebuah video diputar berulang-ulang, video dengan suara lembut dan latar musik yang tenang, menampilkan wanita-wanita yang tengah menyusui bayi mereka.
Beberapa adegan memperlihatkan sang ibu menimang bayi mereka sambil membelai kepala mungil itu, mencium keningnya dengan penuh kasih. Lalu berganti ke adegan lain, ibu-ibu yang menyusui dengan wajah penuh cinta, menatap mata bayinya yang terpejam tenang di pelukannya.
"Nyaman sekali menjadi bayi, ya, Sayang..." suara narasi lembut terdengar, hampir seperti bisikan yang menyelinap langsung ke dalam keapala Emmy. "Tidak perlu takut... tidak perlu berpikir... hanya tidur, menyusu, dan dicintai..."
Gambar berubah lagi. Seorang ibu tersenyum sambil menggendong bayinya ke ranjang, menidurkannya, lalu menyelimutinya perlahan. Kamera menyorot wajah si bayi, damai, tanpa beban.
Emmy memalingkan wajah, mencoba menghindari tatapan para ibu dari layar itu. Tapi suara lembut itu terus berbicara, mendesaknya masuk ke alam bawah sadar.
"Menjadi bayi itu aman... menjadi bayi itu tenang... kau tidak perlu bertanggung jawab atas apa pun..."
Video itu diputar berulang, tak pernah berhenti. Tak ada jeda. Tak ada opsi untuk mematikan. Remote televisi entah di mana. Bahkan jika pun ada, Emmy tak akan bisa mencapainya dengan segala belenggu yang menahannya.
Sudah berapa lama video itu diputar? Emmy sendiri tak tahu. Harikah? Minggu? Ia merasa pikirannya perlahan kabur, tidak karena lupa, tapi karena terus dipaksa untuk mempercayai sesuatu yang tidak nyata.
Pikirannya melawan, tapi tubuhnya sudah terlalu letih. Suara itu mulai terasa akrab, menenangkan, seperti suara yang kau dengar ketika hampir tertidur.
"Bayiku tidak perlu berpikir... Ibu akan pikirkan segalanya untukmu..."
Emmy menarik napas panjang. Dadanya sesak. Ia tahu ini bagian dari rencana Bu Gloria. Mencuci otaknya. Menghapus identitasnya. Mengubahnya menjadi sesuatu yang bukan dirinya.
Tapi ketika matanya mulai mengantuk, dan kepalanya bersandar ke dinding... suara itu masih memanggilnya...
"Menjadi bayi... adalah jalan menuju kebebasan dari rasa sakit..."
Layar berganti lagi.
Dan Emmy... masih tak bisa menutup matanya.
Kalimat-kalimat itu terus diputar, pelan tapi berulang. Seperti tetesan air yang mengenai batu, lama-lama membekas di kepala Emmy. Ia awalnya mengabaikan, mencoba mengalihkan pandangannya, tapi layar itu seperti memanggil-manggilnya untuk melihat lagi dan lagi.
"Tidak...! Aku bukan bayi...! Aku bukan bayi...!" gumam Emmy lirih, mencoba bertahan, matanya mulai memanas, tubuhnya gemetar pelan.
Tapi suara itu terus masuk. "Bayi tidak perlu melawan...Bayi cukup diam dan disayang... Lupakan siapa dirimu dulu. Sekarang kamu adalah milik Mama..."
Emmy mencengkeram kedua tangannya yang diborgol di depan d**a. Napasnya mulai berat. Sebagian dirinya ingin marah, ingin menjerit dan merobek layar TV itu. Tapi sebagian lain... merasa lelah. Terlalu lelah untuk melawan. Dan justru karena itulah, kalimat-kalimat itu mulai terasa... masuk akal.
"Aku bukan bayi...!!" ucap Emmy sekali lagi. Tapi nadanya melemah, seperti seorang anak kecil yang mulai ragu akan ucapannya sendiri.
Lalu tiba-tiba, muncul bayangan samar di pikirannya, bayangan dirinya, dibedaki, dipeluk, disusui, dan dipanggil "Sayang" oleh Bu Gloria. Ia teringat bagaimana tangan besar itu mengelus kepalanya dan berkata: "Mama di sini, ya... Mama selalu ada untukmu..."
Pikiran Emmy bergetar. Ketakutan dan kenyamanan saling bertarung di dalam dirinya. Yang satu berbisik agar ia kabur. Yang satu lagi memohon agar ia pasrah.
Dan di layar, suara itu kembali berbisik, "Tenang saja... Peluk Mama...! Biarkan dirimu kembali menjadi bayi...! Kamu tidak butuh dunia luar...! Cukup Mama..."
***
Pintu rumah itu berderit pelan saat dibuka. Bu Gloria masuk dengan langkah mantap, membawa tas belanja berisi perlengkapan bayi, popok baru, bedak tabur, s**u untuk ibu menyusui, dan sebotol minyak telon.
Senyumnya masih tersisa. Senyum aneh... seperti seseorang yang merasa mimpinya akhirnya menjadi nyata.
Ia menutup pintu, mengunci semuanya rapat, lalu turun ke lantai bawah tanah, menuju tempat di mana "bayi"nya menunggu.
***
Pintu kamar Emmy perlahan terbuka. Aroma lembap bercampur harum bedak bayi langsung menyeruak keluar. Di dalam ruangan remang itu, Emmy masih duduk di ranjang yang sama. Kedua tangan dan kakinya terborgol rantai sepanjang setengah meter, membatasi semua gerak. Di lehernya terpasang borgol tambahan yang menyambung ke tiang kepala ranjang, membuatnya tidak bisa meninggalkan ranjang itu sama sekali.
Rambutnya berantakan, pipinya terlihat lebih tirus dari hari-hari sebelumnya. Ia tidak tidur. Matanya merah, berkaca-kaca... tapi bukan karena menangis—melainkan karena terlalu lama menatap layar TV yang menyala di depannya.
Layar itu terus menampilkan video seorang ibu yang sedang menyusui bayi. Suaranya lembut dan berulang-ulang, "Mama sayang kamu, Nak... Tidak apa-apa kalau kamu lelah... biar Mama yang urus semuanya... Bayi tidak perlu dewasa... Tidak perlu memikirkan apa-apa..."
Emmy tidak tahu sudah berapa jam ia mendengarnya. Mungkin belasan kali. Atau puluhan kali. Video itu terus diulang, otomatis, tanpa henti. Suaranya tenang, nadanya lembut, tapi justru karena itu, ia seperti menembus masuk ke dalam kepala Emmy, meresap perlahan, menyusup ke bawah sadarnya.
Waktu terasa lambat. Seperti dunia berhenti hanya untuk memastikan Emmy terus mendengarkan.
Ketika Bu Gloria masuk, Emmy menoleh. Mata mereka bertemu.
Biasanya, Emmy akan memalingkan wajah atau berteriak. Tapi kali ini berbeda. Ia hanya menatap kosong. Seperti sudah kelelahan untuk marah atau takut.
"Mama..." bisik Emmy pelan, suaranya serak seperti baru sembuh dari batuk berat.
Bu Gloria meletakkan tas belanja di meja kecil, lalu berjalan mendekat. Ia duduk perlahan di tepi ranjang, menatap Emmy penuh kasih. Jemarinya yang besar menyapu perlahan rambut Emmy yang kusut ke belakang telinganya.
"Iya, Sayang. Mama sudah pulang." Nada bicaranya lembut, tenang, seperti berbicara kepada balita.
Emmy membuka mulut, ragu. "Tadi... suara di TV itu... dia bilang aku... aman di sini... sama Mama..."
Bu Gloria tersenyum manis. "Karena itu benar, Nak. Kamu aman di sini. Ibu jaga kamu. Ibu rawat kamu. Kamu tidak perlu berpikir keras... tidak perlu menanggung apa pun..."
Emmy menggeleng pelan, mencoba melawan. "Tapi... aku bukan bayi... Aku... aku orang dewasa..."
Namun kalimat itu bahkan tidak terdengar meyakinkan keluar dari mulutnya sendiri.
Bu Gloria memegang kedua tangan Emmy, yang masih terborgol, lalu mengecup keningnya.
"Sayang... daripada kamu terlalu lama hidup sebagai orang dewasa yang penuh tekanan... penuh luka... Sekarang, waktunya kamu istirahat. Menjadi bayi itu lebih baik, lebih tenang, dan kamu disayangi..."
Emmy menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca lagi. Ada benturan di dalam dirinya, antara logika dan kenyamanan yang memabukkan.
"Kenapa kamu lakukan ini ke aku?" tanyanya lirih.
Bu Gloria tidak langsung menjawab. Ia perlahan membuka kancing atas bajunya, memperlihatkan p******a besarnya. Lalu, dengan penuh kelembutan, ia menuntun kepala Emmy untuk bersandar di pangkuannya.
Emmy menolak, setengah hati. Tapi tubuhnya terlalu lelah, pikirannya terlalu kabur. Dan ketika akhirnya wajahnya menyentuh p******a besar Bu Gloria, ia memejamkan mata. Mungkin hanya sebentar, hanya untuk beristirahat.
Dan saat Emmy mulai menyusu, Bu Gloria memeluknya erat. "Lupakan semua... Kamu adalah bayi Mama... Sekarang, dan selamanya..."
Sementara itu, di layar TV, suara itu masih berbisik, "Peluk Mama... Jangan pergi ke mana-mana... Jadilah bayi yang baik...! Kamu dicintai di sini..."
***
Jam menunjukkan pukul 05.02 pagi. Langit di luar rumah masih gelap, hanya suara jangkrik dan desir angin pelan yang menyusup masuk ke kamar itu. Di dalam kamar bawah tanah itu, suasana masih sunyi dan remang. Lampu tidur yang redup menyinari sebagian ranjang kayu besar di sudut ruangan.
Di atas ranjang itu, Bu Gloria masih tertidur pulas. Tubuhnya yang besar berbaring miring, memeluk Emmy yang terlelap di pelukannya. Emmy tampak seperti bayi mungil di samping tubuh Bu Gloria yang besar. Sebelah p******a Bu Gloria terbuka, dan wajah Emmy masih menempel lembut di sana, bekas air s**u masih membasahi sudut bibirnya dan kulit p******a Bu Gloria yang sedikit lembap. Kebiasaan malam itu sudah menjadi rutinitas, yaitu menyusui Emmy sampai Emmy tertidur, lalu Bu Gloria ikut terlelap dalam pelukannya.
Selimut menutupi tubuh mereka berdua, hanya menyisakan bagian bahu dan kepala. Emmy yang masih mengenakan kaos longgar dan popoknya yang baru diganti malam tadi, tampak lebih tenang daripada biasanya. Wajahnya seperti anak kecil yang tidur setelah merasa kenyang dan dicintai. Rantai-rantai di tangan dan kakinya masih terpasang, karena Bu Gloria tahu kapan harus longgarkan, kapan harus kencangkan.
Tiba-tiba, di atas meja kecil di dekat ranjang, sebuah ponsel bergetar keras, disusul bunyi dering yang tajam memecah keheningan kamar.
Bu Gloria terbangun perlahan. Matanya berat, tapi suara itu membuatnya sadar. Ia meraih ponselnya tanpa membangunkan Emmy yang masih tidur di pelukannya.
Di layar, tertera nama yang sangat ia hafal yaitu Nyonya Pamella
Gloria menekan tombol hijau lalu menjawab dengan suara masih serak karena bangun tidur.
"Selamat pagi, Nyonya..."
Suara tajam dan tegas langsung terdengar dari seberang.
"Gloria, aku akan naik pesawat jam delapan pagi ini."
"Baik, Nyonya," ucap Gloria cepat, kini lebih terjaga.
"Penerbangan cuma sejam. Aku tidak mau menunggu. Jadi pastikan kamu sudah sampai di bandara sebelum aku mendarat." Perintah Nyonya Pamella
Gloria langsung menegakkan badan. Ia melihat jam digital yang terletak di pojok kamar: 05.06.
"Siap, Nyonya. Saya pasti tak akan telat." Ujar Bu Gloria, setengah berbisik.
Pamella tidak menanggapi lebih jauh. Ia hanya menjawab, "Jangan buat aku kesal, Gloria. Kamu tahu aku paling benci menunggu."
Lalu telepon ditutup.
Bu Gloria menarik napas panjang. Ia menoleh ke arah Emmy yang masih tertidur dalam dekapan. Wajah Emmy terlihat begitu tenang, begitu damai... dan begitu mudah disesatkan.
Dengan perlahan, ia menarik Emmy dari pelukannya, menaruh kepala gadis itu di bantal. Emmy bergumam pelan, tapi tidak bangun.
Gloria menatap Emmy beberapa detik. "Kamu cantik sekali, nak! Mama sayang banget sama kamu, Emmy."
Ia lalu berdiri, menutupi paydara besarnya yang masih terbuka, dan mulai bersiap. Tapi sebelum itu, ia mengambil botol s**u bayi dari lemari dan meletakkannya di meja kecil di samping ranjang.
Bu Gloria duduk di tepi ranjang, lalu membuka bagian depan bajunya. Dengan tenang, ia mulai memerah p******a besarnya, menampung ASI-nya ke dalam botol s**u bayi. Tetes demi tetes mengalir, hingga botol itu perlahan-lahan terisi penuh. Setelah selesai, ia menutup botol dengan dot bayi, memastikan semuanya bersih dan rapat. Lalu, ia meletakkan botol itu di samping Emmy yang masih tertidur, agar saat Emmy terbangun nanti, ia langsung bisa meminumnya tanpa perlu menunggu Bu Gloria Pulang.
"Kalau kamu bangun sebelum Mama pulang, kamu tahu harus minum apa, kan?" Bu Gloria tersenyum kecil, lalu pergi meninggalkan kamar.
Pintu tertutup pelan, menyisakan Emmy yang masih tertidur, dan suara televisi yang kini kembali menyala otomatis, mengulang satu kalimat yang sudah terlalu sering ia dengar, "Ibu sayang kamu... Bayi tidak perlu tumbuh besar... Bayi hanya perlu dicintai..."
***
Bandara pagi itu terasa sibuk, tapi dingin. Suasana masih diselimuti cahaya matahari yang lembut, menyapu lantai mengilap dan dinding kaca besar yang menyambut para penumpang yang datang dan pergi.
Bu Gloria berdiri di antara kerumunan, mengenakan mantel panjang berwarna coklat tua, tangan kirinya mencengkeram tali tas selempang, sementara tangan kanannya menggenggam ponsel terus-menerus melihat jam. Sudah hampir satu jam ia berdiri di sana, tepat di depan pintu Kedatangan Domestik.
Wajahnya terlihat cemas, bukan karena takut ditinggal, tapi karena tahu betul seperti apa sikap Nyonya Pamella jika dibuat menunggu.
Ia mendongak setiap kali seseorang keluar dari pintu kaca. Berkali-kali hanya pelancong biasa. Beberapa mengenakan jas, beberapa bersama keluarga, dan sebagian besar langsung disambut oleh sopir pribadi.
Lalu,seorang wanita muncul dari pintu kedatangan.
Langkahnya tegap namun elegan. Rambutnya sebatas bahu, agak bergelombang dan rapi, berwarna coklat tua kehitaman, tampak berkilau ketika terkena cahaya pagi. Wajahnya putih bersih, dengan riasan tipis namun tegas. Tubuhnya sintal dan tinggi, mengenakan mantel hitam dan celana ketat sewarna, serta sepatu hak tinggi yang mengeluarkan suara mantap di lantai bandara.
Di tangan kirinya, ia menarik koper hitam besar beroda, sedangkan di tangan kanan, tergantung tas tangan bermerek.
Bu Gloria segera mengenalinya. Ia langsung berdiri tegak, menyambut dengan senyum waspada yang dipaksakan.
"Selamat datang, Nyonya." Ucap Bu Gloria sambil sedikit membungkuk sopan.
Nyonya Pamella menoleh perlahan, matanya tajam, seolah memindai seluruh tubuh Bu Gloria dari atas ke bawah. Lalu ia menghentikan langkahnya di depan Bu Gloria, menatap lurus dengan ekspresi datar.
"Sudah menunggu lama?" tanyanya dingin, tanpa senyum.
"Saya sudah datang lebih dulu, seperti perintah Anda, Nyonya." Jawab Bu Gloria dengan sopan.
Pamella mengangguk kecil, lalu menyerahkan gagang koper ke Bu Gloria tanpa berkata apa-apa. Ia mengambil ponsel dari sakunya dan berjalan lebih dulu ke arah parkiran. Bu Gloria segera mengikuti dari belakang sambil mendorong koper besar itu.