Aleah jadi merasa bersalah. Seumur hidup Rachel belum pernah sekalipun ia memberitahu tentang siapa ayahnya. Sosok ayah yang bisa ia hadirkan selama ini hanya Thomas. Tapi mau bagaimana lagi. Ia tidak mungkin memberitahukan tentang Andrew. Menyebut namanya saja itu sudah sangat membuatnya muak. Rachel adalah anak yang pintar. Ia takut akan mendapat pertanyaan kenapa ia dan Andrew tidak bersama atau bagaimana caranya dia lahir atau pertanyaan-pertanyaan lain yang akan memaksanya kembali memutar ingatan pahit di masa lalu. “Mama?” Rachel memcah lamunan Aleah. “Ah, ya?” Aleah mengerjap. “Mama tidak dengar, ya? Aku minta s**u,” pinta Rachel. “Oh, s**u, ya, sebentar mama akan buatkan,” kata Aleah kemudian buru-buru ke dapur lagi. Alih-alih membuat s**u ia hanya ingin menyembunyikan perasa

