Mobil Max berhenti di halaman RSJ tepat dimana Alisha dirawat.
Max turun dari mobil tanpa banyak ragu, namun langkahnya melambat begitu melewati pintu utama. Tempat ini selalu terasa berat baginya.
“Selamat malam, Pak Maxi.”
Max hanya mengangguk singkat, ia terus berjalan dan dari kejauhan nampak seorang perempuan berdiri dari kursinya ketika melihatnya datang.
“Max.”
Itu adalah Melisa. Adik dari Alisha.
Ia berjalan mendekat dengan senyum kecil yang terlihat terlalu hangat untuk suasana tempat itu.
“Makasih udah dateng,” katanya lembut.
Max berhenti di depannya. “Gimana keadaanya?”
Melisa menarik napas pelan, seolah menahan emosi.
“Dokter bilang… kondisinya sudah sangat stabil hari ini.”
“Dia udah sadar?” tanya Max.
Melisa mengangguk. “Iya, dokter bilang dia udah bisa pulang," ucapnya, lalu ia menatap Max sejenak sebelum melanjutkan, dengan suaranya yang tetap lembut.
“Dia mulai mengenali beberapa orang.”
Perkataannya membuat Max menegang.
Sementara Melisa tersenyum kecil lagi, kali ini hampir seperti ingin menenangkan.
“Kabar baik kan, Max?”
Disaat yang bersamaan seorang dokter keluar dari ruang konsultasi di dekat mereka, ia segera menyapa Max terlebih dahulu.
“Pak Maxi.”
Max menoleh cepat. “Iya dok.”
“Kondisi Alisha beberapa hari ini jauh lebih stabil. Obatnya bekerja baik, emosinya lebih terkendali, dan ingatannya mulai kembali sedikit demi sedikit.”
Mendengar hal itu Max hampir tidak berkedip.
“Dia bisa mengenali orang?” tanyanya lagi.
Dokter mengangguk. “Iya, dan dengan perkembangannya yang baik, Alisha bisa melakukan pengobatan jalan.”
Melisa menatap Max dari samping, ia tampak ikut lega bahkan menepuk ringan lengan Max.
“Kamu seneng kan, Max?” katanya pelan.
Namun jika diperhatikan lebih lama, ada kilatan kecil di matanya. Sesuatu yang tidak sepenuhnya selaras dengan senyum lembutnya.
“Kalau Anda mau,” lanjut dokter, “Anda bisa menemuinya sekarang, dan bersiap untuk membawanya pulang.”
Max mengangguk tanpa ragu.
Melisa berjalan di sampingnya ketika mereka menuju kamar Alisha.
“Dia tadi beberapa kali nyebut nama orang,” ujar Melisa santai.
Max menoleh, menatapnya dengan kening berkerut. “Siapa?”
Melisa mengangkat bahu ringan, ia tidak menjelaskan lebih jauh. “Beberapa teman lama.”
Ketika pintu kamar dibuka perlahan, tampak Alisha duduk di ranjang dekat jendela.
Rambutnya lebih pendek sekarang. Wajahnya masih terlihat pucat, meski begitu ia masih menyimpan keindahan yang dulu membuat Max tergila-gila padanya.
Ia menoleh ketika pintu terbuka. Matanya bertemu dengan mata Max.
Sunyi.
Max hampir tidak bernapas.
“Alisha…” suaranya rendah.
Perempuan itu mengerjap, ia menatap Max lama. Sangat lama. Lalu alisnya berkerut sedikit.
“Maxi?”
Nama itu keluar pelan, seperti seseorang yang baru membuka kembali kenangan lama.
Mendengar Alisha menyebut namanya dengan sangat jelas, d**a Max seperti dipukul sesuatu. Ia lantas berjalan cepat mendekat.
“Ya… ini aku.”
Melisa berdiri di belakang mereka, tangannya terlipat tenang. Senyumnya masih ada, tapi matanya mengamati dengan sangat teliti.
Max berhenti di depan ranjang, sementara Alisha masih menatapnya dengan bingung, tapi jelas mengenalinya.
Tanpa berpikir lagi, Max memeluknya dengan kuat, seolah takut perempuan itu akan hilang lagi.
“Alisha…” suaranya serak. “Aku di sini.”
Tubuh Alisha kaku beberapa detik, namun perlahan ia membalas pelukan itu.
Semuanya terasa berkecamuk tak karuan, Max memejamkan mata.
Bertahun-tahun ia menunggu momen ini.
Namun beberapa detik kemudian Alisha menjauh sedikit dari pelukan itu.
Ia menatap wajah Max dengan ekspresi bingung.
“Maxi…”
“Iya,” jawab Max cepat.
Alisha mengerutkan kening, seperti sedang mengingat sesuatu yang penting.
Lalu pertanyaan itu keluar. “Rico di mana?”
Sunyi.
Max tidak bergerak.
Melisa yang berdiri di belakang mereka sedikit memiringkan kepala, memperhatikan reaksi Max dengan sangat tenang.
“Dia biasanya datang bareng kamu,” lanjut Alisha polos. “Kenapa dia nggak ikut?”
Nama itu terasa seperti sesuatu yang jatuh keras di dalam ruangan.
Rico. Seorang DJ yang dulu menjadi pusat skandal Alisha.
Max menatap perempuan di depannya.
Perempuan yang dulu ia bawa ke Amerika demi menyelamatkan hidup mereka.
Perempuan yang menghancurkan begitu banyak hal dalam hidupnya.
Dan bahkan sekarang... nama pertama yang ia cari bukan dirinya.
Max memaksakan diri untuk senyum tipis, tangannya masih menggenggam bahu Alisha. “Rico nggak di sini,” katanya pelan.
Alisha terlihat semakin bingung.
“Kenapa?”
Max tidak menjawab. Ia tidak tahu harus menjawab apa, ia hanya menatap Alisha dengan berlinang air mata.
Sementara di belakang mereka, Melisa akhirnya melangkah sedikit lebih dekat.
Ia menatap kakaknya dengan wajah lembut, lalu menepuk pelan bahu Max.
“Nggak apa-apa,” katanya tenang, seolah mencoba membantu. “Yang penting Kak Alisha udah ingat kamu dulu.”
Max tidak menoleh, ia hanya kembali mengusap rambut Alisha perlahan.
“Kamu istirahat dulu,” katanya lembut. "Sebentar lagi kita pulang ya."
Alisha tidak menjawab, ia masih menatapnya dengan mata penuh pertanyaan.
Dan dengan perlahan dan lembut, Max menggendong Alisha untuk duduk di kursi roda. Lalu ia membawa Alisha ke rumah yang dulu pernah mereka tinggali bersama.
Sementara itu, Faith berjalan mondar mandir di ruang depan.
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, akan tetapi sampai detik itu juga Max tidak juga memberinya kabar.
Faith : "Sayang kamu dimana?"
Pesan itu jangankan dibalas, dibaca saja tidak. Masih ceklis satu.
Faith kian merasa gelisah ketika teleponnya tidak tersambung.
Faith sedikit terkejut, ia langsung menoleh dan menjawab, “Belum, Ma.”
Maria yang sebeleumnya berdiri tak jauh darinya kini berjalan mendekat, lalu duduk di kursi seberang.
“Menunggu Max?”
Faith tidak menjawab, ia hanya mengangguk kecil.
Maria hanya menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum tipis.
“Max memang selalu seperti itu.”
Faith mengernyit sedikit.
“Maksud Mama?”
“Kalau ada sesuatu yang menurutnya penting, dia akan pergi tanpa banyak penjelasan," jawabnya dengan nada suara lembut. Yang hampir menenangkan.
Faith menunduk sebentar, lalu berkata, “Dia bilang ada urusan mendadak.”
Maria mengangguk seolah mengerti. “Sejak kecil dia selalu begitu. Sangat… fokus sama hal-hal yang dia anggap prioritas.”
Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan, tapi suaranya tetap halus. “Kadang bahkan terlalu fokus.”
Faith tidak menjawab, ia masih mencerna ucapan Maria.
Maria menatapnya lagi, kali ini lebih dalam.
“Sudah hampir satu tahun kamu masih menyesuaikan diri dengan dunianya, ya?”
Pertanyaan itu terdengar biasa. Namun Faith bisa merasakan sesuatu yang lain di baliknya.
“Saya masih mencoba,” jawabnya pelan.
Maria tersenyum lagi.
“Menjadi bagian dari keluarga seperti ini memang nggak mudah.”
Kalimat itu terdengar seperti simpati.
Namun berikutnya suaranya menjadi sedikit lebih tajam.
“Apalagi bagi seseorang yang… tidak benar-benar tumbuh di lingkungan seperti ini.”
Mendengar perkataan itu Faith menegakkan punggungnya sedikit.
Sementara Maria menyilangkan kakinya dengan elegan.
“Max selalu membuat keputusan yang cepat,” lanjutnya tenang. “Kadang terlalu cepat.”
Faith menatapnya.
“Kalau Mama mau mengatakan sesuatu, bilang aja langsung, Ma.”
Maria balas menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum kecil lagi. “Kamu perempuan yang berani.”
“Mama baru sadar?”
Maria tidak menjawab. Ia hanya berkata pelan, “Saya hanya berharap kamu memahami posisi kamu di keluarga ini.”
Suasana seketika sunyi. Dan Faith kian merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
“Saya nggak pernah memaksa Max menikahi saya,” katanya pelan.
Maria mengangguk. “Saya tahu.” Ia lantas berdiri perlahan. “Justru itu yang membuat saya penasaran.”
Faith mengernyit.
Sementara Maria menatapnya sebentar sebelum berkata dengan nada tetap lembut, “Apa sebenarnya yang membuat Max memilih kamu?”
Pertanyaan yang dilontarkan Maria tidak keras. Tapi cukup tajam untuk mengiris sisi lain Faith yang sedang gelisah.
Disaat yang bersamaan, tiba-tiba terdengar suara langkah kecil di tangga.
“Kok belum pada tidur?” Suara itu berasal dari Kimberly yang terdengar mengantuk.
Faith dan Maria sama-sama menoleh.
Anak itu berdiri di anak tangga terakhir dengan piyama biru, rambutnya sedikit berantakan.
“Kakak masih di sini?”
Faith langsung berdiri. “Kim, kok kamu bangun?”
Kimberly berjalan mendekat dengan langkah kecil.
“Aku haus tadi… terus lihat lampu masih nyala.”
Ia menatap Faith yang masih terlihat gelisah.
“Kak Maxi belum pulang?”
Faith menggeleng kecil.
Kimberly menguap.
“Kalau gitu… Kakak tidur sama aku saja malam ini.”
Faith terdiam, menimbang ucapan Kimberly. Sementara Maria memperhatikan mereka dari samping tanpa berkata apa-apa.
“Ayo, Kak,” ucap Kimberly sembari menggenggam tangan Faith.
"Oke," balas Faith sembari menoleh sebentar ke arah Maria.
Dan wanita itu hanya tersenyum tipis padanya dengan tatapan yang masih mengunci padanya.