Mobil melaju pelan meninggalkan deretan lampu di jalanan. Di dalam mobil, suasananya jauh lebih sunyi dari biasanya.
Faith masih menatap lurus ke depan, tangannya belum juga lepas dari tas yang ia genggam dengan sangat erat.
Setelah beberapa saat diam, Max akhirnya memecah keheningan.
“Faith.”
“Hm?”
“Tadi… yang manggil kamu.”
Faith menarik napas pelan, seperti sedang menyiapkan jawaban yang sudah ia susun dalam kepala.
“Itu Om dan tante aku,” katanya singkat.
Max melirik sekilas. “Om tante?”
“Iya.”
“Yang mana? Aku belum pernah denger cerita soal mereka.”
Faith memaksakan senyum kecil. “Mereka nggak terlalu penting.”
Mobil berhenti di lampu merah, cahaya dari luar memantul di wajah Faith, membuat Max bisa melihat jelas ketegangan yang belum sepenuhnya hilang.
“Apa ada sempet ada masalah sama mereka?” ucap Max hati-hati.
Faith menoleh cepat, lalu kembali menatap depan. “Ya gitulah, namanya juga keluarga.”
Max menunggu ucapan Faith selanjutnya.
“Mereka selalu gitu,” lanjut Faith, nadanya lebih datar sekarang. “Datang tiba-tiba, sok peduli, padahal dulu…” Ia menggantungkan kalimatnya.
“Dulu apa?”
Faith mengangkat bahu kecil, pura-pura santai. “Mereka nggak pernah benar-benar baik ke aku, banyak komentar, banyak tuntutan, selalu bikin aku capek.”
Ketika lampu berubah hijau, mobil kembali berjalan.
Max tidak langsung membalas, ia mencerna setiap kata.
“Kamu takut sama mereka?” tanyanya pelan.
Faith cepat menggeleng. “Bukan takut sih, lebih ke… malas berurusan aja.”
Ada jeda lagi diantara mereka.
Max menurunkan sedikit kecepatan mobil, memberi ruang pada percakapan itu.
“Kalau mereka pernah bersikap buruk ke kamu,” katanya akhirnya, suaranya lebih tegas, “kamu nggak perlu hadapi sendirian.”
Faith tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. “Kamu ini baru kenal aku, udah mau jadi bodyguard?”
“Aku serius.”
Nada itu membuat Faith menoleh, ia melihat tatapan Max tidak main-main.
“Aku nggak suka lihat kamu tegang kayak tadi,” lanjutnya. “Kalau emang mereka bikin kamu nggak nyaman, aku nggak akan biarkan mereka ganggu kamu lagi.”
Hati Faith mencelos sebentar, perlindungan itu terasa hangat, bahkan terlalu hangat sampai hampir membuatnya lupa bahwa yang baru saja ia ucapkan adalah kebohongan.
“Mereka cuma om tante,” ulangnya pelan. “Nggak perlu dibesar-besarkan.”
Max mengangguk, meski jelas masih ada pertanyaan yang menggantung di kepalanya.
“Oke,” katanya akhirnya. “Tapi lain kali kalau ada apa-apa, bilang ya.”
Faith tersenyum tipis. “Iya.”
Ia memalingkan wajah ke jendela, menatap bayangan kota yang bergerak mundur.
Di dalam dadanya, ada rasa bersalah mulai merayap pelan.
Bukan karena orang tuanya memanggilnya.
Tapi karena untuk pertama kalinya, ia berbohong pada pria yang baru saja berdiri sepuluh menit di luar bar hanya untuk memastikan ia pulang dengan aman.
Setibanya di apartemen, Faith kembali menggulirkan pesan yang ada di grup chat keluarganya.
Semua pesan yang ada di grup itu hanya berisikan pujian untuk adiknya Felici, lalu dimana pujian untuk dirinya?
Hidupnya sungguh menyedihkan, hanya karena dia gagal lolos CPNS, gagal mendapat beasiswa LPDP, gagal nikah, gagal masuk universitas negeri, gagal membayar hutang keluarga, gagal kerja di Bank, gagal menjaga adiknya saat kecil sampai membuat Felicia celaka, ia harus menerima segala konsekuensinya, yaitu terasing dari keluarganya sendiri.
Sejak lama memang tidak ada yang peduli padanya, selain Iko dan Dita sahabatnya, selain itu...
Kini ada Max, pria yang itu selalu membuat hatinya terasa begitu hangat. Semua kasih sayang dan perhatian yang dia butuhkan kini bisa ia dapatkan dari Maximillian.
-
Tiba juga hari ini, hari dimana Faith membawa orang tua palsunya untuk berkenalan dengan orang tua Max.
Ketika pintu terbuka, seorang anak perempuan berdiri di sana.
Rambutnya panjang diikat setengah, mengenakan dress simpel dengan pita kecil di pinggang, wajahnya masih polos, usianya tidak lebih dari sepuluh tahun.
“Kak Max!” serunya ceria, lalu matanya membesar saat melihat Faith. “Ini Kak Faith, ya?”
Max tersenyum saat menjawabnya. “Iya, ini Faith.”
Anak itu langsung maju dua langkah, menatap Faith tanpa canggung. “Halo, Kak Faith, aku Kimberly.”
Nada suaranya ringan dan jujur, tidak ada basa-basi seperti orang dewasa.
Faith berlutut sedikit agar sejajar dengannya. “Halo, Kimberly, kamu cantik banget.”
Kimberly tersipu, lalu mendekat sedikit seperti menyimpan rahasia. “Kak Max jarang banget bawa teman cewek ke rumah.”
“Kim,” Max menghela napas.
Faith tertawa kecil. “Oh ya?”
“Iya beneran, biasanya kerja terus, kalau bukan kerja ya marah-marah,” bisiknya lagi dengan polos.
Faith menoleh ke Max dengan alis terangkat, pura-pura kaget. “Serius?”
Max menggeleng, tapi senyumnya tidak benar-benar menolak tuduhan itu.
Tiba-tiba Kimberly menggenggam tangan Faith dengan lembut. “Kakak nanti duduk di sebelah aku, ya?”
Faith terdiam sesaat, ia merasa ada sesuatu di wajah anak itu.
Cara ia tersenyum, sara matanya berbinar ketika tertawa, terasa sangat familiar.
Seperti pernah ia lihat di suatu waktu yang jauh, tapi di mana? Faith mencoba mengingat, namun bayangan itu menguap begitu saja. Mungkin hanya perasaannya.
Maria berdiri di ambang pintu ruang keluarga. Anggun. Rapi. Tatapannya lembut, tapi penuh kendali.
“Kimberly."
Panggilan yang pelan itu ternyata suara Maria Donovan yang sudah berdiri di ambang pintu ruang keluarga.
Kimberly langsung menoleh, lalu tersenyum ke arahnya, “Hai mom...”
“Sayang, kamu ke kamar dulu, ya," ucap maria yang nada suaranya tidak tinggi, tapi tegas. “Ini pertemuan keluarga.”
Kalimat itu sukses membuat udara berubah.
Kimberly melirik Faith. “Kak Faith...”
“Besok kalian bisa lanjut ngobrol,” potong Maria dengan senyum tipis.
Faith mengusap punggung tangan Kimberly pelan. “Nggak apa-apa, kita bisa lanjut lagi nanti.”
Kimberly akhirnya berdiri, sedikit enggan, tapi sebelum pergi, ia berbisik kecil, “Sampai ketemu nanti, ya.”
Faith tersenyum tipis.
Begitu langkah kecil itu menghilang di tangga, Maria masuk sepenuhnya ke dalam ruangan.
Di belakangnya, Richard Donovan, ayahnya Max sudah duduk di sofa utama sementara itu Max berdiri di dekat jendela, memperhatikan perubahan suasana dengan wajah serius.
“Silakan duduk,” ujar Maria kepada orang tua palsu Faith yang sudah lebih dulu menunggu di kursi seberang.
Pak Ardi tersenyum percaya diri. “Terima kasih sudah menerima kami.”
“Tentu,” jawab Maria halus. “Kami senang akhirnya bisa bertemu langsung dengan orang tua Faith.”
Ketika semuanya duduk, Faith bisa merasakan jari-jarinya mulai dingin.
Maria duduk menyilangkan kaki dengan elegan. “Max bercerita bahwa Bapak dan Ibu adalah pengusaha?”
“Iya,” jawab Pak Ardi cepat. “Kami bergerak di beberapa bidang.”
“Beberapa bidang?” ulang Maria ringan. “Menarik, bidang apa saja?”
“Agrikultur… dan properti kecil-kecilan,” sahut Bu Lestari yang sedikit terlambat menimpali.
Maria mengangguk perlahan. “Agrikultur di daerah mana?”
Hening sepersekian detik.
“Di luar kota,” jawab Pak Adri.
“Luar kota mana?” tanya Maria lagi, senyumnya tetap manis.
Faith menunduk sedikit, ia tahu gaya ini, bukan interogasi terbuka. Tapi rangkaian pertanyaan yang dirangkai rapi untuk menguji konsistensi.
Richard Donovan akhirnya ikut berbicara. “Perusahaan atas nama apa? Mungkin kami pernah dengar.”
Suasana sunyi untuk beberapa saat.
Pak Ardi terbatuk kecil sebelum ia menjawabnya. “Skala kami tidak sebesar perusahaan Anda. masih berkembang.”
“Tentu,” jawab Maria lembut. “Kami hanya penasaran, dunia bisnis itu kecil.”
Kalimat itu terdengar biasa, tapi maknanya jelas.
Ketika suasana terasa semakin tegang, Max akhirnya bersuara, nadanya rendah. “Ma, Pa…”
Maria mengangkat tangan sedikit, memberi isyarat halus agar ia tidak menyela.
“Kami hanya ingin mengenal keluarga perempuan yang dekat dengan anak kami,” katanya tenang. “Itu wajar, bukan?”
Ibu Lestari tersenyum kaku. “Tentu saja.”
Faith hanya terdiam menatap cangkirnya, ia menahan diri untuk tidak meneguk air terlalu cepat.
Karena ia tahu setiap detik di ruangan itu adalah permainan halus antara kebenaran dan kebohongan.
Dan di ujung meja, Maria masih menatapnya dengan senyum lembut yang justru membuat d**a Faith terasa sesak.