Ketika pagi tiba, cahaya matahari menembus tirai tipis apartemen kecil Faith.
Ia berdiri di sisi ranjang, merapikan seprai yang kusut, mencoba menata hal-hal kecil seolah hidupnya bisa ikut rapi jika ia cukup teliti.
Di meja kecil dekat jendela, ponselnya tergeletak dengan layar gelap, sunyi.
Faith mengambil ponsel itu, membukanya tanpa tujuan jelas. Nama Max Donovan masih ada di daftar chat, baris terakhir berasal dari semalam singkat, sopan, dan berakhir tanpa janji apa pun.
Ia menatap nama itu lama. Bahkan terlalu lama.
Sebelum ia sempat memutuskan apa pun, notifikasi muncul dari grup keluarga.
Mama:
“Anak bungsu Mama emang luar biasa. Baru seminggu di kantor barunya di Singapura, sekarang udah langsung dipuji sama direkturnya. Mama bangga banget sama kamu.”
Papa:
“Hebat banget anak Papa! Kamu selalu bisa bikin orangtua bangga. Kapan bisa libur, Nak?”
Adik:
“Haha, nggak usah lebay, Pa. Aku cuma kerja keras aja kok.”
Mama:
“Iya, tapi beda, Sayang. Kamu itu istimewa dari kecil. Nggak pernah nyusahin Mama Papa.”
Faith membaca pesan-pesan itu satu per satu.
Tidak ada satu pun yang menyebut namanya, tidak ada yang bertanya kabarnya.
Ia menggulir layar lebih bawah, berharap ada sapaan yang terlewat.
Yang muncul justru sebuah foto: adiknya berdiri di depan gedung kantor megah, tersenyum bangga.
Caption-nya singkat.
Bangga punya anak sehebat ini.
Faith tersenyum tipis. Pahit.
“Anak,” gumamnya pelan. “Emangnya aku juga bukan anaknya.”
Dadanya terasa sesak, seperti ditekan sesuatu yang pelan tapi terus-menerus.
Hidupnya terasa seperti sesuatu yang selalu kurang pantas untuk dirayakan.
Pikirannya melayang ke malam sebelumnya.
Meja makan elegan. Cahaya hangat, cara Max memandangnya, seolah ia berarti.
Faith menunduk menatap ponselnya lagi.
Ia tahu seharusnya berhenti. Ia tahu kebohongan semalam sudah terlalu jauh.
Namun tekanan di dadanya berubah menjadi sesuatu yang lain, sebuah dorongan sunyi untuk setidaknya… dipilih sekali saja.
Ia membuka kolom chat Max.
Jari-jarinya melayang di atas layar beberapa detik sebelum akhirnya mengetik.
“Selamat pagi, Max.”
Ia berhenti. Menghapus. Terlalu biasa.
Lalu mengetik ulang.
“Pagi, Max. Aku masih kepikiran obrolan kita semalam.”
Pesan itu tampak aman. Tidak memaksa.
Ia menambahkan satu kalimat lagi, umpan kecil yang hampir tak terlihat.
“Kalau kamu nggak sibuk hari ini, mungkin kita bisa melanjutkannya.”
Ia menarik napas panjang sebelum menekan kirim.
Beberapa menit berlalu.
Ponselnya bergetar.
Max Donovan:
“Pagi, Faith. Aku senang kamu menghubungiku. Makan siang hari ini di tempat yang sama? Pukul satu.”
Air mata Faith jatuh tanpa suara.
Bukan karena Bahagia, melainkan karena rasa kosong yang akhirnya menemukan pegangan.
Ia membalas singkat.
Faith:
“Oke. Aku pasti datang.”
Pesan terkirim.
Kebohongan yang lahir dari keberanian sesaat kini berubah menjadi tali halus yang mulai melilit lehernya.
Namun Faith tetap berdiri di sana, diam.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya… ia merasa sedang dipilih.
Bukan adiknya. Bukan bayangan kesuksesan orang lain. Melainkan dirinya.
Faith tiba lebih dulu.
Restoran itu berbeda dari malam sebelumnya, lebih terang, lebih hidup. Jika semalam segalanya terasa seperti panggung rahasia, siang ini tempat itu tampak jujur, tanpa bayangan lilin dan musik lembut yang menyamarkan niat.
Max datang tepat waktu.
Tidak terlambat, tidak lebih awal.
“Selamat siang,” katanya, seolah mereka terakhir bertemu berminggu-minggu lalu.
“Oh hai, selamat siang,” jawab Faith.
Max duduk, membuka jasnya, lalu meletakkan ponsel di samping piring, layar menghadap ke bawah. Sebuah gestur kecil yang terlihat sopan, tapi terasa seperti kontrol.
“Gimana tadi malam, bisa tidur nyenyak?” tanyanya.
Faith tersenyum tipis. “Ya, lumayan cukup.”
Ia tidak mengatakan bahwa semalaman ia terbangun beberapa kali, memastikan cerita yang ia bangun tidak berubah bentuk di kepalanya.
Max mengangguk, lalu melirik menu. “Menarik, ya. Banyak pilihan, tapi pada akhirnya, orang biasanya tetap memilih yang paling aman.”
“Atau yang paling mereka kenal,” balas Faith.
“Nggak juga,” kata Max ringan. “Kadang orang memilih yang paling mahal, karena mengira itu akan menjamin kualitas.”
Pelayan datang. lalu Max memesan tanpa ragu sementara Faith mengikuti, meski sebenarnya ia ingin sesuatu yang lain.
Ketika pelayan pergi, Max menyandarkan punggungnya, memulai obrolan mereka, “Sejujurnya, aku memikirkan kamu setelah semalam.”
Faith terdiam sejenak. “Oh ya? Bagian yang mana?”
“Cara kamu bercerita,” jawabnya. “Kamu nggak berusaha membuatnya terdengar sempurna. Itu jarang.”
Faith menelan ludah. Ia tidak tahu apakah itu pujian… atau pengamatan.
“Itu karena aku pandai berpura-pura,” katanya pelan.
Max tersenyum. “Kita lihat nanti.”
Jam di dinding berdetak lagi. Kali ini Faith sadar setiap kali jarumnya bergerak, percakapan mereka terasa semakin masuk ke wilayah yang tidak bisa ditarik mundur.
“Max, apa kamu cukup sering ikutan yang kayak kemarin?” tanya Faith, berusaha mengambil alih arah.
“Kencan buta?” Max menggeleng. “No. Biasanya aku nggak memberi ruang sama hal-hal yang nggak bisa aku kendalikan.”
“Terus, kenapa semalam?”
Max menatapnya lama, terlalu lama untuk sebuah jawaban ringan. “Karena aku penasaran.”
“Dan sekarang?”
“Masih.”
Disaat yang bersamaan, makanan datang dan saat Max mengangkat gelas anggurnya, Faith melihat kilau logam di jarinya, sebuah cincin sederhana, bukan cincin pertunangan, lebih seperti simbol keluarga. Ia tidak menanyakannya, tapi sesuatu di dadanya menegang.
“Aku hampir aja memesan hidangan yang sama kayak semalam,” kata Faith santai. “Kebiasaan lama, di rumah, kami jarang mengganti menu favorit.”
“Keluarga kamu suka rutinitas?” tanya Max.
“Ya,” jawab Faith tanpa ragu. “Papa selalu bilang, konsistensi adalah tanda stabilitas, dalam bisnis maupun hidup.”
Kebohongan kecil itu mengalir terlalu mudah, ia bahkan hampir mempercayainya sendiri.
Max mengangguk pelan, dan tampak tertarik. “Itu prinsip yang jarang dimiliki orang seusia kamu.”
Faith mengangkat bahu. “Mungkin karena aku tumbuh di lingkungan yang menuntut dewasa lebih cepat.” Ia berhenti sejenak, menyesap air. “Aku sering ikut Papa ke pertemuan klien dari waktu masih kuliah. Duduk diam, mendengarkan, mencatat. Nggak glamor, tapi membentuk cara berpikir.”
Matanya menatap Max dengan tenang, tatapan yang sudah ia latih di depan cermin: cukup percaya diri, cukup rendah hati.
“Apa kamu menyukainya?” tanya Max.
“Menyukai?” Faith tersenyum tipis. “Nggak selalu. Tapi aku ngerti nilainya.”
Ia melihat perubahan kecil di wajah Max. Bukan senyum, melainkan fokus. Seolah ia mulai benar-benar mendengarkan, bukan sekadar berbasa-basi.
Faith melanjutkan, suaranya lebih lembut. “Aku belajar membaca orang dari situ. Bukan dari apa yang mereka katakan… tapi dari apa yang mereka hindari.”
Itu setengah kebenaran dari Faith dan karena memang ia pandai membaca orang. Kehidupannya yang memaksa ia seperti itu.
Max meletakkan garpunya. “Terus, apa yang kamu baca dariku?”
Faith tidak langsung menjawab. Ia menunggu satu detik cukup untuk menciptakan ketegangan kecil.
“Kamu tipe orang yang nggak suka terlihat ragu,” katanya akhirnya. “Tapi kamu juga nggak suka orang yang terlalu mudah ditebak.”
Senyum Max muncul, samar. “Kamu cukup berani,” katanya.
“Aku cuman jujur,” balas Faith cepat, kebohongan lainnya yang dibungkus manis.
Ia kemudian tertawa kecil, seolah menyadari sesuatu yang lucu. “Lucu ya. Orang-orang sering mengira hidupku sempurna hanya karena latar belakang keluargaku. Padahal… ada banyak hal yang nggak bisa dibeli sama uang.”
Max menatapnya lama. Kali ini, tanpa menyembunyikan ketertarikan.
“Kamu tahu,” katanya pelan, “banyak orang berusaha keras membuat aku terkesan. Tapi cara kamu, entah kenapa nggak terasa seperti usaha.”
Faith tersenyum. Ia menunduk sebentar, lalu menatapnya lagi. “Mungkin karena aku nggak mencoba mengesankan. Aku cuman ingin kamu mengenalku, itu aja.”
Max bersandar ke kursinya, seolah baru mengambil keputusan kecil yang belum ingin ia akui.
“Kalau begitu,” katanya, nada suaranya berubah lebih hangat, lebih pribadi, “aku ingin mengenal kamu lebih jauh.”
Bukan janji. Belum ajakan besar, tapi di mata Faith, itu cukup. Perangkap yang ia buat, mulai membuahkan hasil.