Di atas setir mobil, gadis itu menumpahkan semua air matanya. Hingga membuat maskaranya berantakan ke mana-mana. Teringat kejadian barusan yang membuatnya terpukul berat. Sesekali dia memandangi kedua tangannya yang dihiasi gelang emas cantik. Lalu dipukulkannya sendiri ke kepalanya. Dia teringat tatapan tajam dan sinis yang barusan diterimanya. Juga teringat ucapan tajam dari mulut Arga tadi. “Kalau sampai terjadi apa-apa pada istri dan kandungannya, aku takkan pernah memaafkanmu Rafilla. Aku akan membencimu seumur hidup. Sampai kapanpun kebencianku akan terus menyertai hidupmu. Baik-baiklah dalam hidup, suatu saat Tuhan akan menagih balasanmu. Ini adalah terakhir kalinya kita bicara. Aku tak bisa memukul perempuan, tapi aku sudah melakukannya padamu dalam hatiku,” ujar Arga

