04. Sekar Ayu Annaya

790 Kata
"Annaya!" tegur Kanjeng Ratu menahan kesal, kedua bola matanya hampir jatuh menggelinding melihat tingkah gadis itu. Kanjeng Ratu berjalan melewati beberapa rekan bisnisnya, sesekali melempar senyum saat ada yang menyapanya. Langkah kakinya sedikit tergesa-gesa, terus melewati kerumunan orang untuk segera sampai ke tempat dimana Anay berdiri. Gaun putih dengan bahan tile glitter itu memberi kesan bersinar tanpa perlu tambahan aksesoris. Belahan gaun di sisi kirinya memperlihatkan kaki jenjangnya yang sejak tadi sudah menjadi pusat perhatian kaum Adam.  Anay dan gaun itu adalah satu perpaduan yang mengagumkan. Iya kan? Iya! Tapi itu tadi, sebelum Kanjeng Ratu menghampirinya. "Control, the way you stand." Tegurnya, suaranya tegas memperingati.  Dia benar-benar kesal melihat cara gadis itu berdiri layaknya preman tanah abang. Anay yang tiba-tiba di tegur langsung merubah posisinya, berdiri kaku ala putri keraton. Kanjeng Ratu kembali meneliti penampilan Anay dari atas sampai bawah, "Okay, you look beautiful tonight. please be nice and don't forget... smile." Ujarnya lagi, penuh harap. Anay mengangguk malas, dengan sedikit senyum terpaksanya. Kanjeng Ratu tersenyum puas, "Good girl." Ia menepuk puncak kepala Anay sebelum kembali bergabung dengan beberapa rekan bisnisnya.  Anay mendesah frustasi. Dia benar-benar benci acara tahunan perusahan ini. Selain Dirgantara Group dan PT. Pramudya Bakti Tbk, ada juga beberapa perusahan besar lain yang juga hadir malam ini. Dan sebagai satu-satunya pewaris, dia terpaksa harus datang bersama Kanjeng Ratu untuk menggantikan Papi-nya, yang saat ini sedang dalam perjalanan bisnis. "Awas ada ayam!" "MANAAA? ANJIRR!"  Mendengar kata ayam, Anay spontan berteriak heboh. Sontak semua mata menoleh ke arahnya, lalu mulai terdengar suara tawa di belakangnya. Septian Dogpigdevilfuck!!  Anay buru-buru membekap mulut Tian, "Shut up, stupid!" Ujar Anay memperingati.  Sadar sedang menjadi tontonan, Tawanya seketika lenyap. Roh-nya hampir saja melayang saat Anay menyeretnya keluar tanpa aba-aba. Keduanya baru berhenti ketika sampai di depan toilet.  Tian berdiri tepat di belakang Anay dengan perasaan was-was. Berdasarkan pengalaman, seharusnya gaun dan higheels bukan masalah untuk menghajar seseorang. Tian menelan ludahnya susah payah saat mengingat Anay adalah pemegang sabuk hitam taekwondo. Yang dia tahu, gerakan 360 spin side kick bisa mengantarkan dia ke ICU dalam keadaan damai. Di luar perkiraan. Bukannya marah, Anay malah tergelak sambil memegang perutnya. "Ini gila sih! Harusnya gue mikir gimana nasib gue besok." Anay kembali terbahak mengingat ekspresi Kanjeng Ratu tadi, "Lo sih, nggak liat mukanya Kanjeng Ratu tadi. Parah, paraaah." Ujarnya masih dengan sisa tawanya. Tian mengerutkan dahinya. Merasa heran dengan situasi saat ini. Tapi ya sudalah! Itu lebih baik bukan? Tunggu! Ini masih terlalu dini untuk merasa lega. Rasanya masih ada yang mengganjal, seperti---akan ada badai setelah kekacauan tadi. Damn! Kanjeng Ratu! Anay tampaknya belum menyadari badai apa yang akan menyapu ratakan mereka setelah ini. Dia masih saja menertawakan hal yang dia anggap lucu. Padahal bagian yang menurutnya lucu itu bagian yang paling horor, menurut Tian. Mau tidak mau, Tian kembali mengingat kejadian demi kejadian yang terjadi tadi sampai ketika matanya menangkap raut keterkejutan Kanjeng Ratu, antara syok dan---ingin membunuh. membuatnya merinding. Begitu membuka pintu Apartemennya, Yaya di kejutkan dengan kedatangan dua mahluk astral. Sebut saja mahluk astral karena tidak ada manusia normal yang bertamu di jam satu pagi. "Ya, gue nginep ya? this is an emergency." Ujar Anay, melongos masuk tanpa menunggu jawaban dari pemilik Apartemen. "Let me sleep, this might be my last sleep." Ujar Tian sendu. Yaya mengerutkan dahinya, Tian terlihat putus asa. Belum sempat Yaya bertanya, Tian sudah lebih dulu melongos masuk. Ini sebenarnya Apartemen siapa sih? Dari pada frustasi sendiri dan ujung-ujungnya gila, lebih baik bertanya langsung kepada orang yang bersangkutan. "Jadi... Seberapa darurat masalah lo sampai harus nginep disini?" Tanya Yaya setelah meletakan segelas s**u coklat di hadapan Anay.  Anay menghabiskan susunya dalam sekali teguk, lalu meletakan kembali gelas kosongnya di tempat semula. Mengabaikan Yaya yang tengah menunggu jawabannya, dia bangkit lalu mengibas-ngibaskan tangan acuh, "Bahasnya besok aja. Efek ngantuk, otak gue jadi susah konek." Ujarnya enteng lalu berjalan masuk ke kamar Yaya. Yaya mengerjap beberapa kali, lalu menggeleng beberapa kali juga. "Itu temen gue? Kenapa kita bisa temenan? Kayaknya itu bukan temen gue deh!" Batin Yaya. Yaya mengalihkan pandangannya ke sofa panjang. Ada Tian yang sudah telentang disana, lengkap dengan jas dan dasi kupu-kupunya. "What is the problem?" Tanya Yaya. Tian mengangguk lesu, pandangannya menerawang, "This is a big problem. about Kanjeng Ratu and the company. Intinya, gue disana sebagai perwakilan perusahan. Dan... we did something crazy, in front of Kanjeng Ratu." menjeda kata-katanya, Tian menatap Yaya dengan raut wajah yang lebih serius. "Lo pernah liat Kanjeng Ratu syok sampe pengen bunuh orang nggak?" Satu alisnya terangkat, Yaya masih belum mengerti. Tapi dia menggeleng untuk menjawab pertanyaan Tian. "Why? What are you afraid of?" akhirnya Yaya membuka suara, dia mulai hawatir. Siapa sangka jawaban Yaya justru semakin mengurangi semangat hidup Tian.  "Gue takut, ada yang sengaja manfaatin kekacauan tadi untuk mencoreng nama baik Dirgantara dan Pramudya. Lo tahu sendiri kan, kalau berita ini sampe kesebar---"  Tian menghembuskan napasnya kasar, "Perusahan pasti kena imbasnya. Entah, saham yang turun atau kerugian lainnya yang harus di tanggung, Seribet itu... pikiran gue sekarang, Ya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN