Mobil melaju tenang di bawah langit sore, tapi hati Revina terasa seperti dihantam ribuan palu kecil. Jemarinya tak henti meremas ujung rok, seolah kain tipis itu bisa menahan degup jantung yang nyaris copot.
“Sayang, gimana ini? Aku deg-degan banget,” ucap Revina dengan suara bergetar sambil menoleh pada Hans—sang pacar yang justru tampak santai, satu tangan di kemudi, satu tangan lain bersandar ringan di jendela.
Hans melirik sekilas, senyum tipis muncul di wajahnya. “Revina Citra Ariani, coba lebih tenang. Mama dan papa nggak akan ngerebus kamu, Sayang,” candanya.
Revina menghela napas panjang, tapi kegelisahan tetap tampak jelas dari raut wajahnya. “Hans, kamu tahu sendiri … seumur hidup aku nggak pernah begini. Bayangin, 29 tahun hidupku, ini pertama kalinya aku berkunjung sekaligus berkenalan sama orangtua pacarku. Rasanya itu deg-degan sekaligus takut.”
Hans tertawa kecil, nada suaranya hangat. “Seharusnya aku udah ajak kamu ke rumah sejak awal kita pacaran. Tapi kamu selalu bilang belum siap. Sekarang kita udah setahun bersama, aku rasa udah waktunya kamu kenal keluargaku.”
Revina mengangguk, meski wajahnya masih pucat. “Itu sebabnya aku setuju. Tapi serius, aku takut.”
Hans menoleh sejenak, matanya menenangkan. “Rev, aku sadar kita belum ada rencana ke arah pernikahan karena kamu belum siap, dan aku menghargai itu. Tapi seenggaknya kamu harus kenal keluargaku dulu.”
Pria itu menambahkan, “Dan tadi kamu bilang apa? Takut? Kenapa harus takut coba, Beb?”
Revina menelan ludah. “Aku takut nggak sesuai ekspektasi mereka.”
Hans menghela napas, lalu berkata dengan nada mantap, “Aku nggak pernah minta kamu jadi orang lain, kan? Apa adanya aja. Aku cuma mau orangtuaku bertemu perempuan spesial di hatiku.”
“Selain itu, ekspektasi mereka nggak akan pernah mengalahkan rasa sayangku ke kamu. Aku yakin mereka akan lihat betapa berharganya kamu di hidupku,” lanjut pria itu.
Kata-kata itu menembus kegelisahan Revina, membuatnya sedikit lega. Senyum tipis akhirnya muncul di bibirnya. “Makasih, Hans. Makasih udah bilang begitu.”
Hans terkekeh. “Kita lihat aja nanti, se-bucin apa orangtuaku sama kamu.”
Mobil terus melaju, tapi bagi Revina, setiap detik terasa seperti hitungan mundur menuju panggung besar yang akan menentukan segalanya.
Getaran ponsel di dasbor membuat Hans refleks melirik layar. Tulisan Mama terpampang jelas, seolah menuntut segera dijawab.
“Mama ini nggak sabaran banget, Rev,” ucap Hans sambil tersenyum, lalu menempelkan hands free ke telinganya.
Suara Hans berubah hangat, penuh hormat, saat berbicara dengan wanita yang melahirkannya. Revina hanya duduk diam, mendengarkan potongan percakapan yang tak sepenuhnya ia pahami. Dua menit berlalu, panggilan berakhir, dan Hans kembali fokus ke jalan.
“Ada apa, Hans?” tanya Revina, matanya penuh rasa ingin tahu.
Hans menoleh sekilas, senyum tipis menghiasi wajahnya. “Mama nyuruh kita mampir ke minimarket dulu. Enggak apa-apa, kan?”
“Enggak apa-apa dong. Mama kamu nitip sesuatu, ya?”
“Iya, nitip es krim buat Revina.”
Revina spontan mengernyit. “Hah? Buat aku maksudnya?”
Hans terkekeh, bahunya berguncang ringan. “Bukan. Maksudnya Revina kecil. Aku belum cerita, ya? Baru-baru ini rumah jadi lebih ramai karena kedatangan sepupuku. Dan lucunya … namanya Revina. Bisa pas gitu, ya? Pacarku juga Revina.”
Revina terdiam sejenak, lalu tersenyum kaku. “Wah, umurnya berapa?”
“Kalau nggak salah tujuh tahun. Kelas satu SD.”
Revina mengangguk-angguk, mencoba membayangkan. “Jadi nanti ada dua Revina di rumahmu. Kalau boleh tahu, nama lengkapnya apa?” Entah kenapa Revina jadi penasaran.
Hans menggeleng. “Nah itu dia, aku nggak pernah tanya. Yang jelas nggak mungkin sama persis.”
“Dia dari kapan?” Revina bertanya lagi.
“Baru semingguan. Dia anaknya om-ku, adiknya Papa. Jujur aja, aku nggak terlalu akrab sama om-ku itu. Ketemu pun cuma sesekali pas acara keluarga. Selama ini dia tinggal di luar kota.” Hans menghela napas, lalu terkekeh. “Luar biasa, ya. Dia cuma tiga tahun lebih tua dari aku, tapi sekarang anaknya udah tujuh tahun. Sedangkan aku … belum nikah.”
Revina menatapnya dengan senyum menggoda. “Kasihan sekali. Kamu salah pilih pacar kayaknya, makanya nggak nikah-nikah.”
Hans tertawa lepas, matanya menatap Revina penuh keyakinan. “Enggak, nggak. Aku nggak pernah merasa salah pilih pacar. Bagiku, kamu itu satu-satunya wanita yang paling tepat untuk kujadikan istri.”
Kata-kata itu membuat Revina terdiam. Senyum perlahan merekah di bibirnya, dan untuk sesaat, dunia di luar mobil terasa berhenti. Revina bisa merasakan ketulusan Hans mencintainya.
***
“Ma, Pa … kenalin ini Revina. Perempuan yang selama satu tahun ini nggak pernah bosan aku ceritakan pada kalian,” ucap Hans dengan nada penuh kebanggaan.
"Satu tahun apanya? Mama pikir kamu sudah menceritakan segala tentang Revina sejak belum berpacaran dengannya."
Hans tertawa malu-malu, seolah baru saja tertangkap basah.
"Wah, cerita apa? Mudah-mudahan yang diceritakan tentang yang baik-baik aja," ucap Revina.
Kedua orangtua Hans—Karmila dan Wijaya menyambut Revina dengan senyuman hangat. Tatapan mereka begitu tulus, seolah sejak lama menantikan kehadiran gadis itu. Revina bahkan langsung dianggap seperti anak sendiri. Mereka menolak dipanggil om atau tante, maunya dipanggil Papa dan Mama oleh Revina.
Rasa gugup yang sempat mencengkeram hati Revina perlahan buyar. Ia bisa merasakan ketulusan yang memancar dari pasangan paruh baya itu. Kehadirannya benar-benar dirayakan, membuat hatinya lega sekaligus terharu.
Percakapan ringan mengalir di ruang tamu. Revina mulai merasa nyaman, kecanggungan yang semula mengekang kini berganti dengan kehangatan. Hingga suara langkah kecil dari arah tangga memecah suasana.
Seorang bocah perempuan berusia tujuh tahun turun dengan riang, matanya langsung tertuju pada Hans. “Om Hans, katanya bawa es krim. Mana?” serunya penuh antusias.
Hans terkekeh, lalu menunjuk ke arah Revina. “Es krimnya ada di tante cantik samping om, nih.”
Bocah itu baru menyadari keberadaan Revina. “Wah, iya. Maaf, Tante. Aku terlalu semangat sampai baru sadar ada Tante cantik di sini.”
Revina tersenyum, menyerahkan bungkusan es krim. “Ini es krimnya, semoga belum meleleh.”
Bocah itu menerima dengan mata berbinar. “Oh iya, kenalin. Aku Revina,” ucapnya polos, lalu berbicara lagi sambil menggenggam erat es krimnya, “Makasih ya, Tante.”
Meski sudah diberi tahu nama mereka sama, tetap saja Revina dewasa tertegun, lalu tersenyum kaku. “Sama-sama. Ngomong-ngomong, nama kita sama. Tante juga Revina.”
Bocah itu menatapnya dengan mata bulat penuh rasa ingin tahu. “Hah? Serius?”
“Iya, serius. Kalau kamu Revina apa lengkapnya?” tanya Revina, separuh bercanda, separuh penasaran.
Dengan suara lantang, bocah itu menjawab, “Namaku … Revina Citra Ariani.”
Detik itu, dunia Revina seakan berhenti. Jantungnya berdentum keras, wajahnya memucat. Nama itu … persis sama dengan namanya sendiri. Bagaimana bisa?
Hans yang duduk di samping Revina pun terdiam, matanya melebar tak percaya. Benarkah ini kebetulan?
“Ka-kamu serius nama lengkapmu itu?” suara Revina bergetar, nyaris tak terdengar.
“Iya, Tante,” jawab bocah itu polos. “Terus nama lengkap Tante apa dong? Enggak mungkin sama, kan?”
Keheningan menelan ruangan. Revina menatap Hans, tampak ragu untuk menjawab. Hans pun sama terkejutnya. Seolah sebuah rahasia besar baru saja terbuka, tapi tak seorang pun yang bisa memahami apa yang ada di baliknya.
Ini pasti hanya kebetulan....
Belum sempat Revina menjawab, suara riang Revina kecil kembali terdengar memenuhi ruangan.
“Papaaa! Kenalin nih, pacarnya Om Hans namanya sama kayak aku. Kembaran!” serunya sambil melompat kecil, menunjuk ke arah pintu.
Revina menoleh, dan seketika dunia seakan berhenti berputar.
Sosok pria tinggi dengan langkah mantap memasuki ruangan. Senyumnya sempat merekah untuk menyambut anaknya, tapi begitu matanya bertemu dengan Revina, senyum itu membeku.
Tatapan mereka terkunci.
Revina merasakan jantungnya berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Wajah pria tampan itu ... terlalu familier.
Pria yang dulu pernah Revina cintai, kini berdiri di hadapannya—sebagai paman dari pacarnya sendiri.
Suasana mendadak hening.
Sedangkan Revina kecil masih tersenyum bangga, tak menyadari badai yang baru saja meletus di hati orang dewasa sekitarnya.
Revina menggenggam jemarinya sendiri di bawah meja, berusaha menahan gemetar. Terlebih saat pria itu menatapnya dengan penuh keterkejutan, seolah bertanya tanpa suara ... kenapa ada di sini?
Benarkah dunia ini sungguh kecil?
Revina bertanya-tanya, dari sekian banyak pria di dunia ini ... kenapa harus cinta pertamanya yang menjadi paman dari pacarnya?