Bintang malam ini seperti tengah malu-malu untuk muncul atau memang awan mendung yang dengan kurang ajarnya menutupi mereka hingga langit tak menampakkan binar indahnya? Sofia tak tahu. Kepalanya terlalu penuh hanya untuk menebak masalah benda langit yang sedang dia tatap. Kejadian beberapa jam lalu sukses membuat isi kepalanya mendadak kosong. Sambil menyesap Wine di tangan, Sofia memutar ulang ingatannya sejak mereka sampai di rumah peristirahatan ini. Kebahagiaan tak terbendung terus berkembang tepat di detik di mana Nik menggiringnya masuk ke rumah ini. Namun, hanya perlu tiga kata mengenai isi hati pria itu, suasana hatinya hancur lembur. “Aku mencintaimu, Sofia.” Kata-kata itu berhasil membuat Sofia mengerang putus asa. Cinta? Nik mencintainya. Benarkah? Atau pria itu berpikir p

