Ketika cinta tengah memenuhi mereka, bermesraan sebanyak dan selama apa pun tak akan pernah terasa cukup. Terlebih ditambah kehamilan yang sedang melanda, Sofia bahkan tak mau melepaskan diri dari Nik. Wanita itu duduk dipangkuan Nik dengan kedua tangan yang memeluk lehernya. Sementara kepala Sofia bersandar pada bahunya. “Wangimu enak,” ungkap Sofia sambil mengusapkan pucuk hidung mancungnya ke leher Nik. Bukannya marah ataupun kesal karena pekerjaannya jadi terhambat, Nik malah merasa sikap manja Sofia ini sangat menggemaskan. Maklum saja, wanitanya ini sangatlah kuat hingga bersikap selayaknya wanita kalem sangatlah jarang. Itulah mengapa dia tak mempermasalahkan perilaku Sofia saat ini. “Rasanya mual di perutku langsung menghilang setelah mencium aroma tubuhmu, Nik. Benar-benar mene

