Diana Thesav.
Jadi, seperti inikah dia?
Gadis anggun yang menjadi perebutan para jentelman, disebut-sebut sebagai Ionna kedua karena paras mereka yang sama-sama cantik. Diana memiliki kecantikan yang unik. Wajahnya tidak semungil Ionna, bibirnya tipis, dan kulitnya putih bersih. Ia terlihat manis dalam balutan gaun biru muda yang dirancang desainer terkenal.
Diam-diam Duchess Laundrell menilai penampilan gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ada sebuah t**i lalat samar di bawah mata kanannya. Manik abu-abu gelap Diana kemudian berguling menangkap tatapan ingin tahu Margareta Laundrell.
Marchioness Francaiss tertawa pelan. Wanita itu mengira keponakannya sedang bercakap dengan para jentelman di hall.
“Perkenalkan, saya Diana Thesav, Your Grace. Teman satu akademi Lady Ionna Laundrell,” kata Diana memperkenalkan diri. Ia menegakkan punggung lalu melanjutkan, “juga keponakan Marchioness Francaiss. Ini kali pertamanya kita bertemu secara langsung, Madame.”
Duchess Laundrell membalas salam Diana. Menurut penuturan Marchioness Francaiss, keluarga Thesav dulunya merupakan keluarga terpandang di Duchy Magnolia. Ayah Diana merupakan kerabat jauh Marchioness Francaiss yang menikah dengan seorang wanita berdarah Matria. Mereka bertemu saat berkelana kemudian saling jatuh cinta. Hal lain yang Duchess Laundrell dengar tentang keluarga gadis ini adalah ibunya yang bukan dari golongan bangsawan. Keturunan Matria memiliki ciri khas rambut hitam keriting dan menjadi minoritas di Kerajaan Gouvern.
Setelah keluarga Thesav bangkrut terlilit utang, Marquess Francaiss mengadopsi Diana yang masih berusia sepuluh tahun. Berbagai pengetahuan dan budaya kebangsawanan dipelajarinya dalam waktu dua tahun. Ada kabar burung yang mengatakan Diana akan bertunangan dengan putra tertua Marquess Francaiss setelah debut. Namun kabar itu tidak kunjung dikonfirmasi baik dari Diana maupun Marquess dan Marchioness Francaiss sendiri.
Keluarga Francaiss memang memiliki tradisi menikah dengan kerabat jauh demi menjaga kemurnian darah.
“Kau di luar ekspektasiku, Lady Diana.” Duchess Laundrell berkata di balik kipas hitam berumbai hijaunya. “Tidak salah pujian yang kudengar tentang kecantikanmu di pergaulan kelas atas. Selamat atas debutanmu.”
Diana tersenyum sambil menyelipkan anak rambut di belakang telinga. “Terima kasih. Saya tersanjung atas pujian Anda, Madame.”
Marchioness Francaiss menimpali, “Asalkan Anda tahu, Lady Ionna dan Lady Diana adalah teman baik di Sanspearl. Lady Diana sering menceritakan kisah pertemanan mereka bersama Lady Veronica dan Lady Amanda. Itulah mengapa saya meminta izin Anda untuk mempertemukan mereka, Madame. Hampir satu tahun mereka tidak bersua.”
“Aku mengerti. Kalian bisa melepas rindu setelah Ionna melakukan dansa pertamanya.”
Ternyata benar. Diana tertawa dalam hati. Ternyata benar Duchess Laundrell tidak mencintai putrinya. Bila sang duchess sedikit saja memperhatikan, atau paling tidak mendengarkan Ionna, maka sudah sejak lama kami bertiga dihukum. Ionna, kau sungguh anak yang baik. Kau menutup mulutmu rapat-rapat dan bersandiwara seolah dirimu baik-baik saja. Kita akan bertemu sebentar lagi. Nantikanlah kejutan dariku, Ionna.
Susah-payah Diana mengontrol ekspresi wajahnya. Ia ingin membangun imej yang kuat di depan Duchess Laundrell sehingga orang-orang tidak bisa meremehkannya. Diana akan mendapatkan pengakuan wanita ini dan membungkam mulut bangsawan yang memandangnya rendah. Berasal dari keluarga bangkrut dan diadopsi oleh keluarga marquess bukanlah sebuah kesalahan. Diana bisa bertahan dalam lingkungan kotor seperti pergaulan kelas atas sebagai seorang lady.
Lihat saja nanti.
“Lady Diana, bisakah kau menceritakan keseharian Ionna selama kalian bersekolah di Sanspearl?” tanya Duchess Laundrell penasaran.
Dengan senang hati Diana menjawab, “Lady Ionna sangat baik, Madame. Kami bertemu di kelas filsafat ketika sang lady menawarkan bangku dan—”
“Aku tidak tertarik dengan kehidupan akademinya.”
Biasanya, orang-orang akan merasa takut atau sungkan ketika Duchess Laundrell menyela seperti ini. Namun, Lady Diana tidak menunjukkan keterkejutan apapun. Sikap tenangnya sungguh membuat Duchess Laundrell iri. Kapan Ionna bisa belajar dan mencontoh gadis di depannya ini?
“Lady, yang ingin kuketahui adalah bagaimana Ionna bersikap selama dia di Sanspearl. Aku tidak puas hanya dengan membaca laporan dari para guru.”
“Saya pikir saya tidak berhak menilai sang lady, Madame. Itu merupakan tindakan yang lancang bagi saya yang bukan siapa-siapa.”
Duchess Laundrell memberengut tak suka. “Kau memiliki cukup waktu untuk menjelaskannya, Lady Diana. Tidak usah merasa sungkan. Bibimu di sini bersamamu.”
Marchioness Francaiss mengangguk setuju, melemparkan isyarat supaya Diana melakukan apa yang sang duchess minta.
“Lady Diana, aku menunggu jawabanmu.”
Diana ragu membuka mulut. Bagaimanapun juga, ia percaya pertemuannya dengan sang duchess bukanlah kebetulan semata. Ia ingin mengucapkan serangkaian kata yang sudah tertahan di ujung lidah. Tetapi, ada sesuatu yang mencegahnya. Niat awal untuk memperburuk citra Ionna di depan sang duchess urung seketika. Diana ingin menyimpan hal itu sampai waktunya tiba. Dan lagi, bagaimana bisa Diana mengungkapkan identitas penyebar rumor yang tidak lain adalah dirinya sendiri?
Satu kata salah, rusaklah semua rencananya.
“Apa yang bisa saya katakan, Madame? Lady Ionna merupakan seorang lady yang sempurna tanpa celah.”
Duchess Laundrell tampak tidak puas dengan jawabannya. “Apa menurutmu aku akan percaya begitu saja?”
Tentu tidak semudah itu.
Rumor tentang sikap liar Ionna menjadi perbincangan utama di pergaulan kelas atas. Diana pun melanjutkan, “Sebelumnya maafkan saya, Madame. Saya tidak ingin membahas topik sensitif itu di sini. Namun sepanjang saya mengenal Lady Ionna, rumor itu sama sekali tidak berdasar.”
Marchioness Francaiss tampak gelisah dengan alur perbincangan mereka. “Your Grace, saya harap Anda tidak meragukan ucapan Lady Diana. Ketika saya bertemu dengan Lady Ionna pun, saya yakin rumor itu tidaklah benar.”
“Jadi, sebelum bertemu dengan putriku, kau memercayai rumor itu, Marchioness?”
“Tidak, maksud saya—”
Embusan napas sang duchess sontak membungkam mulut Marchioness Fraincaiss. “Aku tidak meragukan keponakanmu, Marchioness. Aku sedang mempertanyakan kenapa rumor itu bisa muncul jika Ionna sebaik apa yang Lady Diana katakan.”
Hah.
Diana menutup bibirnya yang menyeringai tipis.
Sebenarnya inilah tujuan Diana. Membuat Duchess Laundrell menaruh sedikit keyakinan terhadap Ionna lalu menjatuhkan harapan itu hingga hancur tak bersisa.
Hari ini, malam ini juga.
Diana akan menjatuhkan harapan Duchess Laundrell dan membuktikan kepada dunia bahwa Ionna bukanlah seorang malaikat.
***
Entah sudah berapa ratus pertanyaan yang ia terima, Ionna mulai merasa semuanya memuakkan. Para lady ini tiada habis-habisnya menanyakan cara Ionna membujuk Marquess Carnold ke mari, darimana dirinya mendapatkan aksesori dan gaun debutan, hingga alasan kenapa dirinya tidak pernah datang ke setiap acara yang keluarga mereka adakan.
Ionna mengela napas. Sekitarnya menjadi gerah karena banyaknya orang yang berkumpul. Tuhan, kapan ini akan berakhir?, batinnya lelah.
Tepat saat Ionna melayangkan doa itu, tiba-tiba seseorang memegang dan menarik tangannya ke belakang. Ionna terperanjat, mendonggakkan kepala, dan mendapati tubuh tegap Lucian perlahan bergerak menghalangi tubuh mungilnya. Untuk kali pertamanya juga Ionna melihat lelaki itu tersenyum kepada gadis lain selain dirinya.
Jantung Ionna berdenyut nyeri. Wajahnya menggelap seketika. Seolah tak cukup kakak laki-lakinya yang menjadi sorotan, kini orang-orang mulai tertarik pada Marquess Carnold. Ionna merasa mainan kesayangannya telah dicuri.
“Rupanya His Grace benar. Lebih baik melihat wajah marah Anda, My Lady,” kata Lucian setelah para lady pergi. Ionna mendongak begitu sapaan kakaknya disebut. Ia menengok ke sana-ke mari untuk menemukan Ansel, namun pria itu tidak ada di manapun.
“Siapa yang Anda cari?”
“Di-dimana Kakak?”
“Saya sempat berbicara dengan beliau. Beliau bertanya apa yang saya lakukan kepada Anda sehingga Anda memasang ekspresi seperti itu.”
Ionna memiringkan kepala tak mengerti. “Apakah wajah saya terlihat buruk?”
Lucian menggeleng pelan, menunjuk Ansel yang sudah kembali di barisan parlemen. “His Grace bilang, lebih baik melihat wajah marah Anda, bukan berarti ekspresi Anda saat ini terlihat buruk,” ulang Lucian sembari menggenggam jemari mungil Ionna yang dibalut sarung tangan satin. Ia pun menyeret gadis itu ke lantai dansa.
Terkejut, Ionna spontan mengerem langkah. “Tunggu, My Lord! Apakah kita akan berdansa sekarang?”
Satu anggukan dan Ionna merasakan jantungnya berdentum kencang. “Te-tetapi, saya belum siap.”
Lucian melanjutkan langkah mengabaikan kecemasan Ionna. “Anda tidak akan siap sebelum mencobanya.”
Ionna menelan ludah, memperhatikan satu-persatu pasangan dansa yang mereka lewati. Bisik-bisik tentang rumor, pujian terhadap ketampanan Lucian, serta praduga-praduga lain yang menyeret namanya di aula besar itu memudar begitu ia dan Lucian menginjak lantai dansa.
Lantai dansa di tengah hall ini memiliki motif matahari raksasa bewarna emas, seperti nama Hall of Sun yang dibangun oleh pendiri kerajaan. Berpuluh-puluh lilin menggantung di chandelier menerangi keseluruhan hall. Hari semakin larut dan sesaat para musisi menghentikan musik yang mereka mainkan.
Lucian menunduk meletakkan tangan di d**a tatkala musik pembuka dansa mengalun lembut. Ionna membalas hormat itu bersama para lady yang menekuk lutut di hadapan pasangan masing-masing. Gaun bewarna-warni yang memenuhi Hall of Sun terdistraksi oleh satu-satunya gaun putih gading Ionna di lantai dansa. Mungkin inilah alasan Ansel memilihkannya gaun bewarna putih. Lelaki itu akan dapat menemukannya di antara lautan para lady dan mengawasinya dari kejauhan.
Akhirnya, Ionna meraih tangan Lucian yang terulur di depannya dengan ragu. Ia begitu gugup dan takut membayangkan ujung heelnya yang lancip menusuk sepatu kulit pria itu atau terjatuh selama dansa. Ionna tidak mau mengacaukan dansa pertamanya yang berharga bersama Lucian.
“Jangan tegang, My Lady.” Lucian memangkas jarak di antara mereka lalu melingkarkan lengan di pinggang Ionna. Ia mengangkat jemari mereka yang bertautan lalu membiarkan telapak tangan gadis itu menyentuh dadanya. Dari jarak sedekat ini, Lucian dapat menghidu aroma wangi yang menguar dari figur berparas cantik ini.
“Lady Ionna, lupakan apapun yang terjadi hari ini. Tolong, jangan cemaskan orang-orang yang memperhatikan kita. Anggaplah mereka tidak ada.”
“Mudah mengatakannya, My Lord. Jantung saya rasanya seperti mau meledak.”
Lucian tersenyum lembut. “Itu reaksi yang wajar bagi seseorang dengan pengalaman petamanya. Cukup perhatikan langkah Anda dan ikuti irama lagunya, My Lady.”
Ionna menghirup napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan oksigen yang dibagi dengan ratusan orang.”Saya ingin melakukan yang terbaik, My Lord.”
“Anda pasti bisa.”
Musik pun mengalun merdu. Dengan gamang, Ionna mengikuti Lucian yang menuntunnya dalam langkah-langkah kecil. Pemuda itu memperlakukannya bagai kaca yang rapuh, sangat berhati-hati ketika hendak memutar tubuhnya maupun menjatuhkannya ke dalam pelukan. Rok gaun Ionna berayun-ayun seirama dengan alunan musik. Tatanan rambut yang sederhana tidak membuat Ionna khawatir akan rusak dan mengganggu dansa mereka.
Sejenak, Ionna merasa bersyukur karena Annie dan pelayan bawahannya yang mengurusnya. Jika tidak, mungkin Duchess Laundrell akan menyuruh pelayan suruhannya memberikan sentuhan-sentuhan rumit sehingga Ionna tidak bisa bergerak seleluasa ini.
Di sela-sela dansa, di balik punggung tegap Lucian, Ionna dapat melihat Jeremy Castiello berdansa dengan seorang lady bergaun kuning. Lucian menyadari perubahan ritme dansa mereka dan menarik gadis itu ke arah yang berlawanan.
“Ada apa, Lady?”
Ionna tersenyum masam. “Terima kasih. Anda menjauhkan saya dari Lord Castiello.”
“Itu sudah bagian dari tugas saya mendampingi Anda hari ini.”
Mereka mengangkat tangan yang saling menggenggam. Dengan cekatan, Lucian kembali menangkap pinggang ramping Ionna yang berputar di atas sepatu kacanya. Bagus. Sepertinya sepatu pemberiannya tidak melukai kaki gadis itu.
Sambil memandangi wajah tampan Lucian, dalam hati, Ionna bertanya-tanya, apakah pada debutan ini usahanya telah mencapai sedikit kemajuan? Ionna juga bertanya-tanya apakah ada sedikit celah untuknya masuk ke dalam hati sang marquess. Dua belas tahun Ionna lalui dengan mendambakan pria ini setiap hari. Entah di usianya yang ke lima tahun atau yang ke tujuh belas tahun, tiada orang lain selain Lucian Carnold yang dapat membuat organ penunjang hidupnya berdebar tak terkendali.
Ionna berdeham menyingkirkan pemikiran konyolnya. Dia bisa kehilangan keseimbangan bila salah langkah.
“Saya tidak tahu jika Anda penari yang baik,” puji Lucian yang entah mengapa terdengar seperti lelucon. “Padahal saya sudah mengantisipasi injakan Anda. Ternyata saya salah.”
Semburat merah berangsur-angsur menggerayangi kedua pipi Ionna. “Saya berusaha keras supaya hal itu tidak terjadi, My Lord. Kenapa Anda meledek saya?”
“Anda pasti sudah berlatih dengan giat.”
“Begitulah. Mama tidak akan memaafkan saya seandainya saya membuat kesalahan.” Ionna tersenyum getir. Mendadak suasana hatinya berubah mengingat seluruh latihan dansa yang menyiksa. Tidak hanya itu, diet ketat, menjaga kesehatan kulit, dan memastikan tiada satupun goresan di tubuhnya; Duchess Laundrell tidak akan melepaskan pengawasannya sedetikpun sebelum segalanya sempurna.
Ionna mengembuskan napas berat. “Saya—ah, saya sebenarnya tidak ingin bangsawan lain menggunjing Mama dan Kakak. Demikian pula dengan para tetua Laundrell. Mereka selalu saja menganggap Mama tidak bisa mendidik putrinya dengan benar.”
Mulut Lucian mengatup rapat. Mata gadis itu berkaca-kaca dan langkahnya mulai tidak teratur. Lucian segera memperbaiki tempo dansa mereka lalu menatap gadis itu lekat-lekat.
“Saya mencoba memahami Mama yang mengalami masa-masa sulit karena kepergian Papa. Saya tahu Mama merasa tertekan karena tuntutan para tetua. Tetapi—ugh, maafkan saya yang menjadi emosional, My Lord. Bisakah kita akhiri dansanya sekarang?”
“Kalau begitu, kenapa Anda tidak berterus terang kepada His Grace dan Her Grace tentang perasaan Anda?”
Tanpa sadar Lucian meremas jemari Ionna kuat, namun gadis itu justru menyunggingkan senyum yang mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Sebenarnya, sampai kapan Ionna akan terus bersandiwara?
“Katakan sejujurnya, My Lady,” gumam Lucian, membuat Ionna menajamkan pendengaran. Bariton pria itu beradu dengan musik orkestra yang mengalun semakin keras. Ia tidak dapat menangkap perkataan Lucian dengan jelas.
“My Lord? Maaf, saya tidak bisa mendengar Anda—arkh!”
Detik berikutnya, Lucian mempercepat gerakan mereka. Ionna yang terburu-buru menyusul langkah lebar Lucian tersandung sepatu kaca yang ia kenakan. Ia pun merintih, wajahnya sarat akan kesakitan. Di saat yang sama, penghujung musik tiba menandakan sesi dansa berakhir.
Tepuk tangan dan sorak-sorai memeriahkan sesi dansa yang telah berakhir. Lucian membelalak, tersadar akan tindakannya barusan. Ia menatap tangannya yang kosong lantas mencari Ionna yang berjalan pincang meninggalkannya.
“Lady Ionna?”
DEG
Andrenalin Lucian berpacu kencang. Pemuda itu segera mengayunkan kakinya mengejar Ionna di antara lautan manusia yang menghadang. Lucian sudah keterlaluan. Dia terlalu marah lantaran keadilan tidak pernah berpihak pada Ionna. Ia bahkan sampai tidak sadar telah melukai Ionna dan membuat gadis itu tekilir di tengah dansa mereka.
Kau menyakitinya, Lucian Carnold.
Langkah Lucian otomatis terhenti. Tidak. Jangan pikirkan itu! Ini bukan saatnya menceramahi diri sendiri dan mengabaikan tugasnya sebagai pendamping Ionna. Dia bukan pria tidak bertanggung jawab seperti Ayahnya yang meninggalkannya sendirian di hari kematian sang ibu.
Benar.
Dia bukan Ayahnya.
Bukan b******n gila yang telah mem—
“Marquess Carnold.”
Tuhan, kenapa Lucian harus mengingat kejadian itu sekarang?
To be continued