Entah ada angin apa tiba-tiba Ulya menelpon Akira. Padahal hari ini adalah jadwal perempuan itu tugas di kantor. Akan tetapi, ia tidak lagi memperdulikannya. Malah mengangkat telpon dari sepupunya yang sudah lama tidak ke Indonesia lagi. “Dasar bule! Kapan lo ke sini lagi?” canda Akira menatap layar ponselnya yang menampilkan sebagian wajah Ulya. Layar ponsel bergoyang ke samping, menampilkan beberapa furniture serba pinky khas anak perempuan. “Setelah lulus, gue bakal ke Indo, Ra. Besar kemungkinan gue menetap di sana. Soalnya perusahaan di sini baik-baik aja, dan enggak ada kendala. Mungkin sampai beberapa tahun, selepas gue selesai kuliah nanti.” “Oh ya, bagus dong! Jadi, lo bisa ke sini bareng gue,” ujar Akira senang. “Yup. Bosen juga gue di sini sendirian.” Ulya mencebikkan bibirn

