Sementara keluarga Adinda dan Eza sibuk mempersiapkan pernikahan, Adinda dengan Eza, mereka berdua pergi ke tempat Effendhi.
“Apa kau sudah yakin untuk katakan semua ini?” Tanya Eza.
Adinda menganggukakan kepalanya, dan tetap tersenyum meski ia tahu hal ini akan menyakitan untuknya dan untuk Effendhi.
“Za, kau itunggu di mobil saja! Aku sendiri yang akan menemui Fendhi.”Kata Adinda.
“Ya sudah, tolong buatlah suasana terbaik ya, good luck.”Kata Eza.
Adindapun iturun mobil untuk menemui Effendhi. Berat rasanya melangkahkan kaki, tetapi inilah pilihannya. Inilah yang terbaik untuk semua, tetapi tidak untuk Effendhi.
Dengan pelan Adinda menekan bell rumah Effendhi. Adinda gelisah untuk menemui Effendhi, ia merasa tidak mampu menatap mata orang yang sangat ia cintai. Bingung bagaimana caranya untuk memulai pembicaraan yang akan menyakitkan ini. Menyakitkan hatinya dan hati Effendhi. Tapi haruskah mengurungkan niatnya untuk tidak mengatakannya?
Meski terkadang tidak sanggup untuk merelakan perasaan hatinya, tetapi bayangan rasa sayang dan cinta untuk sosok sang Ayah sangatlah besar. Ia tetap dalam pendirianya. Mengorbankan perasaannya demi menepati janji untuk sang Ayah.
“Sayang? Aku sudah lama menunggu dirimyu, aku kangen sekali pada dirimu. Bayangkan, semenjak aku praktikum, kita tidak pernah ketemu. Sms tidak sempat, telepon sulit. Komunikasi tidak terjalin baik. Haduh, rasanya itu stres sekali tidak melihatmu sedetik saja.” Kata Efendhi.
Ini adalah kejujurannya.
“Ah, kau ini ada-ada saja, Fend.” Kata Adinda mencoba menanggapi.
“Ayo masuk sayang, aku ingin melepas rindu sama dirimu.” Kata Effendhi yang merasa sangat bahagia melihat kedatangan Adinda.
Adinda tersenyum berat akan sikap Effendhi.
“Yank, aku turut berduka cita atas meninggalkan Ayahmu ya. Maafkan aku yang tidak bisa datang untuk memberikan bahuku untuk sandaran kesedihanmu. Bukannya aku tidak ingin datang, tapi memang benar-benar tidak bisa. Kau juga tahu kan jarak tempat aku pratikum sangat jauh. Aku mohon, maafkan aku, Yank.” Kata Effendhi menyesal tak mampu hadir dalam pemakaman Ayah Adinda.
“Iya, Fend. Tidak apa-apa. Aku bisa mengerti kok.” Kata Adinda.
“Terima kasih ya, Yank kau memang yang paling bisa mengerti aku.” Kata effendhi sambil memegangi tangan Adinda.
“Fen, aku ingin berbicara sesuatu dengan dirimu, penting.” Kata Adinda dingin.
“Memangnya ingin berbicara apa sih, Yank? Kok agak aneh sikapmu?” Tanya Effedhi agak curiga.
“Sebelumnya aku minta maaf pada dirimu kalau selama ini aku hanya bisa menyakitimu.” Kata Adinda.
“Kau kok berbicara seperti itu sih, Yank?”Tanya Effendhi semakin curiga.
“Aku juga selalu membuatmu merasa tidak nyaman berada di sampingku. Aku tidak sempurna untukmu.”Lanjut Adinda.
“Aduh, Dinda sayang. Kau ini berbicara apa sih? Asal kau tahu, aku sayang sekali sama dirimu. Aku cinta kau apa adanya. Aku cinta kekuranganmu. Yank, sudah jangan berbicara kayak seperti itu lagi ya.” Kata Effendhi memeluk Adinda.
Adinda semakin takut untuk mengatakan perihal rencana pernikahannya dengan Eza. Mulut ingin sekali berucap, tapi hati selalu berusaha menahannya. Sejenak Adinda berfikir, janjinya kepada Ayahnya selalu terbayang. Sambil memejamkan mata dan melepaskan dari pelukan Effendhi, Adinda mulai mungungkapkan maksud kedatangannya itu.
“Fend, maaf. Hubungan kita cukup sampai disini.” Kata Adinda.
“Yaelah Din, kalau bercanda jangan kelewatan deh! Bercandamu garing tahu. Tidak lucu kali.” Kata Effendhi tersenyum.
“Ini benaran Fen, aku tidak bercanda. Kita putus!” Kata Adinda meneteskan air mata.
“Apa? Putus?”Tegas Effendhi yang kaget.
“Yah. Kita putus. Maafkan aku. Selamat tinggal.” Tangis Adinda dan langsung pergi meninggalkan Effendhi yang terluka.
Adinda tidak bisa melihat Effendhi menangis. Apa lagi menangis karena ulahnya. Ia tidak sanggup harus menyakiti Effendhi, tapi inilah keputusan terakhirnya. Meninggalkan kekasih demi pengabdian bakti untuk Ayah tercintanya.
“Din,apa alasanmu meninggalkanku? Kenapa, Din? Kenapa?’’ Teriak Effendhi sambil mengejarnya Adinda.
Adinda sudah masuk mobil meninggalkan rumah Effendhi. Seketika itu pula hati Effendhi sangat hancur. Dalam hatinya timbul pertanyaan alasan Adindha meninggalkannya. Tiada asap kenapa ada api? Tiada mendung kenapa ada hujan? Itulah yang selalu Effendhi pertanyakan, apa alasan Adinda meninggalkannya?
Effendhi sangat bingung dan tak menyangka Adinda meninggalkanya. Ia sangat yakin, selama ini hubungannya dengan Adinda baik-baik saja. Tak ada masalah serius yang terjadi antara dirinya dengan Adinda. Bahkan ia juga tahu kalau Adinda sangat mencintai dan menyayanginya. Iapun mencari tahu jawaban atas pertanyaan yang membuatnya tak mengerti itu.
Effendhi pergi ke rumah Adinda untuk mencoba mencari tahu alasan Adinda meninggalkannya. Awalnya ia mengira, alasan Adinda meninggalkannya karena terlalu lama ditinggal praktikum di luar kota yang membuat dirinya dengan Adinda sulit berkomunikasi.
Tetapi alasan yang ia pikirkan itu buyar tatkala Ia melihat ada banyak orang di rumah Adinda. Hatinya sangat terkejut. Yang membuat hatinya paling terkejut yaitu saat ia melihat adanya janur kuning dan tenda besar di depan rumah Adinda dengan bunga-bunga indah yang menghiasinya.
Dalam hatinya ia bertanya pernikahan siapa?
Padahal setahunya, Adinda adalah anak itunggal dari keluarga Wijaya, dan di rumah Adinda tidak ada saudara yang tinggal bersamanya. Jadi ini seakan tidak mungkin untuknya.
“Eh, mas Effendhi, lama tidak muncul mas? Kemana saja mas?” Kata Satpam rumah Adinda yang sudah mengenal baik Effendhi karena sering melihat Effendhi mengantarkan Adinda pulang.
“Tidak kemana-mana kok Pak. Maaf Pak, ini kok terlihat sangat ramai sekali? Ada acara apa sih, Pak?”Tanya Effendhi penasaran.
“Ya acara pernikahan toh Mas.” Jawab Satpam rumah Adinda.
“Pernikahan? Pernikahannya siapa, Pak?” Tanya Effendhi.
“Loh? Apa mas Fendhi tidak tahu? Ini pernikahan raden ayu Adinda dengan raden mas Eza, Mas.” Jawab Satpam rumah Adinda.
“Adinda menikah dengan Eza?” Kata Effendhi kaget tak percaya.
“Iya Mas, ini buktinya.” Kata Satpam rumah Adinda sambil menyodorkan undangan pernikahan Adinda dengan Eza.
“Aku tak percaya, aku ingin masuk! Aku ingin melihatnya!” Kata Effendhi mencoba memaksa masuk.
Langkahnya dihentikan sama Satpam rumah Adinda.
“Eeitz. Maaf Mas, Mas dilarang masuk. Mas kan tidak punya undangan, lagi pula ini adalah acara pernikahan orang ningrat bukan terbuka untuk orang biasa.” Kata Satpam rumah Adinda.
“Tapi pak, saya ingin bertemu dengan Adinda. Saya ingin berbicara penting dengannya. Bapak kan tahu aku pacaran ma Adinda?” Kata Effendhi bersi keras memaksa masuk.
“Bapak tahu, Mas. Tapi Mas tetap tidak boleh masuk. Ini pesan dari raden ayu Adinda sendiri untuk tidak memperbolehkan mas masuk. Saya hanya menjalankan amanat yang raden ayu Adinda berikan. Saya tidak ingin kena marah, Mas. Bisa-bisa nanti saya malah dipecat.” Kata Satpam rumah Adinda.
Melihat Effendhi yang bersi kukuh untuk memaksa masuk menemui Adinda, Satpam rumah Adinda yang lain pun datang untuk menahan Effendhi yang keras kepala itu.
“Ada apa ini?”Tanya Satpam lain.
“Aku ingin bertemu dengan Adinda. Aku mohon, izinkanlah aku, Pak. aku harus bertemu dengan Adinda. Aku ingin berbicara sesuatu yang penting sama Adinda.” Pinta Effendhi memohon.
“Apa Mas kurang jelas? Tamu yang bukan dari orang ningrat dilarang masuk, Mas juga tidak punya undangan sebagai syarat masuk menghadiri pernikahan raden ayu Adinda. Toh, ini juga amanat yang raden ayu Adinda berikan secara langsung kepada kami. Kami hanya menjalankan itugas.” Jawab Satpam lain menahan langkah Effendhi.
“Maafkan saya mas Fendhi, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Mas tetap tidak boleh masuk, ini perintah dari raden ayu Adinda.” Kata Satpam.
“Tidak, tidak mungkin Adinda yang menyuruh. Dinda,keluar! Aku ingin bilang pada dirimu, aku masih sangat mencintaimu. Dinda kau dengar, kan? Keluarlah, Din! keluar!” Teriak Effendhi yang langkahnya tertahan Satpam saat ingin menemui Adinda.
Kerusuhan terjadi di gerbang rumah Adinda. Kerusuhan itu menciptakan suasana gaduh.
Mendengar suara-suara dari kegaduhan itu, Adinda kaget dan beranjak dari pelaminan disusul dengan Eza yang mengikutinya dari belakang. Hampir seluruh tamu undangan menyaksikan kegaduhan itu.
“Fend, apa yang kau lakukan?’’ Tanya Adinda.
“Din, apa kau akan menikah?’’ Tanya Effendhi yang masih ditahan oleh satpam-satpam rumah Adinda.
“Iya aku akan menikah hari ini.” Jawab Adinda dengan tegasnya.
“Tapi kenapa, Din? Aku ini orang yang sangat kau cintai, kan?” Kata effendi tak percaya.
“Itu dulu! Sekarang kita sudah putus, jadi aku bebas ingin menikah dengan siapa saja.” Kata Adinda.
“Kita belum putus dan tidak akan pernah putus! Aku bisa melihat rasa cinta untukku di matamu. Tak ingatkah kau dengan semua kenangan yang telah kita lalui bersama?” Kata Effendi mencoba meluluhakan Adinda.
“Tidak Fend, aku sudah lupakan semua kenangan itu, sekarang aku akan membuka lembaran baru dengan orang yang menjadi pilihan aku.’’ Kata Adinda yang mulai berlinang.
“Kau bohong Din.” Bantah Effendhi menarik tangan Adinda.
“Hari ini aku akan menikah. Lihat kebaya yang aku pakai! Ini kebaya yang akan aku gunakan untuk menikah. Pergilah! Kau hanya menganggu acara pernikahanku!” Kata Adinda.
“Aku tak akan pergi tanpa membawamu pergi bersamaku!” Kata Effendhi.
Effendhi mencoba mengajak paksa Adinda meninggalkan pernikahannya, tetapi tiba-tiba Eza menahan tangan Adinda yang satunya.
“Apa kau akan pergi meninggalkan pernikahan kita?” Tanya Eza.