Persahabatan yang sudah terjalin begitu eratnya itu menumbuhkan benih –benih cinta. Itu rasa yang mulai Rizky rasakan. Berkali-kali ia mencoba menepisnya, tapi ia tak pernah mampu. Malah rasa itu semakin besar dan terus semakin kuat.
Rizky tahu bahwa hatinya mulai menyukai Annessa sejak pertama ia bertemu dengan Annessa. Rizky sadar, ia tak akan pernah mampu mengungkapkannya. Ia selalu teringat dengan janji persahabatan antara dirinya dengan Annessa yaitu bahwa sahabat adalah untuk selamanya.
Oleh sebab itulah, ia memutuskan untuk mengubur dalam-dalam perasaanya itu di dasar hatinya. Ia hanya mampu menahan rasa di hatinya itu demi ikatan persahabatan.
Baginya cinta tak harus memiliki. Melihat Annessa tersenyum sudah cukup membuatnya bahagia. Meski setiap bertemu Annessa, hasrat itu masih ada, ia tetap bertahan. Biarlah waktu yang menjawab semua.
Saat di taman kampus, Annessa menemui Rizky dengan cerianya.
“Kau kenapa Ness? Kok hari ini terlihat happy sekali? Kesambet ya?” Tanya Rizky penasaran.
“Ye, seenaknya saja kau bilang. Mana ada setan siang-siang seperti ini.” Kata Annessa.
“Ya adalah, jin kan tidak kenal waktu." Kata Rizky.
"Hah, iya-iya. Pokoknya, intinya aku ini sedang sangat bahagia." Kata Annessa yang benar-benar sedang merasa sangat bahagia.
"Lha trus bahagianya karena apa? Sebagai sahabatmu, aku wajib dibagi rasa bahagiamu, kan?” Tanya Rizky.
Annessa tersenyum. “Tentu saja! You are my only bestfriend, Riz! Hhmm, sini dekatkan telingamu kepadaku! Aku ingin membisikkan sesuatu padamu.” Kata Annessa mendekatkan mulutnya ketelinga Rizky.
Nafas hangat Annessa menggelitik di telinga Rizky. Kupingnya sampai memerah. Tak tahan dengan perlakuan Annessa, Rizky sedikit menghindar.
"Geli, Ness!" Kata Rizky.
"Yaelah, cuma berbisik juga!"
"Kau meniupnya! Niat berbisik tidak sih?" Kesal Rizky.
"Loh, kok marah sih? Hei, aku kan hanya sedang bercanda padamu. Lagian aku penasaran, kenapa kupingmu putih dan bersih sekali padahal kau kan laki-laki!" Jelas Annessa.
"Salahku memang jika aku terlahir seperti ini?"
"Ya tidak sih. Tapi kan membuat iri! Masak aku yang cewek bisa kalah putih darimu. Lihatlah perbandingan warna kulit kita!" Annessa menarik tangan Rizky dan membandingkannya dengan miliknya. "Beda jauh! Padahal, dibandingkan yang lain, aku ini jauh levih putih loh! Kau itu mirip papaku, dia juga putih banget kulitnya. Jika aku nurun papaku, aku yakin bisa lebih putih darimu! Sayang aku nurun mama makanya putihnya di bawahmu." Kata Annessa.
Rizky menghela nafas. Masalah kulit saja bisa membuat iri. Dasar cewek pikirnya.
Rizky mengelus pucuk rambut Annessa. "Bukankah dengan mewarisi warna kulit mamamu maka kau memiliki peninggalan berharga dari beliau?"
Annessa menoleh ke arah Rizky. Ia lalu memeluk Rizky dengan cepat. "Hampir saja melupakan hal ini. Rizky, terima kasih sudah mengingatkanku. Aku bersyukur mewarisi warna kulit seperti mama. Ini hal yang indah."
Mereka saling melepaskan pelukkan.
"Kau sangat menggemaskan! Jangan mengeluh soal hidupmu! Bersyukur adalah cara mudah untuk bahagia!" Kata Rizky. Ia lalu mengelus-elus pucuk kepala Annessa.
Annessa mengangguk dan kembali memeluk Rizky.
"Jika kau seperti ini terus, aku jadi semakin sulit mengendalikan diriku. Sial, janji persahabatan kita sungguh mengikatku. Maaf Ness, harusnya aku tak seperti ini." Batin Rizky.
"Sepertinya kau melewatkan tujuanmu?" Tanya Rizky mencoba mengingatkan.
Annessa langsung melepaskan pelukkannya pada Rizky. "Aahh, lupa!" Ia lalu mendekatkan lagi mulutnya ke telinga Rizky dan berbisik apa yang ia ingin sampaikan kepada Rizky.
Dan ya, mendengar penuturan dari Annessa membuat Rizky menganga tak percaya.
“Apa?" Kata Rizky yang merasa sangat kaget.
"..." Annessa mengangguk.
Rizky menatap Annessa untuk memperoleh ketegasan dan kejujuran dari Annessa.
"Kau diajak pacaran oleh Dewa Hermansyach?” Tanya Rizky mengonfirmasi.
“Loh, kau kenapa sih? Kaget setengah mati seperti itu. Tidak suka ya sahabatmu ini ditembak cowok?” Kata Annessa sedikit kecewa.
“Ya bu-bukan seperti itu maksud aku Ness, apa kau sudah yakin sama dia? Apa kau benar-benar mengenali dirinya? Kau kapan mengenalnya? Kenapa aku sama sekali tidak tahu? Apa dia anak kampus sini?” Tanya Rizky yang gelagapan.
"Kau bertanya apa introgasi sih? Terlalu banyak, bro!"
Rizky mencoba menghilangkan rasa kaget.
"Kan aku hanya bertanya, Ness. Soalnya rasanya ini terlalu tergesa-gesa."
"Iya deh aku jawab. Aku ini mengenal Dewa baru srkitat dua mingguan yang lalu. Bertemu di cafe kampus waktu kau sibuk melayani cewek-cewek kelas lain yang minta nomor ponselmu sampai lupa waktu." Kata Annessa.
"Melayani cewek-cewek minta nomor ponsel?" Gumam Rizky.
"Oh, jadi tidak peka jika para cewek itu menyukaimu? Haha, kau keren sekali, Riz! Tidak sadar jika dirimu ini terkenal di lingkungan kampus. Apa kau berniat jadi manusia es seperti karakter utama manga shojo?" Tanya Annessa.
"Itu tidak penting, Ness! Tolong jelaskan saja kenapa kau yang baru bertemu dengannya dua minggu yang lalu tiba-tiba dia bisa mengajakmu berkencan!" Pinta Rizky.
"Huh, padahal aku kepo sama tipe cewek yang kau suka karena dirimu lempeng-lempeng saja pada semua cewek." Annessa memanyunkan bibirnya.
"Ness..." Habis sudah kesabaran Rizky.
"Iya-iya aku cerita! Dia bilang cinta pada pandangan pertama." Kata Annessa.
Haruskah ia bilang pada Annessa jika cinta pada pandangan pertama itu sulit berhasil? Sial, ini seperti yang ia alami sendiri.
"Kau harus bijak menilai seseorang apa lagi untuk urusan asmara seperti ini."
"Kau benar, aku tahu itu. Dewa tampan macho membuatku deg-degan saat dia menatapku. Aku sampai salting sendiri."
"Adakah yang mengganjal di hatimu, Ness? Itu gejala ketertarikan pada lawan jenis."
Bagi Annessa, cerita pada Rizky adalah cara terbaik untuk mendapatkan saran.
“Sebenarnya aku masih bingung Riz, aku yakin apa tidak sama dia. Maka dari itu, kau kan sahabatku yang puaaallliiiinnnggg baik, kasih saran donk!” Kata Annessa.
“Kau suka tidak sama Dewa, Ness?” Tanya Rizky.
“Emm... aku suka sekali sama dia Riz, dia itu ganteng, cool, keren. Cewek mana sih yang tidak tertarik sama Dewa?” Jawab Annessa dengan bahagia.
Rizky tepok jidat. Apa Annessa baru pertama kali jatuh cinta?
“Jangan lihat cinta dari penampilannya saja, Ness!” Kata Rizky.
“Maksudmu?” Tanya Annessa terlihat bingung.
Rizky tahu jika Annessa itu kurang bagus di pelajaran mengingat betapa sulitnya ia mengajari Annessa. Sebaiknya membuat kata-kata yang mudah Annessa pahami.
“Hehe, tidak apa-apa kok. Ya sudah, sahabatmu ini hanya mampu memberi saran untuk lakukan yang terbaik dan dengarkan kata hatimu.” Kata Rizky yang menahan kepiluan tangisan batinnya.
Ya, menahannya. Sebagai orang yang mencintai Annessa, seharusnya ia tak memberikan saran seperti ini yang justru akan membuat Annessa terdorong untuk menerima Dewa. Namun lagi-lagi, ia tak berdaya akan janji persahabatan itu.
“Terima kasih banyak Riz, aku mengerti sekarang. You are always be my best friend. Forever.” Kata Annessa.
“You are always be my best friend, forever? Kapan aku bisa menjadi teman spesial di hatimu, Ness? I want to be a special friend in your heart like your lover. Forever “ Batin hati Rizky yang terluka.
Annessa berlari meninggalkan Rizky untuk menyatakan cintanya sebagai jawaban dari cinta Dewa si anak pemilik kampus. Di benak Annessa terlintas sebuah rasa yang membingungkan, karena sebenarnya ia tak tahu apa itu perbedaan tipis antara cinta dan suka. Yang ia tahu, ia hanya merasa bahagia di dalam hatinya.
Rizky hanya bisa melihat Annessa yang berlari jauh meninggalkannya.
"Ahh, sepertinya nanti malam aku akan kesulitan tidur. Haruskah aku menstok kopi untuk menemaniku main game?" Gumam Rizky.
Sebenarnya hati Rizky sangat hancur, sakit rasanya mendengar kata-kata dari Annessa, tapi inilah pilihan Annessa. Annessa yang memilih untuk memberikan hatinya bukan untuk dirinya. Adakah peluang untuk hatinya?