Istana Kerajaan France

1093 Kata
Tubuh Rebecca menggeliat, matanya terbuka. Ada rasa terkejut saat dia menyadari dia berada dalam mobil. Lalu pandangannya mengedar ke sekelilingnya. Matanya melebar melihat empat orang bertubuh besar yang dia temui di pesawat ada bersamanya, catat satu mobil bersamanya. Rebecca melihat keluar jendela mobil, ini bukan China. Entah ke mana mereka membawa Rebecca saat ini. Yang jelas bangunan-bangun di kanan dan kirinya bukanlah bangunan khas Negara China. "Di mana ini?" tanya Rebecca panik membuat ke empat orang itu menoleh kepada Rebecca. "Kita di Prancis, Tuan Putri," jawab mereka dengan bahasa inggris. Tuan Putri? Apa maksud lelaki itu? Apakah mereka salah menangkap orang? Rebecca terbelalak, lalu dia tau bahwa dia kini diculik. Dia mencoba membuka pintu mobil. Dia juga mencoba memecahkan kaca mobil namun kaca itu tidak kunjung pecah. "Lepaskan aku, apa kau tidak tahu siapa aku?" teriak Rebecca mencoba melepaskan dirinya. Ke empat orang itu hanya mengangguk hormat. Rebecca memutar bola matanya jengah. Siapa orang yang berani menculiknya? Bahkan keluarganya tidak pernah berhubungan dengan negara ini maupun kerajaannya. Apa mereka akan menjualnya di tempat pelacuran? Astaga, membayangkannya saja membuat Rebecca merinding. Rebecca tidak pernah berurusan dengan orang-orang di Negara Perancis. Mungkin mereka adalah musuh bisnis kedua orang tuanya? Mereka sengaja menculik Rebecca untuk meminta tebusan? Sampailah mereka di altar Kerajaan France. Rebecca terbelalak, bagaimana mungkin dia bisa sampai di Kerajaan France? Kerajaan yang berdaulat di bawah kemegahan Negara Prancis. Mereka berempat membuka pintu, seorang pengawal membungkuk hormat kepada Rebecca. Gadis bermanik mata coklat itu mengedarkan matanya. Bangunan megah di depannya sepertinya tidak asing.  "Silahkan masuk Tuan Putri," ucap pengawal itu menunduk hormat. Mereka mempersilahkan Rebecca, namun Rebecca masih bersikeras untuk pergi dari sana. "Tidak, aku tidak mau. Kalian menculikku!" pekik Rebecca menyita perhatian dari sekelilingnya. Semua orang di sana menatap Rebecca kagum, banyak dari mereka bergunjing siapa gerangan wanita muda itu yang dijemput dengan mobil kekaisaran France. Pasti dia orang yang sangat berpengaruh. "Tidak, tolonggggg! Berani-beraninya kalian menculikku ke mari. Keluargaku tidak akan mengampuni kalian!" teriak Rebecca marah. Dia mencari ponselnya di saku jaket. "Anda mencari ini Tuan Putri?" tanya salah satu pengawal. Kenapa mereka selal memanggilnya Tuan Putri? Rebecca menghampiri pengawal itu dan mencoba merampas kembali ponselnya. "Kembalikan, aku bersumpah akan membuatmu menderita. Keluargaku bukan keluarga sembarangan bodoh!" teriak Rebecca lagi. Terjadi aksi saling rebut ponsel di depan Kerajaan France. Merasa diperhatikan orang banyak, mereka menyeret paksa Rebecca masuk ke dalam kerajaan. Pangeran Edward berjalan dengan cepat, dia mencari keberadaan Christine yang menurut para pelayan mereka sedang berada di ruang baca kerajaan.  Brakk. Putri Christine menatap sekilas Pangeran Edward yang kini memasuki ruang baca. "Apa maumu hah?" bentar Pangeran Edward meremas lengan Putri Christine. Sang istri memberontak, mencoba melepaskan lengannya. "Lepaskan aku!" pekik Putri Christine mengibaskan tangan Pangeran Edward. Putri Christine menatap Pangeran Edward dengan kening berkerut. "Apa lagi yang membuatmu marah?" tanya Putri Christine kebingungan. Pangeran Edward melempar buku yang tadi dipegang Putri Christine hingga terjatuh di lantai yang dingin. "Ini semua ulahmu kan, kamu yang menculik putriku!" "Apa? Menculik?" tanya Putri Christine dengan senyuman mengejek. "Cepat katakan, di mana putriku?" teriak Pangeran Edward mulai tidak bisa mengendalikan emosinya. Pangeran Edward mendapatkan kabar dari salah satu mata-matanya yang mengikuti penerbangan Rebecca. Mereka bilang ada sekelompok pengawal yang membawa id card kekaisaran hingga bisa membawa Rebecca dengan mudah keluar dari pesawat. "Permisi Pangeran Edward, Tuan Putri Christine." Mereka berdua menoleh, di sana berdiri lima pengawal, empat dari mereka adalah orang-orang yang menculik Rebecca di pesawat. Pangeran Edward hafal benar wajah mereja. Wajah-wajah yang dikirimkan Paul kepada dirinya. Mata keduanya melebar saat mereka berlima menyingkir dan menampakkan Rebecca yang berdiri dengan pandangan bingung dan juga ketakutan. "Putriku, Rebecca," lirih Pangeran Edward dengan suara tercekat. Putri Christine menatap Rebecca dengan mata berkaca-kaca, entah mengapa melihat anak itu di hadapannya seperti mengupas luka lamanya. Sang putri melangkah menuju Rebecca, dia memegang pipi Rebecca. "Kamu tumbuh menjadi gadis cantik, seperti ibumu." Rebecca menyipitkan matanya, siapa wanita cantik di hadapannya kini yang mengenal mamanya? Apakah mereka kolega mamanya? "Anda mengenal mama saya? Bisakah anda membawa kembali saya kepada mama saya? Mama akan memberikan segalanya untuk anda Nyonya," ucap Rebecca membuat Putri Christine terkekeh. "Ibumu yang mana Nak?" tanya Putri Christine membuat Rebecca semakin bingung. "Christine!" Pangeran Edward memperingatkan Putri Christine atas apa yang diucapkan kepada Rebecca. Dia tidak bisa membuka rahasia puluhan tahun dengan gamblang. Itu akan melukai perasaan Rebecca. "Ah, Rebecca kamu kenal lelaki ini? Lelaki ini suami saya." Rebecca menatap Pangeran Edward, ada perasaan seperti mereka pernah mengenal dan juga sangat dekat. Pangeran Edward tidak mampu menatap Rebecca terlalu lama. Pangeran Edward seperti beradu pandang dengan Margareth kekasihnya. "Nona Soora, cepat siapkan kamar dan juga keperluan lainnya untuk Rebecca. Buat dia nyaman tinggal di sini." Putri Christine memperintahkan kepala pelayan untuk mempercayakan keperluan Rebecca di sana. Rebecca menggeleng saat Nona Soora menggandeng tangannya. "Tunggu, Anda mengenal mama saya. Tapi kenapa anda membawa saya ke sini?" tanya Rebecca lagi. "Bawa dia," ucap Putri Christine pada pengawal kerajaan. Mereka hendak menyeret paksa Rebecca. "Kalian tidak tahu siapa saya? Saya putri dari keluarga Corlyn dan Carollino. Jika kalian tidak ingin Kerajaan ini hancur maka lepaskan saya. Kyaa, lepaskan aku," teriak Rebecca menggema di ruang baca. "Bawa Putri Rebecca, perlakukan dia dengan hormat," ucap Pangeran Edward akhirnya. Pangeran Edward tidak ingin Putri Christine mengatakan hal-hal ceroboh kepada Rebecca. Pangeran Edward tahu, istrinya melakukan ini agar dirinya tidak semena-seman terhadap Putri Christine. Kedatangan Rebecca seperti hukuman mati bagi PangeranEdward. Kini dia harus semakin tunduk dan mengikuti apa kemauan dari Putri Christine. Rebecca memberontak, dia berteriak di Istana Timur. Namun tidak ada yang menghiraukan teriakannya. Semua tunduk di bawah kuasa Putri Christine dan juga Pangeran Edward. "Kalian akan menyesalinya, aku bersumpah untuk itu!" desis Rebecca dengan mata menyala menatap Putri Christine dan juga Pangeran Edward. Pangeran Edward mencengkeram kedua bahu Putri Christine, dia mendorong wanita itu hingga tersungkur di lantai. "Bagaimana mungkin kamu membawa Rebecca ke mari? Iblis kamu Christine!" "Yang membawanya kemari itu kamu Edward, kamu mencari-cari keberadaannya bukan? Lalu kenapa kamu menyalahkanku? Justru kamu harus berterimakasih denganku karna membawanya kemari, menemui ayah kandungnya." "Tutup mulutmu sialan!" Putri Christine tidak akan melepaskan peluang emas ini, dia akan menggunakan Rebecca sebagai senjatanya untuk mengendalikan Pangeran Edward. "Kau akan maju sebagai kandidat Presiden Edward, setelah itu aku akan mengirim putrimu kembali ke negaranya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN