"Emang ya punya temen kayak lo ini harus di musnahkan. Gak bisa tah sehari aja lo gak suudzon sama gue?" dumel Chelsea.
"Gue ngomong apa adanya, biasanya kalau senyuman lo udah begitu wajib di curigai. Emang lo mau kemana hari ini?" tanya dengan lembut.
"Nanti juga lo tau ko, jadi sekarang tunggu luar dulu ya. Gue mau ganti baju!" seru Chelsea dengan kesal. Kevin hanya tertawa keras melihat wajah Chelsea yang sangat kesal ke arahnya.
Kevin langsung keluar dari kamar Chelsea dan menunggu di bangku ruang TV yang ada di rumah Chelsea. Setelah 5 menit menunggu Chelsea mengganti bajunya, tak lama kemudian Chelsea menghampiri Kevin yang sedang membuka hpnya.
"Vin, ayok berangkat!" ajak Chelsea dengan excited, Kevin langsung memasukkan handphonenya ke dalam saku celana dan menatap Chelsea dari atas hingga bawah.
"Cantik amat lo, mau kemana?" tanya Kevin sambil meledek Chelsea.
"Ish, katanya kita mau jalan-jalan ke luar. Jadi, harus cantik dong. Masa gue mau jalan buluk banget," dumel Chelsea.
"Jangan cantik-cantik, nanti lo malahan di pepet sama cowo lain. Gue gak mau ya waktu quality time kita ke ganggu sama orang lain," ucap Kevin sambil menyilangkan kedua tangannya di depan d**a.
"Ish, gak cocok lo ngalus kayak gitu sama gue. Mau sengalus apapun lo, gak akan buat gue luluh terus posting di media sosial gue tentang lo ya. Inget cukup kita aja yang tau tentang ini semua. Mau temen lo atau temen gue gak boleh ada yang tau kalau kita sahabatan," ucap Chelsea dengan kesal.
"Apa salahnya coba kita ngomong ke teman-teman kita. Toh, mereka juga bisa jaga rahasia ko."
"Gak ada yang tau ya, bisa jadi mereka yang mulutnya ember bin lemes ngomong ke media. Nanti berita miring di mana-mana, gue gak mau kehidupan gue jadi asumsi publik."
Kevin hanya menghembuskan nafasnya dengan pelan dan menganggukkan kepalanya di hadapan Chelsea. "Okay, gue gak akan ngomong sama siapapun tentang ini semua. Cukup kita aja yang tau tentang hubungan ini. Tapi, gue gak bisa janji ketika lo tersakiti. Jangan salahkan gue, kalau gue akan bertindak di luar batas ketika melihat lo menangis."
"Iya, gue paham gimana khawatirnya lo sama gue. Udah ya gue gak mau kita gak jadi pergi karena masalah yang kayak gini. Gue lebih enjoy dan lebih bahagia ketika hubungan kita gak ada yang tau," ucap Chelsea dengan sangat lembut.
"Gak boleh berubah, gue gak mau tau ya. Hari ini lo minta apapun gue turutin, minta aja apa yang lo mau gak usah sungkan."
"Tap------"
"Gak ada tapi-tapian, gue yang ngajak berarti gue yang akan keluar uang. Uang lo simpen aja buat nonton gue di Istora," ucap Kevin sambil tertawa kecil.
Kevin POV On.
Hari ini adalah hari Minggu, yang artinya semua atlet yang ada di asrama semuanya libur. Gue menggulingkan badan ke kanan dan ke kiri untuk mengatasi rasa bosan yang melanda.
Biasanya hari Minggu kayak gini gue mabar sama Jombang. Tapi, Minggu ini waktunya dia jalan sama cewenya. Jangan tanya gue dia kemana, karena anak itu kalau pacaran bucinnya akut.
Gue langsung berjalan gontai ke dalam kamar mandi dan melakukan ritual mandi gue. Di dalam kamar mandi, gue terus bersenandung dengan ria sambil menggosokkan tubuh gue dengan sabun.
"Waktu pertama kali, kulihat dirimu hadir. Rasa hati ini, inginkan dirimu. Hati tenang mendengar, suara indah menyapa. Geloranya hati ini tak ku sangka."
"Rasa ini tak tertahan, hati ini selalu untukmu. Terimalah lagu ini dari orang biasa, tapi cintaku padamu luar biasa."
Srrrrrrrr.
Setelah menyanyikan beberapa bait lagu, Gue langsung mengguyur badan gue dengan air shower. Hanya bunyi air showerlah yang menggema di dalam kamar mandi ini. Setelah puas dengan acara mandi, gue langsung keluar dan memakai baju gue dengan lengkap.
Gue langsung memegang handphone dan scroll beberapa timeline yang ada di i********:. Hingga akhirnya gue melihat story dari Chelsea yang sedang duduk di balkon kamarnya dengan di temani segelas teh hangat dan novel di tangannya.
"Chelsea udah pulang? Wah, parah banget ini anak ya. Dia pulang dari Yogyakarta gak bilang sama gue. Liat aja nanti," ucap gue dengan sebal. Gue langsung mengambil jaket, dompet, dan kunci mobil gue di atas meja nakas.
Gue pun keluar kamar, terlihat ada Fajar, Jojo, Ginting, dan Leo yang sedang berbincang-bincang di ruangan tengah asrama.
"Mau kemana, Koh?" tanya Leo ke arah gue.
"Mau jalanlah, emangnya kalian jomblo yang bisanya ngedekem di asrama aja. Cari pacar gih," jawab gue sambil meledek yang lainnya.
"Ntar Koh, gue mau langsung ngajak ke pelaminan aja. Kalau pacaran mah kelamaan dramanya, kalau udah nikahkan mau ngapain aja bebas."
"Wah, parah emang otak lo ini Leo! Gue aja yang udah umur kepala dua mikirnya belum sampe sana. Lo yang masih belasan tahun udah mikir dewasa banget," celetuk Fajar.
"Gila otak lo, abis di cuci sama siapa? Fajarkan pasti?" tuduh Kevin
"Fajar teros, apapun yang jeles pasti Fajar yang kena bantalan. Fajar baik, Fajar nurut, Fajar pinter, jadi Fajar diem aja di hujat sama China medok," ucap Fajar dengan dramatis.
Pletak!
Satu jitakan mulus mendarat di kepala Fajar, yang membuat si empunya meringis kesakitan.
"Cari pacar ndas lo?! Ini udah mau turnamen ya, mikirin turnamen dulu aja. Kalau masalah jodoh itu urusan belakangan. Btw mau jalan sama siapa lo? Wah, jangan-jangan sama Mb yang kemarin itu ya, Vin?" tuduh Fajar.
"Lo kayak gak tau aja sih Jar, gebetan Kevin banyak. Jadi, tinggal pilih aja lo mau yang mana. Hari ini jalan sama yang ini, besok jalan sama yang onoh, besoknya jalan sama yang satunya, dan seterusnya. Beda sama kita," celetuk Jojo.
Mendengar ucapan Jojo, gue langsung mengelus-ngelus d**a dengan pelan dan mendelik kan mata gue sebal. "Kayak sendirinya aja engga," celetuk gue dengan sebal.
"Lah gue mah setia Koh, gue sama Shanju doang kalau jalan. Emangnya lo, semuanya di ajak jalan." Fajar, Leo, dan Jojo mereka tertawa puas melihat gue yang sedang kesal.
"Udahlah gue mau jalan dulu. Takut di tungguin, bye-bye para jomblo. Jangan lupa ya kalau udah di beresin semuanya,"ledek Kevin ke arah mereka semua.
"Rese lo," dumel Fajar, Gue langsung pergi ke parkiran.
"Mau kemana, Mas Kevin?" tanya satpam yang ada di pelatnas.
"Ada urusan Pak ke depan, saya pergi dulu ya Pak. Permisi Pak," ucap gue sambil menjalankan mobil keluar dari pekarangan pelatnas.
Gue menjalankan mobil dengan santai dengan mendengarkan lagu di playlist yang ada di dalam mobil. Macet, itulah yang gue rasakan saat ini. Mau kemanapun Jakarta akan selalu macet. Gak peduli hari apapun itu.