Diantara Kita

1666 Kata
Pagi-pagi sekali, Yuki sudah tiba disekolah saat suasana sekolahnya masih sepi, hanya ada beberapa siswa-siswi yang sudah datang. Masih memakai tas ranselnya, Yuki duduk-duduk santai di bangku panjang depan kelasnya sambil memainkan ponsel. Membuka chat grup w******p-nya yang hanya beranggotakan Yuki, Icha dan Manda dengan nama yang bikin geli sendiri yaitu 'SAMAWA'. Singkatan dari Sakinah, Mawaddah, Warrohmah. Aseli! Dikata mau kawin kali! Dan yang mencetuskan nama grup Mereka adalah Icha. Icha sih emang nyampah banget anaknya, jadi wajar lah. Sebenernya ide membuat grup yang berisikan Mereka bertiga itu dimulai dari Icha yang selalu nge-chat Yuki dan Manda, dan isinya tuh nyampah semua. Kalo gak ngirimin foto-foto absurd bin aneh ya ngirimin kata-kata yang sampah abis. Akhirnya, diputuskan oleh Yuki untuk membuat grup itu. Katanya biar gilanya sekalian bareng-bareng. Hahaha... Ichacha : Kuy, gmne sma cwok baru ttangga sblah? Gw mw liat tmpang doi dong. Yuki Maysa : Yaqiinn lo pada mau liat fotonyaa? Ntar ngencess lagi. Sedia ember dlu sana sama tisu buat ngelap iler. Jaga-jaga aja Ichacha : elaaaah, tnpa lo suruh gw udh siap sedia keleus. Manda : Icha kan sedia gojek sblum ujan, kuy. Yuki Maysa : bhahaha, mau kmne lo naik gojek cha? Ichacha : jonggol! udh buru cpt ksh tau! Yuki Maysa : Niiih gua berrriii bwt lo smw. Yuki Maysa sent a picture Yuki Maysa: gmneee badhaaaiiii gaaakk? Cobaaa itu liaatt dia pake nempelin jari dibibir gitu!!!! Ya tuhaaann dede nyeraah baaang ?? Ichacha : ANJIIIR KUY INI BENERAN DIA?? Yuki Maysa : IYALAH! Ichacha : FIX! Tau gini gw bkalan sring" krumah Yuki bwt ngliat doi Manda : nyokap gmna nyokap? Ntar doi ngomel lg lo plang sore mlu Ichacha : elaaah spik ae ngerjain tugas Yuki Maysa : kamvret lo cha. Bsa bener ngelobinya Ichacha : gpp ki skali-kali. Btw lo dpt drmna deh potonya? Yuki Maysa : yaelah apa sih yg gbisa buat yuki? ? Manda : yuki kan keponya dh akut. Gw yakin ni anak nge stalkin doi mpe akar2nya Yuki Maysa : nah eta!? Manda : kelakuaaan dasaaarrrr Yuki Maysa : tp berfaedah kan? ? Manda : pala lo Yuki udah ketawa-ketawa aja waktu baca isi chat-an grup Mereka dari semalam hingga berlanjut sampai pagi ini. Tidak menyadari kalau sudah ada seseorang yang kini sedang duduk disebelahnya dan memerhatikannya yang sedang asik menatap ponselnya sambil ketawa-tawa sendiri. "Foto siapa, tuh?" Yuki tersentak kaget saat mendengar suara berat-berat seksi yang tidak asing ditelinganya, lalu dengan cepat kepalanya menoleh. Betapa kagetnya Dia saat dilihatnya kini Maxime sudah duduk disebelahnya dengan jarak yang lumayan dekat. Bahkan hidung keduanya hampir menempel kalau Yuki tidak buru-buru menggeser duduknya. Alamaaakkk, ini kenapa Maxime bisa ada disiniiiii? Yuki mengedarkan pandangannya dan mendapati suasana sekolah yang masih terlihat sepi. Tumben banget ini Maxime udah dateng pagi-pagi gini, biasanya cowok itu akan datang lima menit sebelum bel berbunyi. Maxime melirik layar smartphone Yuki yang menunjukkan akun i********: milik Deva yang sedang cewek itu kepo-in. "Itu siapa?" Tunjuk Maxime pada layar ponsel Yuki, dengan refleks Yuki menutupi layar ponselnya dan menekapnya erat-erat. "Kepo!" Lalu gadis itu pun melesat dengan cepat memasuki kelas yang sudah diisi oleh beberapa siswa-siswi dan meninggalkan Maxime yang masih terdiam mematung ditempatnya. Maxime yang melihat kepergian gadis itu hanya menggeleng-geleng kepala heran. Bukannya dia tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh ketiga gadis itu di grup WA mereka. Bahkan Maxime sempat melihat Yuki yang sedang mengintip akun i********: milik cowok tetangga baru sebelah rumahnya. Iya! Akhirnya Maxime tahu siapa cowok yang bakalan menggeser posisinya di hati Yuki. Kemarin, saat dirinya keluar dari halaman rumah Yuki, Maxime tidak sengaja melihat cowok itu yang sedang membersihkan motornya dengan telaten. Tubuhnya agak berotot yang saat itu hanya dibalut dengan kaos putih tipis ketat ditambah celana santai selutut. Yhaaa, pantesan aja Yuki lemah banget ngeliat ini cowok. Ternyata tipe-tipe Yuki gitu! Darimana Maxime tau? Icha lah! Dia kan sahabatnya Yuki dari SMP. Udah tau banget tipe-tipe cowok ideal Yuki kayak gimana. Tinggal pancing Icha aja sedikit, keluar semua udah cerita-cerita tentang Yuki, yang untungnya tidak membuat cewek itu curiga. Bahkan Maxime bisa tahu nomor Yuki juga dari Icha, sejak awal disaat Maxime mulai menyadari perasaannya terhadap gadis itu. ** Bel istirahat sudah berbunyi nyaring dari lima menit yang lalu. Yuki, Manda dan Icha masih asik melihat layar ponsel Yuki yang menunjukkan akun i********: Deva. Iya! Mereka lagi kepo-in cowok itu bertiga. Sumpah ya kelakuan! "Kenapa lo gak follow doi, Kuy?" Tanya Manda sambil men-scroll profil Deva. Sedangkan Yuki masih mencatat tulisan di papan tulis kedalam buku tulisnya, yang sesekali ikut mengintip layar ponselnya. "Gak lah. Gengsi keles. Ntar disangkanya gue nge-stalkin doi lagi." Jawab Yuki, "Emang iya, kan?" Icha melirik Yuki sekilas dengan senyum miring, dan Yuki cuma nyengir-nyengir aja. "Gila! Hawt banget ini cowok aseli. Kenapa ya? Cowok kemejaan tuh kegantengannya jadi nambah berkali-kali lipat gini? Ckck." Celetuk Icha asal, Yuki tergelak, "Hahaha... Iya banget! Apalagi kalo abis wudhu, deh Cha! Subhanallah bet dah." "Ho'oh. Nah apalagi foto yang ini! Kuy, look it deh!" Icha menyorongkan layar ponsel Yuki didepan wajah gadis itu yang menunjukkan foto Deva menggunakan kemeja modelan slim-fit berwarna putih dan celana levis coklat selutut ditambah pake kacamata. Yaah, yaudah dah! devamahesa The winner pose; knowing you can, but deciding you won't. ? "Demiiiiiii!!! Liat itu, Kuy, lengannya menggoda banget buat gue bersandar disanaa," Icha malah heboh sendiri sambil menatap layar ponsel Yuki dengan mata berbinar-binar. "Hahaha anjiiirrr..." Yuki malah ketawa-tawa aja dengerin omongannya Icha "Eh, lo pada laper gak, sih? Gue laper banget ini. Kantin yuk!" Manda berdiri dari duduknya sambil memegangi perutnya, kelaparan. "Gue gak ikut deh, nitip basreng aja dua rebu," Yuki merogoh sakunya dan menyerahkan selembar dua rebuan kepada Manda. "Ayo, Cha! Kita butuh tenaga ekstra buat ngeliatin foto-foto doi ntar," Manda menarik lengan Icha untuk berdiri. "Anjir tenaga ekstra! Hahaha... Iye bentar! Nih, Kuy, gua balikin." Icha meletakkan ponsel Yuki di meja sebelah buku Yuki. "Iya, gih sana, jan pake lama." Setelah kepergian dua cewek itu, Yuki kembali serius mencatat tulisan didepannya sambil sesekali bersenandung. *** Maxime memasuki kelas dengan santai, keningnya berkerut dalam saat melihat seisi kelas yang sepi dan hanya ada Yuki disana yang sedang mencatat entah apa. Maxime tersenyum kecil, lalu dengan perlahan Ia langkahkan kakinya ke meja gadis itu dan mengambil tempat duduk di sebelahnya tanpa menimbulkan suara. Yuki ini termasuk orang yang kalau udah serius sama satu hal, pasti udah gak menghiraukan apapun lagi disekitarnya, kayak waktu tadi pagi saat Maxime menghampiri gadis itu dan duduk disebelahnya, Yuki tidak menyadarinya padahal sudah cukup lama Maxime duduk disana. Maxime memerhatikan cara gadis itu menulis, tulisan Yuki itu gak cakep-cakep amat sih, cuman rapi dan jelas. Dan kepala gadis itu yang menunduk saat menulis, membuat rambutnya yang saat itu digerai berjatuhan menutupi sebagian wajahnya, membuat tangan Maxime gatal untuk merapihkannya. Dan entah sejak kapan Maxime jadi suka banget memerhatikan hal-hal kecil yang dilakukan oleh gadis itu. Tak sengaja, Maxime melirik ponsel Yuki yang ada dihadapannya, layarnya itu masih menyala dan belom terkunci. Iseng, Maxime mengambil ponsel Yuki dan memeriksa menu-menu didalamnya. Maxime mencoba untuk membuka galeri foto gadis itu yang ternyata tidak di kunci, tumben banget. Isi foldernya itu banyak banget ternyata, dan ada beberapa foto artis korea yang Yuki lagi suka banget. Yaitu fotonya Song Joong Ki dan Song Hye Kyo di drama yang lagi booming banget, bahkan sampai dibuat folder khusus untuk foto-foto Mereka. Maxime tersenyum sambil melirik Yuki, Dia tahu kalau Yuki suka banget nontonin drama korea, bahkan di kelas pun Maxime suka curi dengar Yuki yang membahas drama korea yang ditontonnya bersama Manda. Maxime men-scroll folder lainnya, dan ada satu folder yang mengusik perhatiannya, foldernya itu 'tanpa nama' dan saat Maxime membukanya, tubuhnya menegang seketika. ** Deva baru saja kembali dari tempat print-an yang terpusat di bagian west-area menuju mejanya saat Zidan -teman satu divisi yang mejanya bersebelahan dengannya- menaruh sesuatu di atas meja kerjanya. "Apaan nih, Dan?" Tanya Deva melirik selembar kertas tanpa berniat membukanya, perasaannya mulai agak gak enak. "Buka aja," Jawab Zidan sekenanya, sambil mengetik sesuatu di atas keyboard-nya dengan serius. Deva meletakkan kertas hasil print-an nya ke dalam brief ordner khusus data-data miliknya, lalu mengambil kertas tersebut yang dilihat dari tampilan luarnya mirip seperti sebuah undangan. Jantung Deva berdetak tak karuan, perasaannya diliputi kegelisahan antara enggan membuka undangan tersebut atau membiarkannya saja. Dan saat Ia melihat isi didalamnya, tubuhnya menegang seketika dengan rahang mengeras, pegangan pada kertas ditangannya menguat, dan dengan kasar Deva membuang undangan tersebut ke dalam tempat sampah didekatnya, lalu pergi begitu saja meninggalkan meja kerjanya menuju tempat yang setidaknya membuat jantungnya kembali berdetak normal. Zidan melihat kepergian Deva yang menuju area dapur di south-area dengan kening berkerut, lalu melirik undangan yang diberikannya sudah teronggok mengenaskan di dalam bak sampah. ** Maxime meletakkan ponsel Yuki diatas meja saat gadis itu sudah selesai menulis, pura-pura santai. Saat gadis itu menoleh kearahnya, Maxime hanya melemparkan senyum manisnya, membuat Yuki mengerjapkan matanya berkali-kali. Sejak kapan Maxime ada disini? "Lo... Ngapain disini?" Tanya Yuki gugup, sambil membereskan peralatan tulisnya. "Duduk lah," Jawab Maxime santai, Yuki mendelik, "Ya gue juga tau. Maksudnya kenapa harus duduk disini? Kan masih banyak bangku yang lain." "Kalo gue maunya disini?" Maxime menyeringai, dengan iseng disentuhnya kening gadis itu dan mengusapnya lembut. "Apa, sih?" Yuki beringsut menjauh sambil mendorong tubuh Maxime. Maxime tersenyum lebar, "Nanti pulang sama siapa?" Tanyanya, "Sendiri lah. Menurut ngana?" Jawab Yuki sedikit ketus, "Tunggu didepan gerbang ya. Jangan pulang duluan, awas lo pulang duluan!" Tukas Maxime menunjuk wajah Yuki. Yuki mengernyit, "Ngapain? Males banget nunggu di gerbang sendirian kek orang b**o," Terdengar suara bel dua kali pertanda masuk sudah berbunyi, Maxime melirik ke arah pintu kelas lalu beranjak dari duduknya. "Pulang bareng gue! Awas balik duluan!" Kata Maxime serius. Dan dengan santai, cowok itu berjalan menuju mejanya yang ada dideretan paling belakang tepat saat beberapa teman-temannya mulai memasuki kelas. Yuki terdiam sejenak dengan senyum tertahan, dan entah kenapa jantungnya jadi berdetak tidak karuan membayangkan pulang sekolah nanti Ia akan bersama Maxime. Duh, Yuki! Kan lo mau move on! Dodol ih! *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN