Bab1 - Tabrakan

2078 Kata
“Caca! Cucian piring numpuk! Enak bener udah nyantai di kamar!” bu Tari berteriak lantang. Meneriaki anak tirinya yang baru saja masuk ke dalam kamar setelah pulang dari kerja. Di kamarnya sini Caca menghela nafas. “Bentar, Ma, aku hari ini capek banget. Di kantor banyak kerjaan. Mau lurusin punggung bentar.” Namanya Carmilla Arlivia dan dia biasa dipanggil Caca. Tinggi tubuhnya 155cm, kulitnya putih bersih dengan rambut sepunggung yang sedikit bergelombang. Bentuk wajahnya oval dengan hidung mancung dan memiliki satu lesung pipi. Tahun ini umur Caca genap 20 tahun. Bhuk! “Aaa!” jerit Caca saat kakinya yang menjuntai ke lantai itu ditendang sampai menghantam kaki ranjang. Caca jadi bangun, duduk mengusap betis yang nyut-nyutan. Dengan kedua tangan yang menekuk di pinggang, Bu Tari menatap tajam. “Kamu di sini itu numpang! Membesarkanmu sampai segede gajah ini juga ngeluarin duit banyak! Kerja Cuma jadi OB aja sok-sok’an capek! Jangan kebanyakan gaya kamu!” bentaknya, sampai tetangga yang ada di samping rumah bisa mendengar suara melengking ini. Caca memejamkan kedua mata, dia tak menangis tapi menahan rasa amarah yang benar-benar hanya bisa ditahan. “Cepat, cuci piring sana. Habis itu beli galon. Minumnya habis.” Suruh Bu Tari lagi sembari menarik lengan bahu Caca. Setelahnya dia melangkah keluar karna mendengar suara Aruna yang memanggil. Caca menatap kesal pada punggung yang menghilang dari kamarnya itu. Menutup wajah dengan kedua telapak tangan dan beranjak untuk melakukan tugas. Dengan langkah pincang karna kaki matanya ngilu, Caca berdiri di wastafle sini. Mulai menyalakan kran air dan memegang spon. “Aku lulus, Ma. Yee, bisa masuk lima puluh besar!” dengan begitu bangga Aruna menunjukkan kertas keterangan kelulusan. Bu Tari memeriksanya. Dia tersenyum bahagia karna ini adalah pertama kalinya Aruna membuktikan jika memiliki nilai baik. “Janji lho, Ma, beliin motor buat kuliah.” Aruna menangih yang pernah Bu Tari katakan dulu. “Aku udah buktiin ke mama kalau bisa masuk peringkat lima puluh besar dari dua ratus murid di satu sekolahan.” Kedua bahu Bu Tari melemah. “Run, jahitan mama baru sepi lho. Yang terpenting masuk kuliahnya dulu. bayar masuknya saja sudah sepuluh juta. Itu ambil cicilan di bank, pakai jaminan sertifikat tanah di belakang pabrik sana.” Aruna menjatuhkan p****t kasar ke kursi ruang tamu. Bibirnya mengerucut dengan wajah ngambek. “Kan ada mbak Caca, Ma. Dia kerja udah jalan dua tahun, kan?” “Gajinya Caca buat makan kita sehari-hari. Buat saku kamu sekolah. Dia sendiri aja pegang uangnya pas-pasan kok,” tutur Bu Tari. “Besok kalau cicilan di banknya udah lunas, pasti mama belikan motor.” “Iihh, Ma ….” Rengek Aruna dengan wajah tak suka. “Gedung tempat kerja mbak Caca kan gede. Dia suruh pinjam sama boss-nya dulu, kan bisa, Ma.” Bu Tadi terdiam memikirkan usulan anaknya. “Cckk, kaya’ pas mbak Caca ngurus pemakaman papa waktu itu, Ma. Itu kan dia pinjem sama boss-nya juga.” Aruna mengguncang lengan mamanya. “Suruh mbak Caca pinjem, Ma. Aku malu lah, dari SMA udah nebeng mulu sama Rere, masa’ kuliah juga harus nebeng sih,” gerutunya. Bu Tari menatap iba pada anak gadis satu-satunya yang berkulit sedikit kecoklatan. Dilihat dari fisiknya sudah berbeda jauh dengan Caca. Begitu kentara jika memang mereka bukan saudara kandung. “Yasudah, nanti mama suruh Caca ngutang.” Putus bu Tari. Wajar Aruna langsung berbinar, dia berhambur memeluk mamanya. “Makasih, Mas, makasih. Aku sayang banget sama mama.” ** Pukul 9.00pm “Ca, bangun!” dengan kasar Bu Tari menepuk lengan tangan Caca. Caca yang baru mulai memejamkan mata satu jam lalu langsung terlonjak kaget. Nafasnya sampai terengah-engah saking terkejutnya. “Beliin jarum jarum jahit.” Suruh bu Tari. Caca menghela nafas panjang dengan tangan yang mengusap d**a. “Ya Allah, Ma … ini udah malam banget. Toko pojok tutupnya jam delapan.” “Kamu bisa beli di samping taman kota sana, kan? Dia sana tutup jam sebelas. Ini masih jam sembilan, buruan sana!” Caca melirik mamanya dengan sangat jengkel. “Kenapa? Nggak mau?” tebak bu Tari yang melihat ekspresi wajah Caca. “Kenapa nggak besok saja sih, Ma?” suara Caca melemah. “Ini celana punya pak Basuki. Mau diambil besok siang. Nanti pagi-pagi buta mama mau ngelembur. Cepet sana, Ca! kebanyakan ngejawab keburu tokonya tutup!” ** Dengan memakai motor butut peninggalan almarhum papanya Caca keluar dari halaman rumah. Diperlakukan selayaknya babu sudah biasa bagi Caca. Dia tetap bertahan di rumah ini karna tanah dan rumah bangunan ini adalah haknya. Ini milik mama kandung Caca yang meninggal dua minggu setelah melahirkannya. Papa Caca menikah dengan seorang wanita muda. Umur keduanya terlampau jauh. Awalnya memang Tari memperlakukan Caca dengan baik, tapi setelah dua tahun berjalan semua berubah. Sejak Tari dinyatakan hamil sampai memiliki Aruna, Caca hampir tak pernah lagi merasakan kasih sayang. “Mbak, jarum jahit mesin obras sama benang.” Caca menunjukkan dua potong kain kecil sebagai sample benang. Si embak yang jual menerima kainnya, lalu pergi mengambilkan yang Caca mau. Mungkin sekitar lima menit Caca menerima plastik bening berisi barang yang dia mau. Caca beranjak pergi untuk kembali ke rumah karna memang tidak memiliki tujuan yang lain. Melajukan motor pelan menyabrang jalan, lalu mulai menambah laju ketika sudah berada di jalan raya yang luas dan sudah sedikit sepi. Tin! Tin! “Awas! Aaa!” jerit Caca, bersamaan dengan motornya yang oleng dan bablas menabrak pohon, lalu masuk ke dalam selokan yang ada di pinggiran jalan. Seorang lelaki bertubuh tinggi yang akan menyabrang jalan itu beranjak bangun. Satu kakinya memang sempat terkena ban motor Caca, tapi tidak terlalu kencang makanya dia tidak terluka. Dia menoleh ke kiri kanan, ada beberapa orang yang berhenti untuk menolong. “Mbak, mbak,” panggil seseorang sembari menepuk lengan tangan Caca yang tertutup jaket. “Kepalanya luka ini.” salah seorang berucap setelah melihat pelipis Caca mengeluarkan darah. “Aaggh ….” Caca melengkuh dengan meringis kesakitan. “Hey, Mas!” teriak seseorang yang jongkok menolong Caca. Lelaki yang tadi hampir ditabrak Caca itu menghentikan kaki yang hampir masuk ke mobil. Mobil yang sengaja berhenti di depannya, menjemputnya. “Bawa dia ke rumah sakit depan sana. Tadi kamu kan yang mau nyabrang jalan.” “Lho, iya. Kamu nyabrangnya nggak nengok kanan kiri. Makanya ini mbak-nya jadi kecelakaan begini. ayok, tanggung jawab. Bawa dia ke rumah sakit. Kasihan dia terluka.” yang lain mengimbuhi. Keadaannya sedang urgent dan lelaki ini tak mau berdebat. Jadilah dia balik badan, melangkah mendekati Caca dan langsung meraih tubuh Caca. Menggendong Caca masuk ke dalam mobil. Tak menunggu, mobil van warna putih ini melaju cepat. Tepat ketika mobil pergi, beberapa lelaki berbaju hitam datang. mereka celingukan mengamati keadaan sekitar. Kentara sekali jika sedang mencari seseorang. ** Di dalam mobil sini Caca tak sadarkan diri. Dia berada di pangkuan si lelaki yang menyebabkan kecelakaan tadi. “Namanya Carmilla Arlivia. Anak pertama dari Yudi Hartono. Dia punya satu saudara perempuan dan tinggal bersama dengan ibu tirinya. Umurnya tahun ini 20 tahun dua bulan lalu. Dia bekerja di … hah?” Nino si ahli IT yang mencari data lengkap Caca memekik. “Apa?” tanya si lelaki yang memangku Caca. “Dia salah satu karyawan di perusahaan pusat, Pak.” Nino melanjutkan. Lelaki dengan hidung mancung dan kedua alis yang tebal ini memerhatikan wajah Caca lekat. Dia mencoba mengingat setiap karyawan yang pernah ia temui di perusahaan. Kedua matanya melebar setelah mengingat satu kejadian di mana Caca pernah memergoki dirinya tengah kencing di kamar mandi umum khusus karyawan. “Jangan ke rumah sakit. Langsung ke apartemenku.” Perintah Va’as dengan suara tegas. “Baik, Pak.” Patuh Arven yang menyetir mobil. ** Mobil van yang dibawa Arven memasuki basemen sebuah apartemen. Nino langsung keluar dan turun. Dia membukakan pintu belakang dan membantu Va’as menurunkan Caca. Sigap Arven mengambil alih tubuh Caca, menggendongnya. “Panggil dokter Wisnu.” Perintah Va’as. “Baik, Pak.” Dengan tetap mengikuti langkah masuk ke apartemen, Nino mulai mengambil hp. Mencari kontak dokter Wisnu. Namanya Jalvar Gladwin Harris biasa dipanggil Va’as oleh orang-orang terdekatnya Dia pemilik perusahaan yang tahun ini sedang mendekati puncak. Namanya cukup dikenal di kalangan pebisnis, tetapi tidak untuk kalangan bawah seperti Caca dan Bu Tari. Apa lagi Aruna yang baru beranjak remaja, dia tidak mengenal siapa Va’as. “Bagaimana keadaannya?” tanya Va’as setelah dokter Wisnu memeriksa Caca. Dokter Wisnu melepaskan stetoskop dari telinganya. “Luka kepalanya tak begitu serius. Tapi … tangan kanannya sepertinya terkilir.” Va’as memerhatikan Caca yang masih belum bangun. “Tidak perlu dioperasi kan?” Dokter Wisnu melirik jengah. “Barangmu itu yang perlu dioperasi!” kesalnya, menunjuk ke arah barang sensitif Va’as. Va’as berdecak lirih. “Yasudah. Keluar sana. Aku mau istirahat.” Dokter Wisnu menggelengkan kepala. “Ini obat nyeri. Kalau dia sudah bangun, tanyakan saja apa yang sakit. Tangannya aku yakin kamu bisa menyembuhkannya.” “Cerewet! Keluar sana!” usir Va’as. Dokter Wisnu menuding kesal. Tak lagi bicara, dia memilih melangkah keluar membawa tas medisnya. “Pak, ada telpon.” Nino memberikan hp bersofcase hitam milik Va’as. Va’as menghela nafas menatap layar yang menampilkan nama ‘Mami’. “Biarkan saja.” Nino meneguk ludahnya. “Ini panggilan ke dua puluh tujuh, Pak.” Dia menunduk karna Va’as jadi menatapnya kesal. Ingin tak peduli dengan panggilan itu, tapi jika sudah terlalu lama begini, Va’as juga tak tega. Dia mengambil hp dan menggeser tombol lalu menempelkan hp itu ke telinga. “Hallo, Mi,” sapanya dengan suara lemah. Tak langsung ada jawaban, tapi helaan nafas panjang di seberang sana sampai ke telinga Va’as. “Aku sibuk, Mi,” katanya kemudian. “Jadi nggak sempat pegang hp.” “Besok hari kamis pulang lah. Teman mami yang dari Inggris berkunjung ke Indonesia. Anak perempuannya tahun ini sudah selesai kuliah. Jadi—” “Mi ….” Rengek Va’as yang sudah tau apa maksud maminya. “As, tahun depan kamu sudah akan menginjak angka tiga. Mami tau kamu sibuk dan nggak sempat cari kekasih. Mami nggak mau kamu jadi perjaka tua dan mematikan silsilah keluarga.” Va’as mengacak rambut. “Mi, lekaki umur tiga puluh tahun itu belum tua—” “Bagi mami itu sudah tua. Pokoknya—” “Aku sudah punya wanita pilihan sendiri.” Va’as memutus kalimat perintah maminya yang entah untuk ke berapa kali ingin menjodohkannya dengan perempuan terbaik, versi mami. “Hah? Serius, As?” tanya mami. Suaranya terdengar tak percaya. “Hhmm.” “Kalau sudah punya, kenapa tidak pernah membawanya bertemu dengan mami?” Kali ini Va’as meneguk ludah karna memang tadi asal bicara saja. “Atau … pasti hanya alasan kamu saja.” tebak mami karna Va’as tak juga memberikan respon. “Mami nggak percaya sebelum kamu membawanya pulang dan mengenalkannya ke mami.” “Eeggh,” Lengkuhan lirik di atas ranjang sana membuat Va’as menoleh. Dia menatap Caca yang mulai menggerakkan kepala. “Karna dia hanya perempuan biasa, tidak seperti kita,” kata Va’as, membalas kalimat maminya. “Jadi … lebih baik aku tidak mengenalkannya ke mami karna tidak mau melukai perasaannya.” Mami Iren diam, tak langsung merespon. Karna pasti alasan yang diberikan Va’as kali ini cukup masuk akal. “Enggak, As. Mami enggak begitu. Bawa dia pulang dan kenalkan ke mami dulu.” Va’as masih memerhatikan Caca yang sekarang sudah membuka mata. “Bagaimana kalau mami tak suka?” “Mami pasti suka. Asal kamu suka dengannya, mami suka.” Sudut bibir Va’as tertarik ke atas. Dia menarik hp dan mematikan panggilan. Lalu melangkah mendekati ranjang. Melihat seorang lelaki mendekatinya, Caca melebarkan mata. dia berusaha untuk bangun dan menjauh, tapi tak bisa karna masih pusing dan sekujur tubuhnya terasa sakit. Kepalanya jadi berputar, berusaha mengingat wajah Va’as. “Anda—” Caca tak meneruskan kata-katanya karna tatapan Va’as yang seperti menatap sampai ke tulang-tulang sana. Caca mengalihkan tatapan dengan wajah bersalah. “Maaf. Maaf tadi … tadi menabrak pak Jalvar.” “Maaf tak cukup!” balas Va’as. Suaranya terdengar dingin dan mampu membuat pori-pori Caca merinding. “Kakiku terluka parah dan kamu harus bertanggung jawab. Membiayai sampai aku sembuh. Atau bisa membayar padaku saja.” Caca menghela nafas kasar. “Saya miskin, Pak. Saya nggak ada uang. Gaji kerja langsung habis hari itu juga. Bagaimana bisa saya mebiayai kesembuhan pak Jalvar?” “Uumm, kalau begitu … bantu aku,” katanya kemudian. Va’as telah merencanakan sesuatu. Caca menatap curiga. “Bantu apa, Pak?” “Ikut aku pulang untuk berkenalan dengan mamiku.” “Hah?!” pekik Caca dengan wajah terkejut. Detik kemudian dia meringis karna tangannya yang terkilir jadi nyut-nyutan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN