"Bang, aku pulang duluan ya, mau kondangan." Adam pamit kepada Mamat, pegawainya di kios buah. Seharian ini Adam habiskan waktunya untuk berjualan di pasar. "Iya, Dam." Mamat bisa diandalkan dan ia adalah pegawai kepercayaan almarhum Engkong Udin yang paling setia selama dua puluh tahun terakhir ini. Pria itu menjadi ujung tombak kesusksesan penjualan tiap harinya. Sejak kepergian kakeknya, Adam mengemban amanah untuk terus melanjutkan usaha kakeknya yang dirintis sejak tiga puluh tahun yang lalu. Sepuluh tahun yang lalu, almarhum Engkong Udin memiliki tiga kios buah, sayang dua kios lainnya ia jual untuk biaya pengobatan neneknya Adam yang sakit kanker. Kini Adam harus tetap mengelola satu-satunya kios yang tersisa, jika memungkinkan kembali menambahnya. Setiap akhir pekan, sabtu d

