03 JIWA YANG KOSONG

1662 Kata
14 Februari 2018 Nathan hidup tanpa semangat dan tujuan, seperti patung tanpa jiwa. Dia menjalani kehidupan dengan kekosongan dalam hati, seperti bayangan dalam gelap. Nathan adalah sosok yang penuh semangat, berkharisma, tegas dan tentu sangat dihormati karyawannya. Laksana singa yang kehilangan taringnya, Nathan tanpa Lauren seperti singa tanpa mahkota. Meskipun tetap besar, kuat dan disegani ia merasa tidak sempurna tanpa kehadiran wanita yang begitu ia cintai melebihi dirinya sendiri. Apapun yang dilakukannya sekarang hanyalah rutinitas yang membosankan tanpa tujuan. Keluar rumah hanya untuk bekerja, bertemu rekan bisnis, menandatangani kontrak. Tidak ada lagi. Dia merasa seakan-akan bekerja hanya untuk mengisi waktu, bukan untuk menikmati atau merayakan hidup. Nathan melempar pelan pulpen di tangannya setelah selesai menandatangani semua dokumen yang dibawa oleh Andy. “Jangan lupa makan siangnya dihabiskan ya, Pak.” Setelah banyaknya kejadian yang menimpa bos nya beberapa waktu yang lalu, Andy menjadi lebih waspada. Dia takut atasannya itu akan melakukan hal nekat lagi. Bekas luka sayatan yang cukup dalam di pergelangan tangan Nathan membuat Andy ngeri sendiri, luka itu adalah bukti betapa kehilangannya Nathan setelah berpisah dengan Lauren. “Nanti malam ada rapat sama bu Imelda, Kalau Bapak tidak mau datang biar saya yang wakilkan.” “Kalau begitu kamu saja yang pergi,” ucap Nathan. Andy pun mengangguk dan pergi. Nathan menyandarkan punggungnya di kursi dan memijat pelan keningnya yang terasa pusing. “Saya harus cari kamu ke mana lagi sekarang?” Nathan mengambil dompetnya di saku celana belakang, di pandangi foto dirinya yang sedang bersama Lauren dan juga foto hasil USG anak mereka. “Maafin Papi, sekarusnya Papi nggak kehilangan Mami kamu juga. Kalau kamu tahu di mana keberadaan Mami kamu sekarang, tolong kasih tahu ya?” Nathan tidak peduli dianggap gila oleh orang-orang di sekitarnya karena sering mengajak bicara foto yang sudah pasti tidak akan menjawab pertanyaannya, sudah menjadi kebiasaan barunya. “Sudah hampir delapan bulan, mau sampai kapan kamu sedih gara-gara perceraian kamu dengan Lauren? Bisa saja ‘kan sekarang mantan istri kamu itu sudah punya pengganti?” Flashback Nathan menarik pinggang Lauren agar mendekat ke tubuhnya. “Mel, ini Lauren. Lauren ini Imelda, sahabatku,” ucap Nathan mengenalkan keduanya. Sorot kaget terpancar jelas di wajah Imelda, ia kebingungan tentang siapa Lauren. Dua wanita itu saling berjabat tangan. Ketika ia menangkap cara memandang Nathan pada Lauren, ada yang berbeda, Imelda langsung bisa menyimpulkan kalau wanita yang berdiri di samping lelaki yang ia cintai adalah pacarnya. “Dia pacarku,” kata Nathan langsung menjelaskan. “Do you love her?” Nadanya terdengar sedih, Imelda sangat ingin menangis saat Nathan mengangguk dengan bangga. Nathan menganggap kedekatan mereka berdua hanyalah sebatas teman dekat tidak lebih, Nathan tidak pernah memiliki perasaan lain kepada Imelda, kedekatan mereka terjadi secara tidak sengaja karena sama-sama sedang menempuh pendidikan di luar negri. Dan juga karena hubungan bisnis kedua orang tua mereka, sejak saat itu Imelda menganggap Lauren lah yang sudah menghancurkan perjuangannya selama ini untuk mendapatkan hati pria idamannya, dia benci gadis itu, dan kini seolah memenangkan lotre jutaan dolar, perceraian Nathan dan Lauren seperti angin surga untuknya. Imelda tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, semua keburukan Lauren di media adalah ulahnya, rupanya hal itu berhasil membuat rumah tangga Nathan hancur. Gadis berambut coklat gelap itu berjalan mendekat dengan anggun, membaca raut wajah laki-laki di hadapannya yang tak memiliki semangat lagi, ia tak peduli. “Ngapain kamu ke sini? Aku udah suruh Andy buat pergi ke kantor kamu.” Nathan langsung terlihat risih dengan keberadaan Imelda. “Menghiburmu. Aku udah tahu kamu pasti nggak akan datang ke meeting hari ini.” Nathan menatap Imelda yang terlihat percaya diri. “Aku butuh istirahat lebih dan mau pulang.” Imelda duduk di atas meja kerja Nathan dengan kaki yang ditumpu. Penampilan seksinya sama sekali tidak membuat Nathan tergoda. “Mungkin kamu butuh jalan-jalan sebentar biar pikiran kamu tenang, aku temenin, ya?” “Sudah aku bilang, aku cuma butuh istirahat. Jadi bisa hargai kemauanku?” Nathan menatapnya serius. “Jangan datang jika tidak ada hal penting dan bukan tentang bisnis. Aku tidak mau media semakin gila membuat berita palsu tentang kita.” “Tapi, apa kamu sudah tahu?” “Tahu apa?” Nathan tak mengerti. We Were Once Together “Papa gila, nyuruh aku nikah sama Imelda?” Itulah kalimat yang pertama kali Nathan ucapkan setelah ayahnya menyuruhnya untuk segera menikah dengan Imelda. Belum hilang rasa lelahnya, ucapan Haris berhasil membuat emosinya kembali naik. “Menunggu wanita yang tidak akan pernah kembali, kamu pikir siapa yang gila? Menikah dengan Imelda akan menyelamatkan nama baik kamu dan perusahaan kita!” bentak Haris. “Pilihanku untuk tidak mencari pengganti Lauren itu sudah tepat daripada aku harus menikah dengan perempuan yang sudah merusak rumah tangga kami.” Nathan berjalan masuk ke dalam rumah, melihat Calista yang sudah ketakutan dengan keributan mereka, dengan lembut, Nathan menyuruh ibunya untuk pergi ke belakang rumah agar tidak mendengar perdebatannya dengan Haris. Setelah melihat Calista sudah cukup jauh, Nathan kembali menatap Haris dengan tajam. “Papa dan Mama tidak ada yang percaya dengan penjelasanku, kalian menganggapku seorang pembunuh yang sudah tega melenyapkan anakku sendiri, tapi sekarang Papa malah bersikeras ingin aku menikahi wanita lain.” Nathan tersenyum sinis. “Kalau kalian menganggapku orang jahat, seharusnya kalian tidak membiarkanku menikah lagi.” Haris diam beberapa detik. “Kami sudah melupakan perbuatanmu kepada Lauren, seharusnya kamu juga bisa membuka hati untuk perempuan lain,” ujarnya, Haris tidak mau kalah dan akan terus tetap memaksa Nathan agar mau menuruti keinginannya. Nathan berusaha menahan emosinya. “Pa? Jika Lauren tahu dia akan menganggap perselingkuhanku dengan Imelda itu benar! Dan jika itu terjadi, Lauren tidak akan pernah memaafkanku!” “Lauren, Lauren, Lauren! Kamu mati pun Lauren tidak akan peduli!” Haris berjalan mendekati Nathan dan langsung menamparnya. Nathan memejamkan mata, wajahnya merah. Lengang sejenak. “Dari dulu kamu hanya bisa mengecewakan kami, menjadi kepala keluarga tidak becus, selalu membangkang, lupa dengan usiamu sekarang?” Tidak mengharapkan jawaban Nathan, Haris langsung pergi. Beberapa jam kemudian. “Perih?” Calista menatapnya khawatir. Nathan menggeleng. “Gak apa-apa. Papa udah terlalu tua buat kasih tamparan yang sakit.” Lelaki itu tertawa pelan agar ibunya tidak merasa khawatir, digenggamnya tangan Calista yang sudah mulai keriput. “Maafin aku, tapi aku gak bisa kalau harus menikah sama Imelda.” “Mama ngerti, Sayang, Mama ngerti. Sikap Papa memang berlebihan.” Takut-takut, Calista juga harus mencoba membujuk anaknya. “Tapi bisakah kamu memikirkannya lagi?” Nathan melepas genggamannya, raut wajahnya berubah, dengan tegas ia menggeleng. “Cuma Mama yang aku harapkan sekarang, Nathan mohon, Ma, jangan kayak Papa.” “Mungkin Imelda akan berubah setelah menikah sama kamu.” “Untuk merasakan jatuh cinta lagi saja aku sudah lupa, cinta itu Lauren, Ma, bukan wanita lain jadi stop.” Calista menutup bibirnya rapat-rapat. “Ini udah malam, Mama sebaiknya tidur. Aku juga mau istirahat.” We Were Once Together Tidak peduli dengan dinginnya angin malam, kota Jakarta tidak pernah tidur. Mobilnya melaju menuju The Wish Bar sebuah mini bar yang letaknya tersembunyi di antara gedung-gedung tinggi dan lampu neon yang berkilauan, sebuah tempat yang tidak diketahui banyak orang. Mini bar ini bukanlah tempat yang terpampang dengan neon dan tanda-tanda mencolok, sebaliknya pintunya tersembunyi di sudut gelap sebuah gang sempit. Pertama kali Nathan ke sana, dia diajak oleh salah satu koleganya yang sudah tua. Lahir dan tumbuh besar di Jakarta tidak menjamin ia akan mengetahui segalanya tentang kota tersebut, orang-orang yang mengetahui lokasi The Wish Bar adalah mereka yang telah mendengar atau diajak langsung oleh pelanggan-pelanggan lamanya. Tidak ada iklan, tidak ada papan penunjuk arah, hanya cerita-cerita yang beredar di antara para penikmat malam. Dinding tua yang terbuat dari batu bata merah akan menyapa pengunjung ketika masuk, lampu-lampu yang redup menerangi ruangan. Di balik meja bar, bartender tua tersenyum dan menyambut kedatangannya, wajah Nathan sudah tidak asing lagi bagi lelaki yang sering di sapa dengan panggilan Jim. Tidak ada yang tahu siapa nama aslinya. Orang-orang datang ke sini untuk meluapkan segala masalah, mengobrol dengan orang asing atau sekadar menikmati kesunyian dengan ditemani lagu jazz klasik. Bar cukup sepi malam itu, hanya ada empat orang lelaki tua yang tengah asyik mengobrol. Hal tersebut bukanlah pemandangan baru, sehari tanpa pengunjung lebih sering dijumpai. Jim menuangkan wiski ke gelas kristal tua yang tampaknya sudah melewati banyak cerita. “Wajahmu belakangan ini sering masuk media. Apa itu yang membuatmu datang ke sini sekarang?” Nathan meminum wiskinya. “Ini lebih rumit, jika kamu tahu seharusnya nggak tanya begitu.” “Aku turut prihatin.” Jim merasa bersalah, ia menuangkan lagi wiski ke gelas kristal milik Nathan yang sudah kosong. Nathan menenggak wiskinya lagi dan lagi, efek alkohol mulai terasa. Pikirannya menjadi kabur dan ia merasa jadi lebih berani, Nathan mulai mengangkat wajahnya menatap Jim yang sedari tadi hanya duduk di hadapannya. “Meskipun aku tidak tahu di mana dia sekarang, bukan berarti aku berhenti mencintainya, kenapa dia tidak percaya kalau niatku bersamanya itu tulus? Kenapa Tuhan memberiku takdir seperti ini?” Lirih, Nathan mengeluarkan semua bebannya di hadapan Jim. Nathan terus minum, dan dunia di sekitarnya semakin kabur. Ia tertawa, menangis, dan berbicara tentang segala hal. Seketika ia tak sadarkan diri. We Were Once Together Lauren tidak akan pernah melupakan rasa sakit yang seperti abadi malam ini, kontraksi mulai datang, Lauren mengatur napasnya sebaik mungkin, mengikuti panduan dari dokter yang membantu proses persalinannya. Lauren bersikeras ingin melakukan persalinan secara normal, tekadnya tidak goyah, dokter sudah memberi tahu kepadanya kalau hal fatal bisa terjadi dan merenggut nyawa salah satunya. Lauren merasakan rasa sakit yang tak tertahankan menjalar ke seluruh tubuhnya, kontraksi berikutnya tiba, dan dia merasa seluruh tubuhnya hancur, wajahnya terdistorsi oleh ekspresi kesakitan yang dalam, matanya mulai berkunang-kunang. Teriakan dan erangan kesakitan keluar dari bibirnya mengisi ruang persalinan dengan suara yang meluncurkan getaran. Ketika kontraksi berikutnya datang, Lauren mengeluarkan semua kekuatannya, matanya tertutup rapat dan ia mengerang keras. Ini adalah titik paling kritis dalam hidupnya, saat tubuhnya mengirim sinyal menyerah, namun saat itu dia mendengar suara tangisan bayi. Detik itu menjadi kilas baliknya, Lauren tersenyum bahagia sampai kesadarannya hilang total.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN