Enam Belas

1928 Kata

Elang baru sampai jam setengah sembilan, setelah dia berpesan padaku untuk makan malam sendiri. Yaiyalah, kayak aku bakalan nunggu dia aja. Kasian penghuni perutku yang sudah menabuh genderang. Demo, minta dinafkahi. Aku menyediakannya teh chamomile hangat di meja makan. Elang membuka dasinya, tumben masih rapi sampai rumah. "Mas Elang sudah makan? Happy pesan kwetiau tadi, masih ada tuh kalau mau aku panasin di microwive." "Sudah kok, Py. Kan aku bilang tadi jangan ditunggu." "Enggak nunggu kok, cuma pesan lebih." "Hooh. Yaudah biar aja, mungkin kamu mau lagi." Aku duduk di depan tv, menyalakannya dan mencari saluran yang bagus. "Tadi pulang sama siapa?" "Mirza." Jawabku santai. "Mirza mana?" Menoleh, aku menatapnya bingung. "Emang ada berapa Mirza di kantor?" "Dua, Mirza Bos dan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN