Dia berjalan mendekat kearahku dan matanya menyorot tajam pada lelaki yang menghajarku barusan. “siapa kau? Jangan ganggu urusanku jika kau tidak mau terluka” “memangnya kau bisa melukaiku?” tiba-tiba saja dia menendang lelaki itu hingga terpental ke belakang beberapa meter. “mana kehebatanmu barusan ketika memukulinya? Pengecut sekali hanya berani melawan seorang perempuan” Jayden menendang dan menekan perutnya dengan keras. “hanya begini saja? Kau tidak bisa bangkit melawanku? Dasar lemah” “Jay…den” dia tidak mendengarku sama sekali. Aku berusaha berdiri sambil menahan perutku yang terasa sakit dan berjalan tertatih menghampirinya. “bagaimana rasa pukulanku? Apa kurang sakit? Aku bahkan tidak menggunakan kekuatanku dengan penuh, tapi kau sudah terlihat payah seperti ini,” Jayden te

