BAG.1

1099 Kata
    Aku melihat orang berlalu lalang, meliuk-liukan tubuhnya liar dengan menggenggam botol alkohol ditangan mereka. Mataku terfokus pada seorang wanita yang sedang menari dengan menggesekkan tubuhnya pada seorang pria. Cukup mengejutkan bahwa wanita itu melakukannya dengan keadaan sadar.     “hei bro, bukankah kau sedang ada syuting? Kenapa bisa datang kesini?”     “aku butuh seorang untuk melepas rasa ‘haus’ku”     “kau selalu datang kemari untuk mencari perempuan. Mau aku panggilan mereka untukmu?”     “aku sudah menemukan targetku”     “yang mana? Biar kubawakan untukmu”     “aku mau perempuan yang disana” aku menunjuk perempuan itu dengan mataku. Lelaki tadi mengikuti arah pandangku.     “apa kamu serius? Dia anak dari pasangan pengacara terkenal. Aku tidak mau membuat masalah dengan anak itu”     “tidak apa-apa, aku yang akan mengurusnya jika perempuan itu menuntut sesuatu padamu”     “kau harus berjanji padaku. Jika sesuatu terjadi padaku aku akan menyeret namamu” dia beranjak untuk menghampiri gadis yang di maksud oleh Jayden.     Orang suruhanku sedang berbicara pada gadis itu. dia melirikku dengan wajah yang sangat terkejut kemudian berbicara kembali dengan suruhanku. Aku bisa merasakan bahwa dia begitu senang karena orang sepertiku mendekatinya. Tipikal gadis sok jual mahal, pura-pura menolakku padahal dia ingin aku mendekatinya lebih dulu. baiklah jika itu maumu, yang penting aku bisa makan malam ini.     “kau mau kemana? Dia tidak mau bicara denganmu” tanya seorang yang kusuruh untuk membawakan perempuan itu padaku. Tapi aku tidak menghiraukannya, aku akan mendekatinya dengan caraku sendiri. Kupeluk dia dari belakang.     “berani sekali kamu memelukku? Kau tidak takut padaku?”     “sejak tadi aku memperhatikanmu dan ingin mengenalmu” aku mengikuti gadis ini bergoyang.     “lalu kau menyuruh temanmu untuk memanggilku? Pengecut sekali” kamu boleh saja berkata pedas dan sombong padaku. Aku bisa mendengar suara jantungmu yang berdebar.     “aku takut kau akan menolak untuk berbicara denganku”     “tapi sekarang kita sedang berbicara” sekarang dia berbalik menghadapku. “apa kau menyukaiku, Jayden? Sebuah kehormatan bagiku disukai aktor tampan sepertimu” dia mengalungkan tangannya dileherku.     “kau sangat cantik dan seksi, siapa yang tidak menyukaimu”     “kau benar” gadis ini tertawa senang.     “mau minum bersama denganku?”     “with my pleasure” setelah itu aku membawanya ke area VIP di lantai 2. Aku memesankan beberepa minuman beralkohol untuknya.     Kami minum sambil mengobrol, sesekali aku menggodanya. Dia sudah masuk kedalam jebakanku, aku harus membuatnya agak mabuk.     “aku akan dengan senang hati menjadi pacarmu Jayden. Akan kupamerkan pada semua orang kalau kamu adalah pacarku” racaunya tak jelas.     “tentu saja, kita bisa jadi pasangan yang serasi”     “bisakah kau menciumku? Aku ingin merasakan bibirmu yang seksi itu” ucapnya sambil mabuk.     Aku mencium bibirnya pelan dengan lumatan-lumatan kecil. Kubiarkan dia terlena dengan bibirku. Lalu secara perlahan turun ke lehernya. Kuciumi lehernya, menghirup dalam-dalam aroma wangi yag menguar dari pembuluh darahnya. Perlahan aku menancapkan taringku dan mengisap darahnya.     “aahhh, kau sangat nakal Jayden” desahnya.     Jika orang lain melihat kami, aku akan terlihat seperti mencumbu gadis yang ada di depanku. Padahal yang terjadi sebenarnya aku tengah mengisap darahnya. Setelah kurasa cukup, aku menjilati bekas luka dilehernya sehingga bekas luka itu menghilang. Bersih, tak ada bekas taring sama sekali.     “kenapa kau berhenti?” dia merengut kecewa karena aku tiba-tiba berhenti.     “sepertinya aku harus pergi, aku ingat ada jadwal syuting pagi-pagi. Aku harus segera beristirahat”     “apakah kita akan bertemu lagi?”     Aku tidak tau, jadwalku sangat padat” aku beranjak berdiri. Dia tiba-tiba saja menarik tanganku.     “kau gak boleh meninggalkanku begitu saja setelah kau menciumku” dia merengek sambil mengoyang-goyangkan tanganku.     Aku akan meminta ayahku untuk menuntutmu jika kau tidak mematuhiku”     Inilah yang aku tidak suka. Gadis manja dan memanfaatkan kekuasaan orang lain untuk kepentingan dirinya. Aku kembali duduk disampingnya dan meraih tengkuknya.     “aku bahkan tidak menyukaimu dan aku bukan budakmu, beraninya kau mengancamku” seketika gadis itu pingsan setelah aku mengatakan hal itu. akupun segera pergi dari tempat itu. ***     Sudah dua minggu berlalu sejak kejadian itu. aku memandangi kartu nama yang diberikan seseorang dari agensi NIS. Haruskah aku menerima tawarannya? Lalu bagaimana dengan Granma? Dia akan tinggal sendiri lagi.     “Kim, sedang apa? Kau selalu murung akhir-akhir ini. Bisa kau ceritakan masalahmu padaku?” aku segera memasukkan kartu nama itu kedalam saku begitu Granma datang.     “aku tidak apa-apa, Granma”     “kau tidak perlu menyembunyikannya dari Granma, aku sudah menganggapmu seperti cucuku sendiri”     “terima kasih Granma, aku sungguh tidak apa-apa”     “kau tidak bekerja hari ini?” Granma duduk di depanku sambil menyodorkan segelas teh lemon hangat padaku.     “aku akan pergi sebentar lagi”     “cuaca sepertinya sudah mulai dingin, apa sekarang sudah masuk musim dingin? Kau jangan lupa bawa mantelmu” Granma begitu perhatian padaku. bagaimana bisa aku meninggalkan sendirian disini jika aku mengambil pekerjaan di agensi itu.     “Granma, jika aku bekerja di kota besar, bagaimana menurutmu?”     “tentu saja Granma senang. Akan ada banyak kesempatan untukmu disana, termasuk pria” Granma tersenyum padaku.     “maukah Granma ikut denganku?” kudengar Granma mendesah pelan. “suasana kota tidak cocok dengan Granma. Granma lebih menyukai tempat yang tenang tanpa kebisingan”     Aku terdiam. Sebenarnya, aku yang akan merasa paling kehilangan sosok Granma jika aku pergi ke kota sendirian. Granma yang merawatku duluan ketika aku sampai disini. Dari Granma aku mendapatkan cinta keluarga yang tidak aku dapatkan sejak kecil. Bibiku hanya mengomeliku sepanjang hari, bahkan ketika aku hanya diam saja pun aku tetap kena omel.     “jadi itu yang kamu pikirkan selama beberapa minggu ini?” tanya Granma lagi.     “aku belum memutuskannya”     “pergilah. Selagi masih muda kau perlu pengalaman hidup yang banyak. Jangan terjebak di kota kecil seperti ini”     “aku gak akan meninggalkan Granma sendirian”     “sayang, bahkan sebelum kamu datang kesini aku sudah sendirian. Kau tak perlu memikirkanku” Granma menggenggam kedua tanganku.     “Granma, kau sudah kuanggap sebagai ibu sekaligus nenekku sendiri. Aku tak mau hidup sendirian lagi. Kau tau, sewaktu kecil aku bahkan tidak mendapat perhatian dan cinta sejak orangtuaku tiada”     “aku mengerti sayang. Aku hanya tidak mau mengekangmu disini”     “kau tidak mengekangku dan aku juga tidak merasa dikekang olehmu. Aku suka tinggal disini”     “baiklah kalau itu maumu. Tapi aku ingin kau tetap punya pengalaman hidup yang lebih banyak”     “aku akan. Tapi tidak sekarang Granma. Oh, sudah waktunya aku pergi. Aku pergi bekerja dulu Granma” aku mencium kedua pipi Granma kemudian mengambil tasku dan pergi. Aku tak ingin membahas ini dengan Granma. Hatiku sedih begitu membayangkan aku harus berpisah dengannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN