"Hei. Kamu mau pulang?" Suara bariton itu menghentikan langkah Rani menuju parkiran, ia menoleh dan melihat Rega yang sedang bersandar ditiang lampu. Menampilkan senyum manis yang biasa nya terasa sangat mempesona, namun kali ini terasa hambar. Rani tidak menjawab pertanyaan lelaki itu, karena jelas-jelas ini sudah sore dan memang waktu nya pulang.
Rega menaikkan sebelah alisnya, gadis itu mengabaikan nya dan berlalu begitu saja. Ada apa?
"Hei, aku tahu kamu mendengar ku. Rani!" Rega menarik lengan gadis itu dengan tatapan bingung, tidak mengerti kenapa dia diabaikan seperti ini.
"Lepaskan aku, pertanyaan kamu sama sekali gak perlu dijawab." Rani melepaskan cengkraman tangan Rega namun pria itu malah mengeratkan nya.
"Aku hanya bertanya, dan kamu selalu menjawab nya. Ada apa?"
Lama Rani terdiam sambil memandang lurus kedalam mata lelaki itu, tidak ada rasa bersalah disana. Yang ada hanya raut kebingungan, dan juga kesal. Rega memang tidak pernah merasa bersalah pada nya, selama ini Rani sudah menunggu, menanti pria itu menyatakan cinta dan berharap kalau mereka bisa menjadi sepasang kekasih tapi nyata nya Rega masih saja melupakan kehadiran Rani.
Tiga hari yang lalu, dia melihat lagi instastory Rega bersama dengan perempuan cantik yang tidak ia kenali, oh ya memang semua teman kencan pria itu tidak satu pun dia kenal. Dan semalam, lagi-lagi Rega pamer kebersamaan nya bersama seorang selebgram, wanita itu adalah beauty vlogger dan tentu saja sangat cantik. Rani kecewa, kesal, namun ia tak memiliki hak apapun untuk marah pada lelaki dihadapan nya. Karena memang Rega tak pernah memberikan hak itu, bodoh sekali Rani masih saja mengharapkan sesuatu yang mustahil.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya lelah. Bisa kamu biarkan aku pulang sekarang, kita bisa bertemu lagi besok." Sekali lagi Rani mencoba melepaskan diri, dan berhasil. Rega melepaskan nya namun tatapan tak mengerti dari pria itu semakin ingin membuat nya menampar wajah tampan itu yang sial nya sangat dia cintai.
"Kamu marah? Gak biasa nya kamu mengabaikan ku, bahkan aku baru sadar kalau hari ini kamu tidak mengantarkan ku makan siang seperti sebelum nya. Ini... Sudah tiga hari, Rani". Ia baru menyadari nya, dan sial karena sepasang netra itu kini menatapnya penuh kekecewaan dan itu membuat nya risih. Kenapa dengan gadis ini?!
"Kamu baru sadar sekarang? Hah, aku pikir kamu memang tidak akan pernah menyadari kehadiran ku, perjuangan ku, waktu yang ku buang sia-sia hanya untuk membuat mu menyadari ku. Aku terlalu bodoh, tapi ternyata kamu yang lebih bodoh lagi karena tidak pernah mau melihatku". Rani mengencangkan pegangan pada tas nya, dia akan menyesali semua perkataan nya barusan jika Rega sampai meninggalkan nya tapi sekarang bukan saat yang tepat untuk membawa perasaan, karena Rani sudah mulai lelah. Ya, dia memang sangat lelah mencintai lelaki seperti Rega. Arifin benar kalau dia harus mencari orang baru yang bisa mengalihkan perhatian nya pada Rega, tidak lagi.
"Apa yang kamu bicarakan? Aku sedang tidak membahas soal perasaan kamu. Baiklah kalau kamu memang mau pulang, silahkan. Aku tidak akan bertanya lagi". Rani tertawa sumbang mendengar omong kosong yang dikatakan pria itu, lihatkan, bagaimana mudah nya dia bicara seolah-olah perasaan Rani tidak penting. Dasar pria b******k!
"Kamu memang gak akan pernah mau membahas soal perasaan ku, hatiku dan aku, tidak akan memaksa mu lagi untuk melihat nya. I'm done with you, mulai sekarang aku tidak akan lagi mengganggu kamu. Bahkan jika kita berada ditempat yang sama sekali pun, aku gak akan melihat kearah mu, Rega".
Rega mengeraskan rahang nya mendengar pernyataan wanita itu, kemarahan yang tiba-tiba merasuki pikiran nya membuat pemuda itu kembali menarik lengan Rani.
"Apa yang sedang kamu bicarakan?! Jangan bicara omong kosong seolah kamu sedang membuang ku, gadis sialan!" Rega memberikan tatapan intimidasi pada Rani, bahkan ia terang-terangan menampilkan raut jijik pada Rani.
"Tidak ada manusia sialan yang mau dengan mu, kamu bahkan tidak menarik sama sekali. Apa yang bisa aku banggakan dari mu hah?! Kamu masih saja bermimpi ingin aku menatap mu, enyah kau dari hadapan ku!" Rega menghempaskan lengan gadis itu dengan sangat kasar, dia tidak sadar kalau bukan hanya lengan Rani yang di hentak nya tapi juga hati gadis itu. Hati nya ikut hancur, seiring kalimat menyakitkan itu mengalir begitu saja dari bibir Rega.
Air mata Rani mengalir tanpa permisi, ia tidak bisa menahan isakan yang mulai terdengar. Membuat Rega sadar jika dia baru saja menyakiti hati Rani, lelaki b******n yang tidak tahu terima kasih!
"Rani.. Aku. ."
"Tidak! Jangan katakan apapun lagi pada ku". Rani mengangkat tangan nya untuk melarang Rega bicara, sungguh dia sangat menyesali perasaan nya selama ini telah jatuh cinta pada orang yang salah. Rega tidak sebaik itu, ingatan tentang beberapa tahun lalu saat ia dengan t***l nya mencium Rega sebelum kepulangan nya ke Australia, perhatian manis pria itu ketika di ancol, atau bahkan gombalan yang sering ia jadikan senjata untuk membuat Rani merona, ia sakit. Sungguh!
"Rani, maafkan aku". Rani kembali tertawa miris, bahkan dengan mudah nya dia meminta maaf. Cukup untuk hari ini, dia akan belajar melupakan semua tentang Rega. Meski itu sulit tapi dia akan berusaha, sejak awal dia lah yang salah. Dan kali ini Rani tak akan mau melakukan kesalahan lagi dengan membiarkan diri nya terbawa arus ketidak pastian dari lelaki itu.
"Kamu tidak perlu meminta maaf, aku yang salah karena terlalu menginginkan mu, berharap kalau suatu hari nanti kamu akan membalas perasaan ku. Aku memang tidak secantik para gadis yang menemani malam mu, aku juga tidak memiliki apapun yang bisa aku banggakan, keluarga ku tidak kaya, tidak ada apa-apa yang bisa ku pamerkan pada mu. But, I have a sincere heart. I love you for a long time, waiting and dreaming about you. Sekarang tidak lagi, enam tahun sudah cukup bagi ku untuk melakukan hal bodoh."
Rani tersedu menangis, ia merasa tak akan sanggup mengatakan nya tapi keharusan itu memaksa agar ia segera melepaskan diri dari pria bernama Rega.
"Terima kasih, karena sudah pernah mewarnai hari ku dengan semua hal kecil yang sangat menyenangkan, pertemuan kita mungkin terlalu cepat, atau perasaan ku saja yang mudah terikat pada mu. Today is my last day to love you, Rega. I'm done, i'm sure about this".
Rega terpaku, ia terlalu syok dengan semua kenyataan yang sedang menampar nya. Air mata yang terus membasahi wajah gadis itu membuatnya kehilangan kata-kata, Rega tak mampu mengeluarkan suara nya lagi. Kedua tangan nya bahkan tak mampu untuk menahan kepergian Rani dengan motor nya, ia masih berdiri disana dengan tatapan yang sangat sulit untuk dijelaskan. Hati nya hanya Tuhan yang tahu.
Rani sudah menghilang dibalik persimpangan jalan, namun Rega tetap melihat kearah sana. Dia tidak mengerti kenapa mulut kurang ajar nya malah mengatakan hal menjijikan seperti itu, dan sekarang dia benar-benar menjadi b******n karena sekali lagi merusak kepercayaan diri Rani.
"b*****t! t***l! Gak berguna anjing!" Umpat nya kesal, ia menyugar rambut nya sambil berusaha menetralkan degun jantung yang tidak keruan. Ia masih tidak bisa membayangkan bagaimana sakit nya hati Rani karena perkataan nya.
"b*****t!"
Nasi sudah jadi bubur, Rega tidak tahu jika setelah ini dia akan sangat menyesali perkataan nya.
"Aku gak akan biarkan kamu berpaling, tidak akan, Rani".
Ia berjalan meninggalkan parkiran khusus motor menuju mobil nya, pria itu bahkan menabrak pembatas parkir dan mengabaikan nya begitu saja membuat satpam menggeleng gemas.
Rega butuh kesenangan, hidup cuma sekali dan dia tidak mau dibuat tersiksa oleh rasa bersalah. Jadi malam ini, dia akan kembali mencari hiburan. Hiburan yang lagi-lagi akan melukai hati Rani, tapi siapa yang peduli. Rega telah melakukan kesalahan besar. Dan itu akan sulit untuk diperbaiki.