Tia terpaksa membuka mata kala mendengar suara berisik dari bawah bantal. Semalam, perempuan yang tengah hamil tua itu menghabiskan malam minggu dengan video call bersama adik-adiknya di Indonesia. Kepalanya berdenyut nyeri, seharusnya ibu hamil cukup tidur. Namun, sejak perempuan itu berpisah dari Rain dia kehilangan waktu tidur berkualitasnya. Tia meraba-raba kasurnya dengan malas. Dia pikir pasti Dio atau ibunya yang menelepon. Hanya sedikit orang yang tahu nomor telepon Tia yang baru. Manakala Tia menatap nama yang tertera di ponsel, kedua matanya nyaris melotot. Jane. “Sawatdii Jane, maaf aku baru bangun tidur.” Tia bangkit lalu menyambar ikat rambut yang di kaitkan pada tiang tempat tidur. “Sawatdii kha, Tiara, sabai dii mai kha?” “Chan sabai dii kha.” Tia mengatakan kalau dia ba

