"Tumben." Rofik merasa aneh dengan Zafir yang anteng saja di ruangannya saat jam istirahat begini. Biasanya paling semangat ke restoran bawah. Usut diusur, ia juga baru tahu kalau Zafir mengincar perempuan di sana. Tapi kini tak bergerak. Ada apa sebetulnya? "Eh," ia baru tersadar dengan kehadiran Rofik. "Lo kalo mau makan siang, duluan aja," tuturnya. Ia sedang sibuk di depan laptopnya. Rofik menggelengkan kepala. Akhirnya memutuskan untuk menyusul yang lain di restoran bawah. Dua jam kemudian Zafir dipanggil. Ia segera ke ruang direktur dan membicarakan banyak hal. "Saya keberatan sebetulnya," tutur Zakky, direktur muda yang menjadi atasannya. Zafir hanya tersenyum kecil. Sebagai salah satu anak muda yang sangat berdedikasi meski belum lama bekerja di perusahaan ini, ia tentu kebe

