Sudah Lama Mendambakan Tubuh Jani

879 Kata
Jani menundukkan kepalanya, terisak lirih mendengar ucapan dari Maya. “Maafkan aku, Ma. Aku terlalu menyalahkan diri aku sendiri karena tidak bisa menepati janjiku untuk menunggu Mas Ray—” “Jani. Berhenti mengharapkan Rayhan. Dia sudah meninggal dua tahun yang lalu. Andai pun masih hidup, seharusnya dia sudah kembali pada kamu, pada kita semua,” ucap Maya dengan suara lembut, sambil memegang pundak menantunya dengan penuh kelembutan. Jani kembali terisak. “Tapi, jasad Mas Rayhan belum juga ditemukan, Ma. Mana mungkin aku bisa percaya jika dia telah pergi. Aku masih berharap penuh jika dia masih hidup dan menolongku dari pernikahan ini.” Maya tersenyum lirih. “Ya. Andai itu terjadi. Tapi, semuanya mustahil. Mobil Rayhan terbakar, hancur berkeping-keping, jatuh ke dalam jurang yang curam. Mungkin jasadnya sudah terbawa arus sungai yang saat itu sedang meluap.” Menghela napas dengan panjang, Maya melanjutkan, “Jangan terlalu larut dalam duka atas kepergian dia, Sayang. Mama juga sedih. Tapi, mau bagaimana lagi. Semuanya sudah terjadi. Kita tidak bisa memutar waktu dan memperbaiki keadaan di masa itu.” Jani mengadahkan kepalanya dan menatap wajah ibu mertuanya dengan tatapan penuh keraguan. “Ma. Apa benar, yang Mama katakan pada Mas Arga tadi?” Maya mengerutkan keningnya. “Yang mana?” tanyanya, terlihat sedikit bingung. Jani menghela napas dengan panjang, lalu menelan saliva dengan pelan. “Maaf, jika aku sudah lancang mendengar obrolan Mama dengan Mas Arga. Tapi, apa benar … Mama dan Papa memiliki bukti jika Mas Arga lah yang telah membunuh Mas Rayhan? Jika memang benar begitu, apa motif dia membunuh adik kandungnya sendiri, Ma?” Maya tersenyum tipis. “Kamu tidak perlu tahu alasan di balik itu semua. Karena nasi sudah menjadi bubur. Rayhan sudah meninggal, Mama dan Papa tidak cepat mencegahnya.” Setelah mengatakan itu, Maya langsung pergi dan masuk ke dalam kamarnya. Seolah ia tengah menghindar dari pertanyaan dari Jani. Seolah ia tidak ingin memberi tahu apa pun kepada perempuan itu tentang kematian Rayhan yang cukup mengenaskan itu. Jani menelan saliva dengan pelan, merenungi kata-kata Maya. “Sepertinya hanya aku, yang tidak tahu apa pun tentang semua ini. Semuanya menutupi kasus ini bahkan Papa enggan memasukan dia ke penjara. Harusnya, nyawa dibayar dengan nyawa. Bukankah ini tidak adil?” ujarnya dalam hati, merasa semakin terjerat dalam teka-teki yang tak kunjung terpecahkan. Jani merasakan ketakutan menghampirinya saat Arga mendekapnya dengan kasar. Matanya mencari jalan keluar, tapi tubuhnya tidak bisa bergerak dari cengkeraman suaminya yang kuat. “Mas! Kamu gila, huh?! Aku tidak mau! Lepaskan aku!” pekik Jani meronta-ronta mencoba melepaskan diri dari dekapan Arga yang semakin erat. Arga hanya menggelengkan kepala, mengabaikan permohonan Jani. “Kamu tidak mengerti, Jani. Aku memiliki hak untuk menentukan apa yang terbaik untukmu.” Jani bisa merasakan napas Arga yang berat di lehernya. Panik mulai merayap di dalam dirinya. “Kamu tidak boleh melakukan ini, Mas! Lepaskan aku!” Desakannya terdengar putus asa. Tetapi Arga tidak mendengarkan. Sebaliknya, cengkeramannya semakin kuat. “Kamu tidak bisa kabur dariku, Jani. Kamu adalah istriku sekarang. Kamu milikku.” Jani mencoba membebaskan diri, tetapi sia-sia. Dengan putus asa, dia mencoba memukul Arga, tapi tangannya dicegah oleh lengan suaminya yang kuat. “Jangan mencoba melawan aku, Jani,” desis Arga, wajahnya penuh dengan kemarahan. Jani merasakan dirinya terjebak dalam situasi yang mencekam. Tak ada yang bisa dia lakukan selain berjuang untuk melepaskan diri dari cengkeraman Arga yang semakin mengencang. Tetapi dia tidak bisa melawan sendirian. Kedua belah tangan Jani berusaha keras mencari jalan keluar dari dekapan Arga. Dalam kepanikan, dia berteriak minta tolong, berharap ada yang mendengar dan menyelamatkannya dari nasib yang mengerikan. Namun, ruangan tetap sunyi. Hanya suara mereka berdua yang terdengar, teriakan Jani yang putus asa dan suara desakan Arga yang penuh dengan keinginan untuk mengontrolnya. Rasa takut melanda Jani saat Arga menunjukkan wajah gelapnya yang penuh dengan nafsu. Tubuhnya gemetar ketika dia melihat senyuman seram di wajah suaminya. “Dosa, jika kamu menolaknya, Jani! Lagi pula, tidak akan ada yang memarahi kita jika melakukan ini. Kamu sudah berani bermain-main denganku! Itu artinya, kamu harus menerima semua yang akan kulakukan padamu.” Senyum menyeringai menyeramkan membuat tubuh Jani bergidik ngeri. “Aku tidak mau! Meskipun kamu suamiku, bukan berarti seenaknya kamu menyentuhku!” pekiknya lagi. Namun, Arga tak peduli. Didorongnya tubuh perempuan itu kemudian menarik paksa dress yang dikenakan oleh Jani hingga membuat perempuan itu kini hanya mengenakan bra dan celana dalam saja. “Aku mohon jangan sentuh aku lagi! Aku tidak mau,” ucapnya lirih. Arga tersenyum miring. “Sudah lama sekali aku mendambakan tubuh indah kamu ini, Jani. Dan sekarang, kamu tidak akan bisa lari dariku!” ucapnya lalu meraup bibir perempuan itu dengan ganas. Jani menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pikiran tak karuan. Ucapan dari lelaki itu membuatnya bingung. Apa maksud dari ucapan lelaki itu padanya. Bukankah selama ini Arga tampak tak menyukainya. Ciumannya turun ke bawah. Meninggalkan jejaknya di ceruk leher putih nan halus milik istrinya itu. Tangan Jani terus meronta. Namun, tidak bisa. Tubuh atletis Arga yang tegap dan tinggi itu tak bisa digerakan oleh tangan mungil Jani. Ia hanya pasrah, hanya bisa menangis dalam gerayangan yang dilakukan oleh Arga kepadanya. Bra berwarna hitam itu dilepas begitu saja oleh Arga. Lalu menenggelamkan bibirnya di atas pucuk merah muda dan menikmatinya dengan penuh. “Eumph! Mas … hentikan!” lirih Jani sembari menitikan air matanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN