Biarkan saja

1230 Kata
Jani mengusap wajahnya kemudian menangis histeris. Ingin rasanya ia mengakhiri hidupnya saat ini juga. Memotong urat nadinya dan pergi untuk selamanya dari dunia ini. Namun, semuanya tak mudah seperti membalikan tangan. Ia tidak ingin mati konyol. Ada harapan yang belum tersampaikan. Masih berharap Rayhan kembali dan menolongnya. Waktu sudah menunjuk angka dua siang. Jani pamit kepada sang mama jika ia hendak pergi menemui teman-temannya di sebuah café. “Jani?” Maya memanggil menantunya yang sudah melangkah keluar. Namun, harus berhenti kembali setelah Maya memanggilnya. “Iya, Ma?” Maya menghela napasnya dengan panjang. “Apa yang telah Arga lakukan pada kamu? Mengapa wajahmu pucat sekali, Nak? Dia, telah melakukan itu lagi padamu?” Jani tersenyum lirih. “Bukankah dia sudah menjadi suamiku, Ma? Dia memang munafik. Pria paling munafik yang pernah aku kenal. Bilangnya tidak mau menikah denganku, tapi malah menikmati tubuhku.” Maya menghela napasnya. “Maaf, Jani. Sudah membawa kamu ke dalam masalah—” “Ma. Jika Mas Rayhan masih hidup dan dia kembali lagi padaku, jangan halangi aku untuk berpisah dengannya meski aku sedang hamil sekali pun. Karena aku yakin, Mas Rayhan akan menerima itu semua. Hanya dia, laki-laki baik yang aku kenal. Aku pamit, Ma. Teman-temanku sudah menunggu.” Satu minggu kemudian. Dreet! Dreeett! Ponselnya bergetar. Jani kemudian menoleh ke arah ponselnya dan melihat siapa yang tengah menghubunginya. “Ngapain ini orang telepon-telepon,” gumamnya dan terpaksa ia menerima panggilan dari suaminya itu. “Makalahku tertinggal di meja kerja. Tolong bawakan ke kantor sekarang. Dua jam lagi aku meeting.” Jani menghela napasnya dengan panjang. “Tunggu sebentar. Aku siap-siap dulu.” “Memangnya kamu belum bangun?” tanya Arga sedikit kesal. “Bagaimana aku bisa bangun sementara tubuhku rontok karena ulahmu!” sengalnya kemudian menutup panggilan tersebut. Jani lalu mengusap wajahnya dengan pelan seraya menghela napas panjang. “Bagaimana mungkin aku tidak hamil, sementara dia menyentuhnya setiap hari,” gumamnya lalu beranjak dari tempat tidur. Pernah sekali Jani meminum obat kontrasepsi yang ia beli setelah pulang dari café. Namun, Arga yang dulu memintanya meminum obat penggugur kandungan jika ia hamil, kini malah sebaliknya. Ia meminum obat pil KB malah dibuang dan dibakar. Serta melarangnya meminum obat itu. “Aku masih belum paham dengan sikap kamu, Arga. Sebenarnya kamu ini kenapa? Ditanya apakah kamu mencintaiku, malah tertawa.” Jani geleng-geleng kepala sembari mengenakan bajunya. “Mau ke mana, Nak?” tanya Maya yang tengah siap-siap mengunjungi butik miliknya. “Makalah Mas Arga ketinggalan. Aku diminta untuk membawakan ke sana.” “Oh, ya sudah. Mama juga mau ke butik. Kamu hati-hati, yaa.” Maya mengusap lengan menantunya itu kemudian mengulas senyumnya. Setibanya di kantor. Jani melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang pimpinan sang suami yang berada di lantai tiga puluh. “Hi, Mbak Jani. Apa kabar? Sudah lama sekali tidak pernah bertemu,” sapa salah satu staff di sana yang bertemu di lift. “Hi. Baik. Mbak apa kabar? Iya. Saya lebih sibuk urus butik Mama daripada pergi ke sini. Ini juga diminta Mas Arga saja, untuk membawakan makalahnya yang ketinggalan.” “Baik juga, Mbak. Oh, gitu. Tadi saya lihat ada Mbak Marisa datang ke sini. Kayak bawa makanan gitu. Udah seminggu ini dia sering banget ke sini. Kalau udah ke sini terus, biasanya Pak Arga jarang menemui dia.” Jani mengerutkan keningnya. “Tumben. Bukannya mereka tidak bisa untuk tidak bertemu meski satu hari pun?” “Itu makanya, Mbak. Makanya Mbak Marisa datang ke sini untuk menemui pacarnya.” Tyas mendekatkan wajahnya di depan telinga Jani. “Kayaknya habis itu, Mbak. Soalnya kata sekretarisnya Pak Arga, pintunya sering dikunci.” Jani mengatup bibirnya kemudian menghela napasnya dengan panjang. “Bukannya memang sudah kebiasaan mereka melakukan itu?” Tyas mengendikan bahunya. “Kurang tahu sih, hehe. Ya sudah, aku duluan ya, Mbak. Sudah sampai.” Tyas melambaikan tangannya kepada Jani setelah tiba di ruangannya. Jani menaikan kedua alisnya memikirkan ucapan Tyas tadi. “Kalau begitu, sekarang pun sedang bercinta?” ucapnya lalu menghela napas kasar. “Sebaiknya aku hubungi dia dulu. Jangan sampai aku melihat mereka sedang begitu.” Jani mengambil ponselnya lalu menghubungi Arga. “Jika memang mereka masih melakukan itu, kenapa harus minta juga padaku? Harusnya biarkan saja. Aku tidak sudi kamu sentuh, Arga!” ucapnya lalu menghela napasnya. “Kamu sudah di kantor?” tanyanya setelah menerima panggilan itu. “Aku sudah di depan ruanganmu. Sekretarismu tidak ada di sini.” “Langsung masuk saja. Yuli sedang di ruanganku.” Jani menaikan alisnya. Ia lalu menutup panggilan tersebut dan masuk ke dalam ruangan suaminya itu. “Selamat pagi, Bu,” sapa Yuli yang tengah menyiapkan beberapa dokumen di sana. “Pagi,” sapanya kemudian mengulas senyumnya. Ia lalu memberikan makalah tersebut kepada Arga. “Sudah kan, hanya itu saja?” tanyanya sembari menatap datar wajah Arga. Lelaki itu mengangguk. “Ya. Hanya ini saja. Terima kasih. Habis ini langsung pulang, jangan ke mana-mana!” Jani mengerutkan keningnya. ‘Baru kali ini dia mengucapkan terima kasih padaku. Atau karena ada di Yuli, di depannya? Bisa jadi karena itu.’ “Iya. Lagi pula aku memang tidak pernah pergi ke mana pun selain bertemu dengan teman-temanku. Dan mereka semua sudah memiliki keluarga masing-masing.” Arga mengangguk. Ia kemudian memberikan makalah tersebut kepada Yuli. “Jangan lupa nanti makalah ini dibawa. Project ini haru goal untuk menutupi kerugian project kemarin.” “Kenapa rugi? Keteledoran kamu lagi?” Arga menoleh kepada Jani seraya menatap datar wajah istrinya itu. “Bukan. Karena ulah kakak kamu yang sekarang kabur entah ke mana.” Jani menundukan kepalanya. Ia tahu, kakaknya memang selalu memanfaatkan kekayaan yang dimiliki oleh mertuanya. Matanya mengadah ke samping kamar pribadi milik suaminya itu. Marisa keluar dari sana sembari membenarkan rambutnya. “Oh! Ada mantan calon adik ipar. Halo!” ucap Marisa sembari mengulas senyum sombongnya. Jani tersenyum tipis. “Masih jam sepuluh, dan kamu sudah datang ke kantor calon suami kamu. Kamu tahu kan, alasan kenapa Mama tidak menyukai kamu? Karena terlalu murah!” Marisa lantas menghampiri perempuan itu dan menatapnya sengit. “Apa lo bilang? Murah?! Ada juga elo yang murah. Suami udah mati aja masih tinggal di rumah mertua. Suami elo nggak bakal kembali. Udah mati!” pekiknya lebih emosi. Jani meresponnya dengan senyum tipis di bibirnya. “Sudah ya, Mas. Aku pamit!” ucapnya lalu pergi dari ruangan itu. “Yul. Jangan lama-lama di sini. Ada yang gatel minta digaruk,” ucapnya kemudian menutup pintu itu dengan sangat kencang. Sehingga membuat ketiga orang di sana terperanjat kaget. “Arrggh! Makin ke sini dia makin berani! Mentang-mentang disayang mama dan papa kamu. Seenaknya ngomong kayak gitu ke aku.” Marisa kemudian menatap Arga yang sedari tadi hanya diam. “Mas. Kamu nggak ada niatan buat usir dia gak sih? Kenapa kamu juga nurut banget sama mama dan papa kamu. Dia itu udah orang asing di rumah kalian!” ucapnya marah. “Sudahlah, biarkan saja. Kalian memang tidak pernah akur. Kamu juga yang salah. Ngapain datang setiap hari ke sini? Aku ini lagi kerja, Marisa! Banyak kerjaan yang harus aku selesaikan.” Marisa membolakan matanya menatap marah wajah kekasihnya itu. “Kok kamu malah belain dia sih? Aku ini pacar kamu lho, Mas!” pekiknya kesal. Arga menghela napasnya dengan panjang. ‘Kamu tidak tahu saja, derajat dia jauh lebih tinggi dari kamu. Jani sudah menjadi istriku. Apa aku harus memberi tahu dia, jika aku dan Jani sudah menikah?’ ucapnya dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN