Aaron sedang memberi makan dua hamsternya yang berlari ke sana-kemari di kandang kecil.
Sambil menikmati rokok, Aaron terlihat tidak peduli dengan kegaduhan yang terjadi di dekatnya.
Suara desahan, obrolan, teriakan mengumpat, terdengar berbaur dengan musik memekakan telinga. Begitu pula bau alkohol, asap tembakau, dan rumput liar tercium samar di rumah perkumpulan.
Malam ini, di rumah perkumpulan, pesta kembali diadakan—pertanda penjualan g***a dan s**s massal juga sedang berlangsung.
"Menyenangkan seperti biasa," ucap Sandra, ketua pemandu sorak yang selalu mendekati Aaron di setiap pesta.
"Kau butuh ruang atau di sini?"
Gadis itu tersenyum lalu mengusap d**a Aaron dengan kedua tangannya. "Akan lebih senang jika denganmu."
"Kau belum cukup mabuk. You know that I like to f&*k crazy girl"
"Aku bisa minum lebih banyak lagi."
"s**t, you insane. Get off your f*&king hand and drink for me." Aaron menghisap batang rokoknya, mengabaikan Sandra yang membuat jarak mereka semakin dekat.
"Alright, anything for you, Babe." Sandra mencium pipi Aaron lalu menggigit bagian bawah telinga pemuda itu, dan segera pergi ke dalam.
Semua orang yang ada di pesta ini, pasti mengetahui bahwa Sandra itu sinting.
Yeah, sinting karena Aaron. Menganggap bahwa pemuda itu akan tidur dengannya jika dia mabuk, padahal Aaron tidak tertarik dengan Sandra.
"Kalian saja tidak mau tidur dengannya, 'kan?" tanya Aaron pada peliharaan kecilnya, hamster berbulu abu-abu.
Alright, ini aneh. Biasanya Aaron tidak pernah absen dalam hal bersenang-senang saat pesta, termasuk s**s.
God, dammit! Dia bahkan memiliki kamar VVIP dan tidak semua gadis bisa masuk ke sana. Namun, kali ini berbeda.
Aaron lebih memilih untuk bermain dengan dua hamster kecilnya ....
... atau mungkin berkomunikasi dengan mereka.
Tolol! Orang waras mana pun akan mengira bahwa Aaron teler, karena bertanya lalu menjawab sendiri.
Padahal dia tidak minum beer malam ini.
"Apa aku harus tidur dengannya atau ... mungkin membuatnya hamil?" tanya Aaron pada dua hamster yang sibuk makan kuaci.
"Wash your f*&king brain, i***t!" maki Aaron, sambil mengusap rambut perak kebanggannya lalu melihat ke arah kumpulan orang-orang yang sedang menari.
"Memerkosa gadis itu akan membuatnya marah besar. s**l! Bahkan ini lebih menarik."
Aaron semakin sinting. Dan menjadi lebih sinting saat ia menatap ke arah dua hamsternya, sambil mengernyit.
"Apa? Penjara katamu?" Aaron tertawa pelan, sembari mengeluarkan asap putih penuh zat aditif dari mulutnya. "Terlalu sering masuk penjara anak, tapi sekolah s****n itu masih mempertahankanku. Cuma masalah waktu, Babe."
"Hai, aku baru saja mendengar kau memanggil mereka dengan Babe," komentar seseorang yang tiba-tiba saja sudah duduk di pangkuan Aaron.
Lagi-lagi perempuan. Namun, dia bukan Sandra, melainkan gadis berambut merah yang tidak Aaron kenal.
"Peliharaanmu? Kuharap tidak. Kau tahu, itu bukan gayamu," ucap si merah, sambil memainkan jemarinya di d**a t*******g Aaron.
Aaron mengedikan bahu dan menarik tubuh si merah agar menempel dengannya.
Bibir penuh berpoles lipstik dengan piercing di bagian lidah, Aaron menyukai hal itu dan lagi si merah menyebarkan aroma vodka.
Favoritnya.
Aaron jadi ingin melakukan ciuman vodka saat ini juga.
"You wanna f*&k, Beb?" tanya Aaron, sembari mengusap punggung t*******g si merah.
Dress yang seksi dengan potongan punggung rendah dan juga d**a. Si merah ternyata tahu cara menggoda Aaron, padahal Aaron tidak mengenalnya.
"Let make it out, in your bed." Si merah melingkarkan tangannya di leher Aaron, sebelum membiarkan Aaron merebut gelas vodkanya dan meminum cairan tersebut hingga kandas.
... dan sebuah ciuman panas terjadi. Sudut bibir mereka meneteskan vodka saat keduanya saling bertukar vodka dalam ciuman.
Namun, tidak berlangsung lama saat Aaron meneguk vodka terakhir dari si merah.
"Aku masokis dan kau payah. s**t! Take off your f*&king dress and f*&k them," bisik Aaron, setelah melepaskan hal panas tersebut lalu pergi meninggalkan si merah.
"What the hell, Aaron!?" seru gadis itu di antara lantunan musik Look Alive milik Drake. Namun, hanya mendapat balasan jari tengah dari Aaron.
Seriously?! What's going on, Aaron? Bahkan dewi batin Aaron meronta-ronta saat ia masuk ke ruang tengah—mencari kunci.
"Let's make it out in your bed." Aaron mengambil kunci mobilnya lalu segera meninggalkan rumah perkumpulan tanpa peduli, bahwa sekarang ia hanya mengenakan celana jeans—memamerkan d**a dan perut sixpack-nya.
Sial! Aaron seolah ingin menggoda seseorang dengan tubuh indah itu—melakukan perbuatan dosa, terhadap seorang gadis yang mungkin sekarang sedang bermimpi indah.
***
Seharusnya suhu udara saat ini akan membuat pori-pori kulit Aaron mengerut.
Seharusnya petugas keamanan menangkap Aaron atas tuduhan praduga melakukan itu di tempat umum.
... dan seharusnya Aaron tidak menyelinap masuk ke kamar seorang gadis melalui jendela di lantai dua, setelah melihat siluet seksi.
Ini bukan salah Aaron, tetapi salah Maddie yang memamerkan latihan memukul dan menendang, dalam bentuk siluet di dalam kamar—lampu dan gorden jendela s****n itu terlihat begitu menyenangkan, daripada apa pun.
Dan sekarang, Aaron duduk di kursi belajar Maddie—menunggu gadis itu kembali dengan menggunakan baju tidur.
Well, tidak sopan, menyelinap ke kamar gadis saat dia pergi ke toilet. Dan begitulah Aaron, semakin menantang, semakin dia b*******h.
Aaron bahkan berharap Maddie mengenakan lingiere.
"Finally you coming, Babe." Aaron menyeringai saat pintu kamar terbuka, menampilkan seorang gadis di depan cahaya temaram dari luar kamar—dalam keadaan terkejut.
"Aku pikir itu lingiere," ucap Aaron lagi.
"Kau, dammit."
"Aku tahu kau ingin, tapi—"
"What? No, get off me! Kau pikir aku senang?" Maddie segera melayangkan pukulannya, dia bertekad untung mematahkan rahang pemuda itu.
"Hei." Buru-buru Aaron menahan pukulan Maddie dan mendekatkan jarak mereka. "Kau mau bikin keributan di sini? Fine."
"F*&k you!"
"I'd like too, Maddie."
Aaron segera menutup pintu kamar Maddie—berusaha meminimalkan volume suara agar tidak ada siapa pun yang terbangun.
"Cara gaduh boleh juga." Aaron segera mendorong tubuh Maddie hingga membentur pintu.
Maddie memberontak, lalu tanpa pikir panjang menendang tulang kering Aaron kuat-kuat.
Bukan begini caranya. Aaron benar-benar merendahkan Maddie dan dia tidak terima itu.
Bagaimana pun Maddie yakin akan menyelesaikan ini sendirian. "Kau lebih lemah darinya!"
Bugh!
Pukulan telak di rahang Aaron berhasil diberikan Maddie.
"F*&k, it's better right?"
"You insane, Aaron."
Aaron tertawa pelan saat mendengar pernyataan Maddie. Itu fakta dan Aaron memang tidak pernah waras.
Namun, ekspresi Maddie tidak seperti biasanya.
Dia ... berbeda. Seperti ada yang disembunyikan dan Aaron tidak nyaman.
"What do you want? Kau pikir aku takut padamu bahkan setelah—"
"F*&k. I wanna f*&k you. Kenapa berlagak lemah kalau bisa melawan?" Aaron berdiri tepat di hadapan Maddie, sembari mematahkan leher ke kanan dan kiri.
Pukulan yang kuat, tapi tidak seperti kemarin. Itu yang dipikirkan Aaron dan dia jadi semakin penasaran.
"Aku akan membunuhmu jika tetap berada di sini," ancam Maddie.
Namun, Aaron hanya mengedikan bahu. "Silakan."
Sial!
Maddie menggeretakkan giginya lalu tanpa aba-aba melayangkan tendangan.
Tentu saja Aaron menghalau dan kedua bola matanya melebar. "Kau serius? s**t, that's what I want to."
Brengsek! Aaron malah tampak menikmatinya karena sekarang ia malah tertawa dan melangkah semakin mendekat.
"You are the sweetes b***h. Fight me before we make it out in your bed."
Seketika, di antara minimnya cahaya lampu, Aaron jadi tampak begitu menyeramkan.
Bahkan lebih menyeramkan dari sekadar label bad boy yang dia sandang di sekolah.
Psycho. Pikir Maddie. Dia gemetaran. Kekuatannya seketika menghilang.
Bayangan yang selalu Maddie tepis kembali terlintas. Lidahnya bahkan menjadi kelu dan ....
... Maddie terduduk. Merapat pada pintu, memeluk tubuhnya erat-erat.
"Hei, what's wrong?" Lagi-lagi Aaron melihat Maddie yang sinting.
Memperlihatkan sikap rapuh sangat tidak cocok untuk Maddie.
... dan Aaron tidak akan tersentuh. Dia hanya heran.
Shit! Aaron ingin Maddie yang suka memukul seperti biasa.
Apa Aaron harus melakukan hal itu kepada orang lain agar Maddie ingin masuk ke dalam permainan ini? Tidak, Aaron cukup bosan dengan permainan yang sama. Namun, bagaimana jika lawannya ini malah menampilkan ekspresi seperti demikian?
Aaron memukul pintu kuat-kuat sebagai pelampiasan amarahnya dan berhasil membuat ayah tiri Maddie, menanyakan apa yang sedang dilakukan anak gadisnya. Namun, tidak ada jawaban sehingga hal menegangkan HAMPIR terjadi.
"Hanya latihan bela diri sebelum tidur, dad."
Maddie jelas berbohong.
Aaron semakin kesal. Maksudnya, bukankah ini akan lebih menyenangkan jika mereka terlibat dengan orang dewasa atau ... polisi? Namun, Maddie malah merusaknya.
Brengsek! Pikir Aaron.
Setelah yakin bahwa ayah tiri Maddie meninggalkan kamar, Aaron memutuskan untuk menyalakan lampu dan duduk di kursi belajar Maddie.
"Membosankan," ucap Aaron, sambil mengambil jaket Maddie yang kebetulan berukuran besar dan pas untuknya.
Seriousity killed the cat.
Seketika ucapan Jack terlintas di kepala Aaron. Hal kecil yang membuat pemuda itu mengarahkan tinjuan ke atas meja.
"Damn!" bisik Aaron pada dirinya sendiri.
Bagaimana bisa Aaron jadi kucing dan Maddie pisaunya?!
Aaron tidak terima itu.
"Hei, bisa kau hentikan ekspresi s****n itu?" tanya Aaron, berusaha meredam emosinya.
Maddie tidak bereaksi. Aaron kembali mengumpat.
"Aku ingin bicara, tapi tidak di sini. Kau bisa minum segelas air sebelum pergi. Lakukan sebelum aku menyeretmu." Nada suara Aaron terdengar seolah tidak pedulinya, padahal dia ....
"Aku tidak suka lawan yang seketika melemah. Like a looser d!ck."
"Lima belas menit," ucap Maddie dengan nada pelan tak seperti biasanya.
Aaron memiringkan bibir beberapa detik—pertanda bahwa ia menolak.
"Lima menit dimulai dari sekarang," titah Aaron dan langsung membuat Maddie pergi meninggalkan pemuda itu.
Aaron tidak tahu apa yang direncanakan Maddie dan begitu pula sebaliknya.
Tapi semoga tidak ada perang malam ini.
"Kidnapper and the sexies girl, Maddie Ave," bisik Aaron saat gadis itu menutup pintu kamarnya.